KARANTINA VIRUS CORONA


[pic: regisuniversity]

World Health Organization (WHO) telah menyatakan Covid-19 sebagai pendemi. Artinya, virus tersebut diakui telah merebak ke seluruh dunia - kecuali Benua Antartika. Covid-19 adalah nama resmi untuk virus corona jenis baru yang menghebohkan dunia akhir-akhir ini. Semakin heboh karena persebaran virus itu diikuti persebaran berita yang viral: cepat merebak seperti virus. Lebih dari empat ribu penderita dinyatakan meninggal, meskipun jauh lebih banyak pengidap Covid-19 yg dinyatakan sembuh. Meski demikian, kengerian dan kepanikan menjalar di seluruh dunia. Sialnya, pendemi virus mempengaruhi berbagai sendi kehidupan, termasuk ekonomi dan politik, bahkan religiositas.

Virus jenis corona ternyata memiliki ragam varian. Setidaknya telah diketahui 6 jenis. Covid-19 adalah jenis ketujuh. Karena jenis baru, belum dapat lekas dibuat serum penawarnya. Sebelum diberi nama Covid-19, jenis virus ini disebut SARS-CoV-2. Dua jenis virus corona yang lebih dulu kita kenal adalah yaitu SARS (Severe Accute Respiratory Syndrome) atau disebut SARS-CoV, yang mewabah di akhir 2002; dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) atau disebut MERS-CoV, yang mewabah di tahun 2017. Virus jenis corona mematikan karena menyerang sistem pernafasan bawah. Virus corona merupakan virus jenis zoonotic, artinya ditularkan dari binatang ke manusia. Memang kemudian menjadi mewabah luas karena ditularkan antarmanusia.  

Lantas, salah satu solusi pencegahan adalah dengan cara mengkarantina orang-orang yang diduga mengidap Covid-19. Namun apakah solusi ini efektif? Menurut 
Alanna Shaikh: tidak! Alanna Shaikh adalah seorang pakar sistem kesehatan dunia yang telah meneliti virus corona sejak lama. Mengapa karantina tidak selalu efektif? Salah satunya adalah karena gejala virus itu rata-rata sulit ditengarai hingga 24 hari. Bisa saja orang terjangkit Covid-19 dan tak menyadari gejalanya, lalu selama 23 hari telah berjumpa banyak orang dan tak sengaja menularkannya. Selain alasan bahwa manusia adalah 'binatang' sosial yang merasa terkucilkan ketika dikarantina. Dalam sejarah pendemi virus, telah dibuktikan bahwa karena takut dikarantina, banyak orang justru tidak mau mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Di sinilah kita menjumpai bahwa penjangkitan virus dipengaruhi oleh sifat sosial manusia. 

Shaikh menyatakan bahwa salah satu penyebab muncul dan mewabahnya virus-virus mematikan itu adalah perubahan iklim yang ekstrem, yang menjadikan virus dan bakteri berbahaya memiliki tempat yang nyaman. Ia mengatakan, pasar hewan ilegal di Wuhan memang patut dicurigai sebagai penyebab penularan virus corona. Kelelawar adalah tersangka utamanya. Namun mengapa hewan itu sampai perlu menularkan virus corona? Karena ia tak lagi hidup di habitat aslinya: hutan! Tiongkok yang telah menjelma negara raksasa memang dikagumi oleh dunia. Namun salah satu "korbannya" adalah hutan di Tiongkok yang semakin menipis. Hewan-hewan liar yang mulai kehilangan habitat semakin dekat dengan habitat manusia, terlebih karena diperjualbelikan dengan bebas. Belakangan kita ketahui bahwa ternyata bisnis jual-beli hewan itu bernilai trilyunan dolar. Bisnis itu pun akhirnya dilarang oleh pemerintah Tiongkok.  Shaikh mengatakan, jika hutan-hutan makin berkurang, maka kemungkinan mewabahnya virus-virus zoonotic lain juga besar. Dengan kata lain, yang perlu "dikarantina" adalah hewan-hewan yang berpotensi menularkan virus corona, dengan cara membiarkan mereka hidup di habitat alami. 

Namun Covid-19 telah mendunia. Kita bisa apa? Selain hidup sehat, Shaikh menyarankan kita untuk hidup higienis dengan cara mencuci tangan sebersih dan sesering mungkin. Terutama setelah kita berada di keramaian tempat-tempat publik. Juga agar kita hati-hati ketika menyentuh wajah, mengucek mata, mulut, dan hidung. Pastikan tangan kita bersih. Apakah masker membantu? Tidak terlalu. Covid-19 menular melalui droplet (cipratan) jarak dekat dan bukan airborne (menular lewat udara). Masker hanya efektif jika digunakan oleh orang-orang yang sakit dan tenaga medis untuk melindungi diri. 

Bagi orang yang sehat, masker tidak terlalu berguna. Shaikh menegaskan agar kita memastikan ketersediaan masker-masker itu di toko. Orang-orang sakit dan tenaga medis jauh lebih membutuhkannya. Jadi, kalo ada pihak-pihak yang panik lalu memborong masker, apalagi yang sengaja memanfaatkan situasi itu demi menjual masker dengan harga mahal, itu keterlaluan. Jangan-jangan kepanikan dan keserakahan itulah yang perlu dikarantina. hehe...

--

Komentar