Mengerjakan Hermeneutik Secara Cantik Demi Khotbah Jangkep Yang Mantep


Selama dua hari, 6-7 Mei 2015, para penulis Khotbah Jangkep 2016 dikumpulkan di kompleks LPPS, Yogyakarta. Kebetulan mereka tinggal di sekitaran Jogja yang istimewa. Bahkan, ketika Bidang PWG merasa perlu mengundang anggota Komisi Liturgi pun memilih pendeta dari Jogja, sekalipun sekarang sudah di Bandung. Keterlibatan anggota Komisi Liturgi dipandang penting mengingat bulan September adalah Bulan Katekese Liturgi bagi Sinode GKJ. Dialah Pdt. Firdaus Tjahjanto Kurniawan, M.Th yang lahir di Jogja, menempuh pendidikan hingga S2 pun selalu di Jogja. Mungkin gara-gara lagu "Halo-halo Bandung" yang dihafal sejak SD, ayah dari dua anak ini sekarang terpanggil untuk menjadi pendeta di GKJ Bandung. Note: Ketika tulisan ini diposting, beliau telah berpulang. Diberkatilah semua kenangan tentang swargi.

Keistimewaan lain dari acara Bengkel Penulisan adalah kehadiran Pdt. Daniel K. Listijabudi, dosen Hermeneutik di Fakultas Theologia UKDW, Yogyakarta, sebagai narasumber. Pilihan pada Pdt. Daniel juga bukan sembarang dilakukan. Sekalipun beliau adalah pendeta GKMI, namun istrinya adalah orang Jogja yang istimewa, yang dulunya warga GKJ Gondokusuman.

Kehadiran Pdt. Daniel yang malam itu ditemani istri tercinta adalah dalam rangka memberi penyegaran tentang hermeneutik. Tidak tanggung-tanggung, Pak Daniel pun bicara soal perkembangan tafsir masa kini. Disebutlah post-colonial hermeneutics, cross-cultural hermeneutics, cross-textual hermeneutics, hingga empirical hermeneutics. Perkembangan ilmu tafsir yang membuat banyak peserta penasaran. Rasa penasaran yang kemudian sirna dan berganti sedikit saja kebingungan setelah Pdt. Daniel bertanya tentang apa yang menjadi tujuan menafsir: "Menemukan makna tunggal ataukah memultiplikasi makna?" Pertanyaan yang menurut Pdt. Daniel merupakan pertanyaan pokok yang mendasari dinamika hermeneutik sampai sekarang.

Supaya ingatan segar, sejurus kemudian Pdt. Daniel mengajak menengok kembali pengertian hermeneutik. Hermeneutik yang cantik barangkali, demi Khotbah Jangkep yang mantep.

Apakah Yang Dimaksud Dengan Hermeneutik?

Hermeneutik itu menggumuli pertanyaan apa yang terjadi ketika orang membaca suatu teks. Jadi, hermeneutik adalah analisis keilmuan ketika orang membaca teks. Bila ada yang menyebut  hermeneutik Afrika atau Amerika Latin atau Barat, itu adalah proses analisis yang terjadi ketika seorang Afrika, Asia, Amerika Latin atau Barat membaca teks Kitab Suci. Persoalannya, "What is a text?" (Paul Ricouer).

Di dalam suatu teks, selalu mengandung dua dimensi. Pertama-tama adalah SENSE, karena ada kode, makna yang sistematis yang didapatkan melalui konvensi atau kesepakatan. Karakteristiknya nampak pada kumpulan gambar, tanda kecil-kecil, suatu sistem tanda, dan entitas kebahasaan.

Dimensi kedua dari teks adalah REFERENCE. Di dalamnya ada koneksi antara kata dan realitas kebahasaan yang lain. Koneksi antara kata dan apa yang dirujuk oleh, dalam, dan melalui kata, merupakan karakteristiknya. Itulah yang dijelaskan ilmu bahasa ketika memahami teks.

Ada Beberapa Sikap Terhadap Teks

Pertama, sikap referensial kritis. Sikap ini berarti mengeksplorasi sistem bahasa dalam grammar, entitas sastra, dan unsur historis di mana teks itu berkembang. Misalnya mengeksplorasi spektrum dari pentingnya suatu teks dalam konteks aslinya. Sikap ini bukanlah satu-satunya sikap yang sah terhadap teks.

Mengingat , teks juga minta untuk dibaca ulang (reread), minta untuk di-updated, di(re)aktualisasikan setelah mereka disajikan dalam bentuk tertulisnya. Maka ada sikap eksistensial. Dengan sikap ini berarti saya menghendaki teks itu bermakna untuk saya, menyapa saya, mencerahi saya, dan memberi orientasi pada saya. Pada sikap ini, yang kita lakukan adalah menempatkan referensi dan konteks orisinal ke dalam referensi dan konteks kita.

