NOBLESSE OBLIGE

Purwantoro, 25 April 2019

Istilah noblesse oblige muncul saat revolusi Perancis. Tuntutan kepada para bangsawan dan para klerus gereja yang hanya mementingkan kehormatan diri tanpa peduli pada kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat tak terbendung berujung kepada revolusi Perancis, 1789. Hubungan masyarakat satu sama lain yang berbuah tradisi feodalisme (kerajaan maupun lembaga agama) didobrak digantikan kesetaraan (egality), persaudaraan (fraternity), dan kemerdekaan (liberty).  Secara sederhana, noblesse oblige berarti kewajiban seorang yang memegang status sosial lebih tinggi, entah sebagai pejabat, pemimpin, pemuka (agama) dan apapun kedudukan terhormat, untuk memenuhi kewajiban sosial yang terkait dengan kewenangan dan tanggungjawabnya.  Mereka telah menerima lebih, karena itu juga harus memberi lebih dari sekedar orang biasa.

Keramahan, sikap rendah hati, belas kasih, kedermawanan, keteladanan, kesederhanaan, dan solidaritas kepada yang miskin orang kecil dan tertindas menjadi  nilai-nilai keutamaan dalam noblesse oblige. “Kau sudah diberi banyak, fasilitas, dukungan, kepercayaan, dengan status jabatan, kuasa,  dan kewenangan yang sudah dimandatkan kepadamu. Karena itu, balaslah dengan noblesse oblige, keutamaan hidupmu, untuk menjadi berkat dan jalan kesejahteraan bagi orang lain.

Aku selalu sewot dengan orang yang sok karena kedudukannya, apalagi sampai menyalahgunakan untuk kepentingan pribadinya.  Pernah, di antrian dokter, sudah sangat jelas orang masuk berdasar nomor urut antriannya. Eh, ada seorang tokoh yang kukenal dan mengenalku, bawa anaknya langsung bisik-bisik ke perawat yang tak berdaya menolak mengingat status dan jabatan orang yang dihadapinya, langsung masuk ke kamar praktek begitu pasien yang di dalam keluar. Aku sampai sembunyi, sangat malu kalau ia keluar nanti tahu aku ada di antrian yang ia serobot, malu pada orang-orang sekelilingku yang juga antri kalau mereka tahu bahwa ia mengenalku, mau kubilang apa dan kubela bagaimana perampokan urutan yang sangat jelas seperti itu. Padahal jelas, situasi anaknya bukanlah keadaan darurat. 

Revolusi mental bagi rakyat Indonesia menurutku adalah people power, menghadapi kalangan atas yang sama sekali tidak paham nalar noblesse oblige, dengan tetap minta diistimewakan. Padahal ukuran  yang dipakaikan ke orang lain itu juga yang akan berbalik dipakaikan kepada dirinya. Saat masih menjabat dan berkuasa bisa jadi orang takut dan segan, tapi saat sudah turun dari jabatan, semoga tidak ada sindrom post-power mendapati betapa orang tidak lagi mengistimewakan dan menghormati dirinya.

Bila selama ini kepada orang kecil miskin dan rendah dinasihatkan dua kata sakti, “Pasrah, Nrima”.  Mengapa tidak dibalikkan sekarang orang kecil miskin dan rendah yang berseru nyaring serempak kepada mereka yang sudah punya harta benda kedudukan dan kuasa tetapi tetap rakus mengumpulkan dan merampas tidak memberi kesempatan orang kecil untuk ikut menikmati remah-remah tercecer yang bisa dipunguti? Yang harus dan lebih memerlukan nasihat “PASRAH” dan “NRIMA” adalah orang yang dengan segala cara tetap berusaha mendapat lebih dan mengumpulkan bagi dirinya. Kerakusan yang tamak hanya bisa dihentikan dengan kata “CUKUP”, dan pasrah lan nrima berarti mengakui bahwa yang sekarang diberikan memang sudah cukup, bahkan berlebih dalam kelimpahan.  Adalah mengingkari nalar ketika nasihat “pasrah” dan “nrima” malah ditujukan untuk membungkam keluhan orang kecil, miskin dan rendah berhadapan dengan ketidakadilan dan kekurangan.  Seharusnyalah  kata “pasrah” dan “nrima” menjadi protes yang diteriakkan dengan gempita kepada kaum yang berpunya dan berkuasa, tetapi masih sibuk menggalang dunia bagi dirinya.

Lima tahun mendatang, aku bersyukur revolusi mental ini masih akan dipanggungkan, dengan noblesse oblige yang diwujudkan, jauh dari pencitraan, dalam kesederhanaan dan kebaikan hati yang lembut, yang pernah membuat ayahku begitu berbahagia bisa berfoto bersamanya saat masih menjabat walikota di Solo.


-Pemulung Cerita-

Komentar