GREEN BOOK: DIALOG LINTAS RAS

"So if i'm not black enough, and if i'm not white enough, and if i'm not man enough, then tell me Tony, what I am??!! "

Film "Green Book" (2018) memenangi tiga kategori Piala Oscar: aktor pendukung terbaik (Mahershala Ali), skenario terbaik dan film terbaik. Film ini diangkat dari kisah nyata sebuah persahabatan antara seorang tukang pukul klub malam keturunan Italia bernama Tony "Lip" Velalonga (diperankan Viggo Mortensen), dengan seorang pianis jazz handal berkulit hitam Don Shierly (diperankan Mahershala Ali). Tony Lip yang kehilangan pekerjaannya mau menjadi sopir Don Shierly. Persahabatan yang unik dan sarat makna lantaran sepasang sahabat tersebut berasal dari dua latar berbeda. 

Film berlatar tahun 60-an ini kental diwarnai isu rasisme di Amerika. Adalah The Negro Motorist Green Book, buku yang digunakan orang kulit hitam keturunan Afrika dan Amerika untuk menemukan tempat yang aman. Spanjang pergulatan rasisme itulah kental pula percakapan "seru" antara Tony Lip dan Don Shierly. Tak hanya perbedaan ras, sifat keduanya pun bertolak belakang. Tony Lip yang seenaknya sendiri, asal-asalan dan berasal dari jalanan, sedang Don Shierly yang berpendidikan, kaku dan taat aturan.

Tony Lip dan Don Shierly harus hidup bersama selama sekitar dua bulan dalam perjalanan konser. Inilah perjalanan yang mengubah kehidupan keduanya. Mereka saling belajar dan mengoreksi diri. Diskriminasi terhadap kulit hitam di Amerika pada waktu itu menjadi permasalahan utama yang diangkat dalam film ini. Isu rasisme muncul misalnya dalam adegan saat Don Shierly yang berkulit hitam dan tampil menghibur orang-orang kulit putih sebagai pembuktian, namun sering dilecehkan. Don Shierly pun sempat dipukuli bahkan hanya karena orang kulit putih enggan berbagi kamar mandi. Adegan berkesan adalah saat Don Shierly berhenti, bersandar di samping mobilnya, bersetelan necis memandang hampa tanpa suara pada orang-orang kulit hitam lainnya yang bekerja kasar di bawah panas sang surya. Berkali-kali Don Shirley mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan selama menjalani tour, bahkan dari orang-orang kulit hitam yang menganggapnya "berbeda". Berkali-kali pula Tony Lip mencoba menengahi masalah rasial yang mereka hadapi.  

Film ini menggunakan simbol musik untuk mengungkapkan sebuah kemerdekaan. Don Shirley yang terpasung adalah Don Shirley yang terpaksa memainkan musik klasik kreasi baru yang kaku dan berat. Tapi pada bagian di mana Don Shirley merasa "dibebaskan", ia memainkan blues dan rock n roll bersama-sama dengan band di sebuah kedai. Di bagian inilah Don Shirley mulai bisa tersenyum menikmati kemerdekaan.

Green Book memenangi Oscar lantaran menyajikan pergulatan riil perjuangan menghadapi dan melawan kekerasan rasial pada zamannya. Tema yang rasanya bergaung cukup keras dan lama, mengingat politik identitas kembali menyeruak dalam tahun-tahun terakhir, di hampir seluruh belahan bumi. Pertanyaan Don Shierly kepada Tony Lip: what I am? merupakan pertanyaan mengenai identitas manusia, yang juga menjadi pertanyaan eksistensial. Ketika label-label identitas justru menjadi alat berseteru, lantas di mana kemanusiaan itu ada? Green Book mencoba untuk menantang kita melihat liyan sebagai orang yang selalu mungkin dijadikan sahabat. 


[disadur dari ulasan David dan Dessy di laman Facebook, mengenai film "Green Book"]


--
_ argo

Komentar