Amor Ring Acintya Pdt. Niluh Arta Wahyuni...



'ak pngin skli layat, soalny sehari sblum masuk icu, mb ni luh wa ak. ngajakin ketmu u ngobrol2.'

Itulah respon WhatsApp dari istriku setelah mendapat kabar berpulangnya Ibu Pdt. Niluh Arta Wahyuni, S.Th. Kami pernah beberapa kali ngobrol dengan swargi tentang rupa-rupa hal terkait medan acintyabhakti yang luas tak terselami. Dari obrolan rohani itu, kami bertemu dengan kesadaran tentang batas-batas manusiawi.

Sekalipun cinta bhakti menggebu, namun kita adalah tetap manusia. Paling-paling kita hanya bisa bergumam dalam harap: 'semoga persembahan hidup bhakti kami ini berkenan kepada-Mu, ya Tuhan Sumber Kegembiraan kami.'

Kini, Pdt. Niluh telah dipeluk erat dalam dekap cinta kekal Sang Kerahiman Ilahi. Cinta yang menjadi kerinduan setiap orang yang menempuh jalan acintyabhakti. Jalan yang diyakini bahwa 'Ia, yang memulai pekerjaan yang baik..., akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.'

Peluh Pdt. Niluh selama hidup mengabdi di GKJ Bejiharjo telah berada dalam Kerahiman Tuhan. Peluh yang menandakan cinta berkobarnya melayani Sang Raja Gereja telah dituang ke dalam Cawan Anggur Perjamuan di Alam Keabadian. 

'Cinta ilahi membuat seseorang mampu menyandang bahkan menikmati segala sakit dan penderitaan yang dianugerahkan Allah kepadanya untuk mengujinya dan memurnikan jiwanya.' Kata-kata Maria Hartiningsih dalam "Cinta Demi Cinta", Kompas, 01/03/2000. Kata-kata yang secara tersamar telah menggambar sosok Pdt. Niluh Arta Wahyuni. Ia yang sempat berjuang dalam sakit sampai akhirnya tiba pada ujung jalan hidup bhakti di GKJ Bejiharjo.

Selama ini, kematian memang identik dengan berita duka. Artinya, pengalaman kedukaan selalu menjadi tema besar yang menghiasi perkabungan. Dan, untuk hal ini saya mengaku sangat berpengalaman. Perlu waktu puluhan tahun hanya untuk sekedar menerima kenyataan bahwa ibuku sudah berpulang. Perlu banyak peziarahan untuk benar-benar paham bahwa ibuku sudah mengakiri peziarahannya di dunia ini. (Diberkatilah semua kenangan akan beliau). 

Tidak jarang, tiap kali menghantar umat berpulang, dan beliau telah kuanggap sebagai ibu sendiri, mulut terkunci saat homili digantikan derai air mata yang bicara. Hingga akhirnya aku disapa pengalaman Maria Hartiningsih yang menulis,
'Aku ingin minta restu pada ibu agar aku mampu menjinakkan keriuhan di kepala dan kembali memeluk diriku dengan cinta yang penuh; agar kelahiranku dari rahimnya mengantarku terlahir kembali dari Rahim Semesta. Wajah ibuku terbayang sejak kuniatkan untuk berangkat.'

Berikutnya, ketika menjadi anggota Komisi Liturgi Sinode XXVI, sebuah pertanyaan penting adalah bagaimana supaya kematian sungguh menjadi perayaan iman? Bahwa upacara kematian lebih dari sekedar menerima peristiwa duka, tak terhenti pada suasana perkabungan, karena ada iman yang layak dirayakan.

Dari situlah pencarian makna kematian perlu dimulai. Ada penjelasan menarik dari Prof. Dr. dr. Etty Indriati PhD, paleoantropolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saat diwawancarai Maria Hartiningsih (2008): '... dengan kematian, manusia memberikan kembali ke alam apa yang sudah dia ambil dari alam; mengembalikan tubuh ke bumi.' 

Sebuah paham yang membantu, ketika berteologi di seputar pemakaman. Mengapa dalam salah satu tradisi kristiani, jenazah dikuburkan. Dikembalikan kepada Ibu Bumi. Upacara pemakaman pun layak dikerjakan dengan penuh hormat. Karena, itu adalah saat mempersembahkan tubuh dan raga kepada Ibu Kehidupan. Dan, 'yang mati adalah pupuk bagi yang hidup dan yang hidup adalah lumbung bagi yang mati.' Maka, sesungguhnya, kematian dan kehidupan itu adalah saudara sekandung yang saling mencintai.

Bagaimana dengan jiwa? Layaklah dihantar dengan kebaktian dan gema kidung suci dalam neng, ning, nung dan nang. Biarlah kebaktian itu menjadi sayap bagi jiwa menemui suwung, menjumpai asal-muasal keberadaan, Sangkan Paraning Dumadi. Dumogi amor ring Acintya, semoga menyatu dengan hyang mahasuci sang maha tidak terpikirkan.

Dalam rangka inilah, dari jauh dan dari dekat, kami persembahkan meditasi metta bhavana:
'Dumogi amor ring Acintya, yang terkasih Pdt. Niluh Arta Wahyuni .... Semoga cinta bhaktimu menyatu dengan hyang mahasuci sang maha tidak terpikirkan. Doakanlah kami yang masih menempuh peziarahan jalan hidup bhakti ini.'

Pdt. Setiyadi
Dalem Pamujanipun Kanjeng Kijahi Rasoel Radin Abas Sadrach Soerapranoto, 14/03/19.

»kakintun kinanthi sembah bekti dumugeng megatruh«

Komentar