KEBUTUHAN AKAN JAMINAN KEPASTIAN

Purwantoro, 26 April 2019

Hitung cepat dalam pemilu merupakan metoda statistik yang dalam sejarah pemilu Indonesia sejak tahun 2004 sudah terbukti bisa menjadi rujukan akan hasil perhitungan resmi dengan segala persyaratan administratif yang membutuhkan waktu lama baru bisa diumumkan. Meski hitung cepat dapat diandalkan, namun kepastian siapa pemenang pemilu ada di tangan KPU.

Seorang petani yang menanam dan memelihara tanaman di kebunnya membangun pengharapan akan memanen hasilnya. Akan tetapi kepastian apakah hasil panennya sesuai dengan harapannya tidak ada dalam kewenangan dan kuasanya. Faktor cuaca, ketersediaan air, hama penyakit tanaman dan gangguan lain bisa saja terjadi menggagalkan kerja kerasnya. Keraguan karena tidak bisa memastikan hasil itu membawa petani untuk berserah, mohon kepada Yang Kuasa mengecat buah cabe menjadi berwarna merah saat sudah masak buahnya.

*
Berserah adalah tindakan iman, yang diiring dengan kerja keras menyiapkan lahan, menyemai benih, menyiram, menyiangi, memupuk, dan memelihara sampai waktunya tanaman berbuah dan siap panen. Berdoa adalah tindakan iman, menyadari keterbatasan diri menghadapi ketidakpastian di hadapan. Dan tindakan iman itu menjadi kekuatan yang mendorong umat beriman untuk bekerja, berharap, dan berserah.

Menerima kenyataan yang tidak sama dengan harapan adalah pengalaman menyakitkan sampai akhirnya mengakui, bahwa realitas memang berbeda dengan angan pengharapan yang di-iman-i dengan segenap hati.

Bacaan Kitab Suci di minggu sesudah Minggu Paskah mengajak kita merenungkan kisah Thomas, yang meragukan bahkan menyatakan ketidakpercayaannya terhadap kesaksian murid-murid lain yang menyatakan bahwa Yesus telah bangkit dan hidup. Figur Thomas sering menjadi kambing hitam, seakan meragukan dan minta bukti agar percaya itu bukan bagian dari beriman. Padahal logika empiris yang dipakai Thomas adalah nalar paling mendasar melawan ketidakwarasan dan kegilaan yang sangat mungkin terjadi saat harapan yang dibangun kandas, dan kenyataan yang terjadi jauh dari apa yang diinginkan.

Pagi ini aku belajar,  kebutuhan atas jaminan kepastian dalam beriman bukan berarti meniadakan sikap kritis meragukan dan berani mempertanyakan seperti Thomas, bahkan ketika sendirian berhadapan dengan para murid lain yang semuanya sudah beroleh karunia perjumpaan dengan Yesus yang bangkit. Bukan salah Thomas bahwa ia belum mendapat hidayah dan masih harus bertanya, meragu, dan bahkan minta bukti.  Sekalipun memang benar, “Berbahagialah orang yang percaya, sekalipun tidak melihat”, namun dalam peristiwa Thomas, kudapat kebahagiaannya saat ia berkesempatan melihat, dengan mata kepalanya sendiri, dan dapat mencucukkan jarinya di tangan bekas paku dan lambung bekas ditombak.


*
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan  dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1), aku jadi sangat kasihan kepada orang-orang yang sedemikian yakin bahkan berkali-kali mendeklarasikan diri sebagai pemenang pemilu, sekalipun hasil hitung cepat dan perhitungan KPU yang masih berjalan saat ini sama sekali tidak memberi bukti dan membenarkan harapan yang mereka jadikan dasar klaim sepihak. 

Yang bisa dan berkuasa memastikan kemenangan pemilu tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah KPU, berdasarkan bukti pendukung surat suara dan hasil rekapitulasi berjenjang dari tempat pemungutan suara, tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kotamadya, propinsi, dan akhirnya nasional. Ini membutuhkan waktu, dan proses yang harus dipertanggungjawabkan ke saksi-saki parpol, panwaslu, lembaga pengamat, dan masyarakat, bahkan dunia.

Hal sama juga atas klaim-klaim jaminan kepastian yang kita hidupi dalam iman kita. Yang berkuasa memberi jaminan keselamatan, pengampunan, jawaban doa, pemeliharaan, dan berkat sorgawi apapun hanyalah Tuhan saja. Beriman kepada Tuhan bukan berarti menjadi wakil Tuhan yang bahkan bisa menghakimi apalagi menyalahkan dan menghukum orang yang ragu, dan minta bukti.

Dari kisah Thomas, aku belajar, mensyukuri keraguan dan pengembaraan lewat pertanyaan-pertanyaan yang terus boleh kuhidupi, bukan hanya klaim kepastian dan jaminan saja, yang jelas hanya dalam rahmat Tuhan bisa kita rayakan.


-Pemulung Cerita-

Komentar