Eling Purwa Daksina, Eling Purworejo!



17 Banjur eling marang kaanane, mangkene panggagase: Buruhe bapakku pirang-pirang lan padha bisa mangan mubra-mubru, mangka aku ana ing kene mati kaliren.
18 Aku dakmulih menyang ing daleme bapakku...
(Lukas 15:17-18)

'Eling'. Menjadi kata penting dalam bacaan Injil hari Minggu Pra-paskah IV pada tahun Liturgi C ini. Eling adalah inti dalam olah kesadaran. Hanya dalam kesadaran, ketika tengah menyadari, orang tidak lengah namun bisa awas karena sikap eling. 
'Eling purwa daksina' adalah ungkapan bijak warisan leluhur. Ungkapan yang mengajak orang supaya ingat dengan hakikat dan jati diri ketika berada dalam ruang dan waktu. 
Purwa berarti permulaan. Dipakai juga untuk menunjuk arah Timur. Arah yang menjadi sumber terang matahari datang menjelang. Daksina sendiri memiliki arti arah Selatan. Bisa juga dipakai untuk memahami sebelah kanan. 

Selanjutnya, bagaimana memahami makna 'eling purwa daksina'? Tidak lain merupakan ajakan supaya ingat dengan permulaan hidup, tidak lupa pada arah Timur sebagai arah depan dan Selatan yang berada di sebelah kanan. Arah yang mestinya diikuti seperti halnya jarum jam menuju. Dari sinilah tradisi upacara pradaksina, mengitari tempat suci di sebelah kanan dengan berputar sesuai arah jarum jam bermula. Pradaksina ini bertujuan supaya orang selalu ingat arah. Dari mana ia berasal dan ke mana hendak pergi. Sangkan paraning dumadi.

Eling purwa daksina dengan demikian mengandung makna supaya orang tidak lupa dengan asal dan tujuan hidupnya. Untuk bisa mencapai maksud ini, pilihannya hanya satu. Mengolah kesadaran. Kesadaran demikianlah yang membuat orang tidak lupa pada Timur dan Selatan sebagai arah yang disucikan. 

Kisah anak bungsu (Lukas 15:11-32) dalam bacaan Injil hari ini bisa dilihat sebagai contoh orang yang berhasil mengolah kesadaran. 
"17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku..."

Dia sadar, bahwa asal dan tujuan hidupnya adalah rumah bapanya. Bukan tempat lain! Pada titik ini, dia telah berhasil mengatasi keributan nalarnya. Alhasil, naluri, nala dan nuraninya menjadi tercerahkan. Pergi kepada bapa menjadi tujuannya yang pasti. Si bungsu pun eling purwa daksina. 
Setelah eling purwadaksina, hal apa yang layak menjadi kelanjutan? Eling Purworejo! Purworejo adalah kota yang rupanya sengaja dibangun Belanda dalam rangka memperlemah kedudukan Bagelen. Seperti diketahui, kekuatan dan kesaktian Bagelen telah sedemikian merepotkan pemerintahan kolonial pada masa itu. Terutama ketika terjadi Perang Diponegoro (1825-1830). 

Sungai Bogowonto menjadi saksi bagaimana trengginasnya para ksatria Bagelen berperang melawan Belanda. Sungai yang dulu kala menjadi tempat para begawan menyucikan diri itu juga yang menjadi saksi tentang kejayaan Bumi Bagelen. Bumi yang begitu dicintai Sang Bogowonto hingga kini dengan aliran airnya. Air yang bagi para begawan telah menjadi sarana memasuki taraf lanjut penyucian diri untuk melangkah ke tingkat spiritual yang lebih tinggi. 

Eling purwa daksina, eling Purworejo, eling Bumi Bagelen, eling Kali Bogowonto, Sang Bhagavanta!




»kakintun kinanthi sembah bekti dumugeng megatruh«

Komentar