perang kembang


dalam lakon pewayangan apa pun, selalu ada adegan "perang kembang" yakni perang yang harus dilewati oleh seorang 'bangbang' [diucapkan sebagai bambang] atau anak muda harapan keluarga [wangsa--> bangsa], untuk mendapatkan legitimasi atas keunggulannya di antara sesamanya. 

dalam perang itu ia harus bisa mengalahkan musuh yang dinamai begitu saja oleh orang jawa sebagai "buta cakil". seorang "ditya" yang yang ulahnya pating pethakil atau banyak gerak tanpa tujuan.
adegan itu akan dimenangkan oleh si 'bangbang' yang pembawaannya tenang, yang mengalahkan cakil dengan memakai senjata cakil sendiri.

setelahnya, si bangbang akan mendapat pelajaran budi pekerti dan pelajaran-pelajaran spiritual lain dari redaktur kitab-kitab kebijaksanaan yang dipersonifikasikan sebagai vyasa [diucapkan orang jawa sebagai baghawan abiyasa].
dan kemudian bangbang akan menjadi ksatria a-ditya [yg mengalahkan ditya] yang jadi pemimpin keluarga.

menjadi pemimpin itu butuh legitimasi.
setelah ia dipilih oleh kebanyakan anggota keluarga, maka ia harus memperlihatkan bahwa ia memang unggul dari yang lainnya [primus inter pares]. untuk memperlihatkan itu di masa tanpa perang, adalah mementaskan ritus "perang kembang". perang yang sebenarnya bukan perang beneran. ini perang simbolik namun harus terlihat meyakinkan sebab disaksikan banyak orang.

dulu hamengku buwana II ketika masih remaja, dipaksa oleh ayahanda untuk berlatih menemukan cincin kerajaan yang dilempar ke dalam tempuran sungai. ia harus bisa menemukannya sebelum matahari terbit keesokan harinya.
hamengku buwana I tidak ingin anaknya manja dan hanya tinggal menikmati kejayaan warisan ayahandanya saja.

dalam situasi ketika kepemimpinan bangsa sedang butuh pemantapan, maka pementasan perang kembang itu mutlak perlu. ini ritus, dan ritus itu seperti rekreasi, penciptaan ulang dunia.

Komentar