Eling lan Waspadha

Ada tafsiran menarik yang menjadi bahan persekutuan bulan keluarga di tahun ini. Di dalam Kitab Keluaran, bangsa Israel diperintahkan untuk mempersiapkan diri dengan menyembelih domba dan disantap bersama di tengah keluarga sebagai perayaan kemerdekaan. Mereka akan keluar dari Mesir menuju suatu tempat entah di mana itu. Mereka akan meninggalkan budaya di Mesir dan berjumpa dengan berbagai budaya baru di luar sana. Perjumpaan dengan budaya baru di luar tembok Mesir inilah yang harus diwaspadai.

Perjumpaan bangsa Israel dengan beragam budaya baru ini ditafsirkan sebagai perjumpaan umat manusia dengan internet. Saat ini kita sedang meninggalkan “Mesir”, dunia tradisional, menuju dunia digital. Internet adalah jaringan yang menghubungkan antar manusia dalam dunia yang lain. Dunia internet ibarat padang gurun dengan bangsa-bangsa asing yang liar. Meminjam istilah Harrari, saat ini internet telah mendomestikkan manusia. Bekerja, sekolah, belanja, tamasya, bahkan sampai beribadah, kelak bisa dilakukan cukup di dalam rumah saja. Sementara tubuh kita berdiam di kamar, jiwa kita melayang-layang ke penjuru padang gurun dunia maya yang liar.
Di tengah ketidak teraturan budaya asing yang dijumpai bangsa Israel, Tuhan mengajarkan akan adanya keteraturan. Tiang api dan tiang awan bergantian berjaga sebagai tanda waktu bagi bangsa Israel. Peringatan setiap tahun akan Paskah menjadikan bangsa Israel menghayati siapa pemberi kemerdekaan setiap tahunnya. Perintah mengingat dan menguduskan hari Sabat menjadikan bangsa Israel setiap hari ke-7 mengingat dan menyembah Sang Pencipta.
Di tengah ketidak teraturan budaya internet yang kita rasakan saat ini, selalu saja ada yang mengirimkan renungan singkat atau gambar-gambar “rohani” setiap pagi melalui media sosial. Meskipun kadang terlewat untuk dibaca dan disimak, tapi paling tidak inilah tanda pengingat kita dari Sang Pencipta agar tetap sadhar diri dan berjaga. Eling lan waspadha.

Komentar