LANJUTAN CERITA TAMU KEMARIN

Purwantoro, 25 April 2019

Sesudah cerita tentang tamu yang aku bantu ganti rantai motornya kubagi di group kawan-kawan pendeta, kudapat tanggapan dan diskusi yang menyusulinya. Bagiku, mengamini seorang kawan pendeta yang dosen teologi dari Jakarta, bisa berbuat baik itu adalah rahmat dari sorga. Tetapi, ada kelanjutan ceritanya,  apakah bisa ditipu orang lain itu adalah rahmat dari kehidupan dunia?

Aku tidak cerita tentang warna motor, eh kok ada yang menanya apakah warna motor tamuku dan ciri-cirinya benar seperti itu? Hihihi, hanya itu jawabku di group, tapi kususul dengan japri, apakah ia juga pernah didatangi? Ternyata sebulan lalu ia didatangi, kemungkinan orang yang sama, juga dengan permintaan tolong untuk biaya bengkel motornya. Saat bilang tidak punya uang malah marah.

Kawanku memang jauh lebih sabar. Beda denganku yang minggu lalu malah  menyatakan kemarahanku karena ada orang yang tidak percaya saat kujawab bahwa uang di dompetku kurang dari 50 ribu, padahal yang ditawarkan harganya 100 ribu. Kawanku masih sabar menanya bengkelnya mana, nanti akan dibantu, eh tamunya tidak bisa menjawab atau tidak mau memberi tahu, malah mbulet, dan pergi pamit dengan tidak enak. 

Aku ingat kemarin ia cerita anaknya yang touring setelah selesai ujian SMA, dengan bangga ia cerita cita-cita anaknya mau masuk kesuatu  universitas swasta di Yogya.  Wuih, aku saja mikir-mikir kalau harus menyekolahkan anakku di sana, biaya per semester di samping biaya bulanan yang harus dibayar  butuh disiapkan dengan seksama.  Aku ingat juga saat di bengkel ia tanya, apakah mekanik yang mengerjakan penggantian rantai motornya itu jemaat, aku mbatin, lha apa urusannya? Tetapi saat garapan selesai dan motor sudah lancar dicoba, eh kok ia langsung pamit tanpa menanya sekalipun hanya basa-basi berapa ongkos tenaga,  kecuali ucapan “Terima kasih, Tuhan memberkati”, bersalaman, dan berlalu pergi, aku memang jadi mikir, “Lha kok aku malahan yang harus menanyakan kewajibannya ke bengkel?”

Apa aku salah beranggapan bahwa aku telah kena tipu orang yang memang suka minta-minta  dan memanfaatkan kebaikan orang lain? Yang kulakukan sudah benar, rantai motor orang tersebut memang harus diganti, aku menolong dengan memberinya rantai dan mengantarnya ke bengkel untuk memasangnya.  Kurasa ketulusanku saat menyuguhkan minum, pisang goreng, menawari sarapan, memeriksa rantai, mengecek di google berapa panjang rantai untuk memastikan rantai persediaanku bisa dipakai di motornya sudah berdaya mencegahnya untuk minta lebih lagi. Tapi ekspresi nya saat minta tolong, menyodorkan KTP, mengeluarkan uang 150-an ribu dan pecahan lain dari dompetnya memang terlalu profesional.  Kenapa kemarin sekalipun sudah kuangan tidak kutanyakan ya, “Lha apa dana di ATM atau credit-card juga sudah habis?”

Aku pernah hendak ke Yogya, bensin di tangki sudah reserve di Wonogiri, karena persediaan bensin cadanganku 3 liter jadi aku terus saja sampai di Karangdawa baru berbelok ke SPBU, eh, rogoh-rogoh celana dan cari di saku jaket kok dompet tidak ada, ketinggalan di rumah. Jadilah mampir ke rumah seorang kawan, sambil cengingisan, prengas-prenges,  minta uang buat beli bensin (terima kasih ya, tidak akan pernah kulupakan!). Kelalaian memang bisa setiap saat terjadi. Tetapi rantai motor sampai kondisi seperti itu bukanlah kelalaian, melainkan kesengajaan.

Aku masih berjuang dengan diri sendiri, tak ingin mencemari ketulusan dengan perasaan konyol karena telah dibodohi. Tetapi menuliskan lanjutan cerita ini, kembali lagi terbayang motornya yang harganya 10x lipat motor yang kupakai, dan percaya dirinya memperkenalkan diri sebagai pendeta, hamba Tuhan, dan memanfaatkan kebaikan hati orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri.  Bila tiap orang akan menuai apa yang ditanam, hasil apakah yang akan dituainya kelak? Bukan urusanku. Urusanku adalah menaburkan kebaikan, sebisa mungkin, selagi kita belum lelah. Nah, aku belum lelah, dan tidak merasa kalah.


-Pemulung Cerita-

Komentar