Menemukan Jejak Kaki Tuhan di Atas Tahta Kerajaan Maut



Jumat Agung adalah puncak dari kisah sapta duka Bunda Maria. Kisah yang dimulai sejak Sang Putra baru berusia delapan hari. Saat itu Simeon berkata pada seorang ibu yang hendak menyerahkan putera terkasihnya di Bait Allah. "...dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri ", kata Simeon.

Rupanya pedang itu tidak hanya sekali menembus jiwa Maria. Si Kecil mesti dilarikan ke Mesir karena ancaman pembunuhan dari si raja bengis, Herodes. Ketika banyak keluarga berbahagia karena perayaan Paskah, Maria harus kehilangan Kanak-Kanak Yesus di Bait Allah.

Tusukan pedang dukacita belum juga berakhir. Bahkan terasa lebih menyaktkan. Hati ibu mana yang mampu menatap derita putera terkasih ketika menempuh via dolorosa? Itulah saat Maria bertemu Yesus di jalan menuju bukit Kalvari. Derai air mata duka seolah tidak mau berhenti mengalir dari ujung kelopak matanya. Apalagi ibu itu harus menyaksikan kematian puteranya di atas kayu salib. Kayu laknat yang kejam. Karena tubuh yang sudah tergolek itu masih menerima tikaman tombak di lambungnya. Hati ibu mana yang tidak teriris-iris manakala harus menyaksikan peristiwa penuh nestapa itu?

Lukisan Pieta, dengan teliti bercerita tanpa kata ketika Bunda Maria memangku jenazah sang putera terkasih. Jenazah yang kemudian diserahkan ke dalam rahim Ibu Pertiwi. Lengkap sudah sapta duka Maria.
Lantas, berakhirkah kisah Jumat Agung itu? Belum. Karena kisah Jumat Agung berganti dengan narasi Sabtu Sunyi. Narasi tentang ruang antara, ruang tanpa kata. Hanya keheningan sejati tingga tetap dalam narasi Sabtu Sunyi. Narasi yang sejatinya menjadi puncak keagungan hari penyaliban dan kematian Tuhan. Hari-hari saat dunia kehilangan Sang Sabda. Ketika dunia tanpa Tubuh Kristus yang dipecahkan. Itulah mengapa Jumat Agung menjadi perayaan iman tanpa Ekaristi, dan Sabtu Sunyi benar-benar menjadi keheningan paling sepi.

Menariknya, ketika dunia kehilangan Sabda dan Raga Ilahi, kerajaan maut tengah kalang kabut. Sabda Kehidupan Kekal itu ternyata turun ke dunia orang mati hingga tahta kerajaan maut diinjak Tuhan. Kesunyian pun tidak berlangsung mencekam karena ada jejak telapak kaki Tuhan yang bisa ditemukan di atas tahta kerajaan maut.

Dengan menemukan jejak kaki itu di ruang tanpa kata, maka wajah dewa maut pun tak lagi menyeramkan. Ibarat naga Kaliya yang kehilangan bisa karena ada telapak Dewa Krisna di atas lima kepalanya. Naga yang semula menebar kematian itu menjadi alas tarian kegembiraan Krisna.

Narasi Jumat Agung hingga Sabtu Sunyi yang tanpa kata pun menjadi bermakna manakala kita mampu melihat jejak kaki Tuhan. Seperti umat Buddha yang bergembira menemukan telapak kaki Buddha. Tanda kehadiran Sang Buddha yang mengajarkan dharma yang terus menyebar hingga semua makhluk terbebas dari dukkha.

Dengan menemukan jejak kaki di atas tahta kerajaan maut, kita pun mendapat karunia bisa memastikan perjalanan terus berlanjut tanpa rasa takut berhadapan dengan maut. Kurang lebihnya sama dengan seruan Juru Mazmur: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."

Lembah kekelaman bukanlah perhentian terakhir. ‎Bahwa perjalanan kita juga tidak berhenti di ruang tanpa kata. Pasalnya, keheningan itu pada akhirnya pecah bersamaan dengan puncak Tri Hari Suci Paskah.‎ Saat fajar di ufuk Timur itu mulai merekah.

»kakintun kinanthi sembah bekti dumugeng megatruh«

Komentar