Aksi Menawan Para Relawan dan Kebutuhan Ruang Refleksi Memahami Diri

Sungguh menawan! Itulah aksi para relawan Gereja-Gereja Klasis Purworejo merespon banjir nJenar. Tiga hari paska banjir telah berhasil memulihkan kebersihan fasilitas umum dan beberapa rumah penduduk terdampak banjir. 

GKJ Jenar berikut Pastori, TK Seruni, SDN Purwosari, SDN Jenar 01, adalah beberapa fasilitas publik yang mendapatkan aksi kicah-kicih bikin bersih dari tim relawan yang sungguh menawan. Sebuah kerja, kerja, kerja dan bhakti bagi kemanusiaan yang layak mendapatkan apresiasi. Baik itu tim dapur umum maupun tim kerjabhakti yang turun ke lapangan. 

Berdasarkan pantauan, per Rabu (20/3) pos kerjabhakti di GKJ Jenar pun dinyatakan sudah rampung, berbareng dengan menggeliatnya aktivitas masyarakat nJenar karena kondisi sudah dipulihkan. Pdt. Yogi Hapsoro, koordinator Posko pun segera menyerukan hal ini kepada WAGrup.

[13:04, 20/03/2019] "Selamat siang. Pos kerjabakti pasca banjir di Jenar hari ini sudah selesai. Dengan ini dapur umum akan berhenti beroperasi di gereja Jenar. Esok hari tim kespel akan assesment ke Jatirejo melihat longsor sekaligus memetakan kebutuhan. 
Mengucapkan terimakasih untuk segenap dukungan dan bantuan dari gereja-gereja se klasis. Laporan menyusul baik penggunaan dana dan juga hasil di Jatirejo.

Ttd @Pdt Petrus Mardiyanto"

Atas semua kerja, partisipasi dalam rangka tim relawan kicah-kicih bikin bersih, Pdt. Sudibyo pun menyampaikan sukacitanya.
[13:32, 20/03/2019] "Apresiasi utk GKJ Jenar dan kita semua."

Nah, aksi kicah-kicih bikin bersih di nJenar selesai, langkah apa yang perlu dipikirkan? Pdt. Lukas Eko Sukoco dari Bidang Kespel Klasis menyampaikan gagasan. "Apike, bar rampung iki, para relawan nglumpuk, mengadakan refleksi dan penyegaran sebagai sarana penguatan kapasitas tim relawan," ujar beliau sambil menunggu saat makan siang para "pejabat teras". 

Maklum, demi sebuah harmoni, Posko GKJ Jenar tetap membutuhkan "pejabat teras". Mereka adalah orang-orang yang suka berkumpul di teras Pastori GKJ Jenar ketika para relawan terjun ke lapangan. Para "pejabat teras" ini juga suka mengganggu tim dapur umum untuk membuatkan kopi panas. 

Lontaran gagasan Pdt. Lukas Eko Sukoco tentu layak disambut. Artinya ruang refleksi diri para relawan memang dibutuhkan. Di situlah ada kesempatan untuk memahami diri. Hal ini penting karena memahami diri merupakan seni.

Ketika para relawan memahami diri, itu lebih dari sekedar mengetahui diri. Memahami selalu mengandaikan keterlibatan pribadi dan tidak bisa diraih semata-mata dengan sikap berjarak (Hardiman, 2015). Memahami adalah aktivitas menangkap "makna", yang mana hanya bisa dilakukan oleh manusia. Ada dimensi personal atau pun interpersonal dalam seni memahami diri.

Lewat ruang refleksi memahami diri, tentu ada harapan bahwa tim relawan Gereja-Gereja Klasis Purworejo semakin solid dalam rasa dan liquid dalam berkarya. 


»kakintun kinanthi sembah bekti dumugeng megatruh«

Komentar