Hermeneutik Kontekstual

Hermeneutik kontekstual berada di antara sikap referensial kritis dan sikap eksistensial. Untuk memahaminya perlu menyadari dan memaknai keberadaan jarak. Tipe hermeneutik klasik (Scheiermacher) memandang dan memaknai jarak sebagai penghalang untuk memahami teks. Pemaknaan demikian tidak banyak menolong dalam rangka hermeneutik. Ingat, kita adalah bagian dari sejarah. Karena kita berada dalam sejarah, maka setiap pembacaan atas suatu teks adalah kontekstual. Sekarang, apa yang harus dilakukan dengan jarak?

Jarak adalah distansiasi, yakni fungsi dialektik dari bahasa (Ricouer). Dalam distansiasi ini ada seni berpikir secara teratur, logis dan teliti ketika berinteraksi, maupun ketika mengidentifikasi diri dengan teks. Maka dari itu, jarak janganlah dilihat sebagai halangan, namun sebagai proses liberatif yang membebaskan teks dari hegemoni pengarang. Dengan ini, teks dipersembahkan kepada pembaca luas. Distansiasi pada momen pertama adalah dari oral ke teks tertulis. Setelahnya, ketika teks dituliskan maka pengarangnya mati. Pembaca menjadi alamat baru dari teks itu. Yang terjadi, kita sedang menempatkan ulang konteks lama teks pada konteks baru.

Dalam hermeneutik Alkitab, kita menempatkan ulang (replacing) dan mengisi kembali (refilling) kapasitas teks kepada situasi yang tak dilihat oleh pengarang aslinya. Dari pengarang asli, ini bisa dianggap sebagai suatu penyalahgunaan. Namun demikian, harus selalu diingat bahwa pemilik pertama dari suatu teks adalah si pengarangnya, sekalipun si pengarang itu tidak bisa lagi menguasai teks. Mengingat, teks itu meminta agar dibaca. Teks tanpa pembaca adalah seperti tubuh tanpa pengejawantahan, tanpa aplikasi, tanpa penerapan. Jadi, selalu tercipta unsur produktivitas ketika kita membaca suatu teks. Terbitan Khotbah Jangkep yang mantep kiranya dapat dipahami dalam kerangka ini. Oleh karena itu, diperlukanlah hermeneutik yang cantik sesuai perkembangan kontekstualnya.

Perkembangan Ilmu Hermeneutik

Perkembangan ilmu hermeneutik tidak lagi mengantitesakan di antara "eksegese" –menempatkan teks dalam konteks masa lalu– dan "hermeneutic" –menempatkan teks dalam konteks masa kini. Makna sebuah teks dari masa lalu kita dapatkan kalau kita berangkat dari masa kini (E.G. Singgih). Hal ini bukan berarti bahwa teks masa lalu karenanya secara semena-mena bisa disesuaikan dengan kepentingan masa kini. Tetap ada proses dinamis yang berharga untuk dilalui. Proses dinamis ini paling tidak memerhatikan matrik tentang lima pertanyaan dalam tafsir Alkitab.

Empat Macam Pendekatan dalam Menafsir

Menurut M.H. Abram dan Robert Setio, paling tidak ada empat macam pendekatan dalam menafsir.

1. Representative

Teks adalah representasi realita/ dunia tertentu. Seperti lukisan naturalis, semakin dekat dengan yang hendak dilukis semakin benar.

2. Ekspresif

Kita menganggap teks sebagai ekspresi pikiran pengarang/penulis.

3. Obyektif

Teks mengandung nilai/makna/arti pada dirinya sendiri.

4. Pragmatic

Teks dinilai menurut pembaca (ditentukan oleh pergumulan kita sekarang, dinilai berdasarkan kebutuhan pembaca atas teks). Dalam pembacaan pragmatic ini persoalan yang dibahas adalah bagaimana efek cerita bagi pembaca.

Kebiasaan zaman dulu, kita menafsir dulu baru menemukan relevansi. Menurut ilmu hermeneutik sekarang, tekanannya pada pembaca saat ini. Oleh karena itu, ketika kita menafsir mesti berangkat dari konteks kita sendiri. Ketika kita sekarang membaca teks, maka pertanyaannya adalah konsen apa yang muncul? Artinya, titik berangkatnya adalah pada pergumulan dari pembaca masa kini. Ini berbeda dengan relevansi. Pembaca sekarang tidak pertama-tama mencari relevansi, namun lebih kepada mencari makna teks. Ketika pertama-tama teks dipandang bermakna, maka sudah pasti akan memiliki relevansi.

Penutup

Sekarang, apakah dengan sumbangan ilmu hermeneutik nan cantik ini, Khotbah Jangkep telah sedemikian mantep? Yang jelas menerapkan ilmu hermeneutik dalam upaya menyajikan Khotbah Jangkep yang mantep tetap merupakan proses belajar yang kompleks. Semoga dengan terus belajar dengan teratur melalui pengalaman bengkel penulisan, kehadiran Khotbah Jangkep juga menemukan otentisitasnya.   *&*

Komentar