TAMU PAGI INI

Purwantoro, 24 April 2019

Rumahku ada di belakang gereja, sekalipun di pojok terminal bus, kalau tidak diperhatikan dengan seksama atau bertanya-tanya, banyak yang tetap saja kesulitan mencarinya. Tetapi bila memang sudah rejeki, tak akan lari kemana.  Pagi tadi, datang seseorang naik motor, yamaha R15, anjingku ribut menyalak, membuatku keluar. Aku tak ada kenalan dengan motor seperti itu, eh dengan gaya sok kenal sok akrab langsung bersapa, “Selamat pagi Pak Pendeta!”.

Kupersilakan duduk. To the poin ia memperkenalkan diri, malah langsung menyodorkan e-ktp-nya. Lalu cerita, minta tolong, motornya rusak, uang yang dibawa terbatas.  Lha, minta tolong gir-set rantai motor kok padaku? Mengapa tidak ke bengkel? Sudah ke bengkel resmi katanya, kesulitannya, dana yang tidak ada.

*
Aku belum pernah pakai Yamaha R15, dan sama sekali tidak berminat juga untuk mencoba.  Motor sport dengan posisi pengendara yang membungkuk sama sekali bukan seleraku.  Sesudah menyuguhkan minum dan ada pisang goreng di meja, aku periksa motornya.  Gila, posisi setelan rantai sudah maximal, tak bisa lebih kencang lagi. Tapi rantai kendor. dipotong 2-3 mata saja bisa. Masalahnya saat roda diputar rantai juga sudah kendor-kenceng, sekalipun tampak baru diberi oli, bekas karat tanda rantai tak pernah dirawat.

Kebetulan tipe rantai sama dengan motorku, dan aku selalu menyimpan persediaan rantai  baru di rumah. Karena kutawari makan tidak mau, iya sudah “Mari ke bengkel”.

*
Rantai baru dipasang menggantikan rantainya yang hihihi, butuh potong beberapa mata. Selesailah sudah. Tamuku pamit.  Dengan ucapan terima kasih, berkali-kali, dan doa, “Tuhan memberkati, Tuhan memberkati”.  Hihihi, ia ngaku pendeta dari barat Yogya. Itu motor anaknya, dipakai touring, eh mogok  oli mesin kurang sehingga piston macet di jalan terus ditinggal. Diambil bapaknya.  Anak polah memang bapak kepradah, kata peribahasa. Tapi kalau pikirku, salah bapaknya tidak ngajari anak  bertanggungjawab merawat motornya.  Nyusahin orang lain saja.

Sesudah tamu tadi pergi, aku bersyukur sudah diberi kesempatan berbuat baik. Tapi tetap merasa janggal. Motor yang dipakainya seharga 10x lipat dari motor yang kunaiki sehari-hari ke sana ke mari. Tadi ia ngomong bla bla bla bla untuk nanti bisa membayar ongkos dan spare part agar motornya bisa dibawa balik pulang, tapi sampai pamitan sama sekali tidak minta no telepon atau kontakku, bahkan namaku lengkap sudah pasti ia juga tidak tahu, “Pak Pendeta, Pak Pendeta....” Itu terus sapanya padaku sok kenal sok akrab.  Doaku, selamat sampai tujuan ya Pak! Lain kali bawalah bekal yang cukup, bukan hanya bekal doa dan nekad.


-Pemulung Cerita-

Komentar