Pesona Klasis Purworejo Sebagai Klasis Tangguh Bencana



Pesona Kali Bogowonto yang melintasi sebagian wilayah Kabupaten Purworejo telah menjadi kidung persembahan untuk para begawan. Maklum, nama Kali Bogowonto yang menggantikan Ci Watukura pada era Kerajaan Mataram Kuno itu, memang bersinggungan dengan aktivitas para begawan (bhagavan) kala itu. 
Di bantaran kali, para bhagavan dilihat warga masyarakat tiap kali menyucikan diri tanda telah tuntas mengerjakan tapa-brata. Seperti diketahui, Ci Watukura sejatinya adalah manifestasi Bengawan Gangga di India. Bengawan yang dalam kisahnya sangat dihormati dan disucikan seperti halnya Kali Yamuna.
Keberadaan para bhagavan di tepian kali itulah yang kemudian Ci Watukara disebut Bhagavanta. Ada para bhagavan sedang menyucikan diri di tepian kali. Lama-kelamaan, Bhagavanta pun menjadi Bogowonto sesuai kemauan lidah yang ingin dipermudah untuk pelafalannya.
***

Tak kalah dengan pesona Sang Bogowonto, Klasis Purworejo pun hendak mencatatkan pesonanya. Klasis yang semula dikenal rawan bencana tiap kali Sang Bogowonto meluap-luap ini, sekarang telah menjelma menjadi Klasis Tangguh Bencana. 

Ketangguhan Klasis Purworejo yang mempesona ini dapat dilihat dari banyak sudut pandang. Pandangan pertama tentu untuk para relawannya yang dikoordinasi dengan baik oleh Badan Pelaksana Klasis Bidang Kesaksian dan Pelayanan. Para relawan ini terdiri dari Gereja-Gereja se-Klasis: GKJ Jenar-Geparang, GKJ Purworejo, GKJ Purworejo Selatan, GKJ Sidorejo, GKJ Kutoarjo, GKJ Pituruh, GKJ Kaligesing, GKJ Bener, GKJ Jatirejo, GKJ Tlepok, dan tidak ketinggalan ikut kitjah-kitjih adalah GKJ Karangjoso. 

Para relawan ini terdiri dari tim dapur umum, tim penggalangan dana, tim kesehatan, tim evakuasi, tim rehabilitasi dan tim pemulihan. Aksi cekatan tim tersebut ketika wilayah Jenar mendapatkan luapan Sang Bogowonto 2016 dan 2019 telah menjadi ajang pembuktian. Bahwa Klasis Purworejo dari Klasis Rawan Bencana telah menjadi Klasis Tangguh Bencana. 

Disebut tangguh karena dalam batas-batas tertentu Klasis Purworejo telah mampu melakukan penyelenggaraan penanggulangan  bencana. Ketika bencana terjadi, Klasis Purworejo pun melakukan   serangkaian upaya untuk menanggulangi sebagai cara mengurangi ancaman bencana. Baik itu, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat terjadi hingga rehabilitasi.

Ketangguhan juga dilihat dari segi kesiap-siagaan. Bagaimana Klasis Purworejo dalam rangka penguatan kapasitas diri juga melakukan serangkaian kegiatan untuk mengantisipasi bencana melalui  pengorganisasian, dalam hal ini lewat Bidang Kespel, serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna, misalnya dengan peningkatan kapasitas tim relawan dan memperluas jaringan kerjasama menanggulangi bencana.

Namun demikian, setangguh apa pun Klasis Purworejo, tidak mungkin mampu menghadapi Sang Waktu. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya", kata Pengkhotbah. Artinya, setelah tanggap darurat dan tahap rehabilitasi selesai, jangan lupa bagi para relawan untuk mengambil waktu. Ya, waktu berefleksi dari pengalaman menanggulangi bencana banjir dan tanah longsor selama ini. Waktu untuk memasuki ruang memahami diri kembali sehingga tidak kehilangan pesona pada cara Hyang Ilahi yang berkenan menggunakan hal manusiawi setiap mendendangkan asih wirama-Nya.


»kakintun kinanthi sembah bekti dumugeng megatruh«

Komentar