Laki-laki Sakti dari Desa Dukuhseti

Aku Radin. Pemuda desa yang miskin. Dukuhseti adalah tempat kelahiranku, menjadi seorang yatim-piatu. Tahun 1834 diperkirakan menjadi tahun kelahiranku. Jangan tanya tanggal dan bulan berapa. Tak mungkin seorang yatim-piatu pada zaman itu memiliki catatan angka kelahiran yang lengkap hingga akurat. Apalagi aku lahir dari kalangan petani miskin. 

Nama Radin artinya 'rata'. Radin termasuk kosa kata dalam bahasa Jawa krama inggil. Tataran tertinggi dalam bahasa Jawa diukur dari kehalusan budi bahasa. "Entah mengapa aku diberi nama yang berarti datar atau merata. Padahal Dukuhseti dekat dengan Gunung Muria. Gunung tinggi menjulang yang menantang untuk didaki kaki setiap laki-laki. Mengapa bukan Argo atau Ardi yang berarti gunung sebagai sebutan diri ini?," batin Radin kala sendiri.

Dalam nama, terkandung doa dan segala harapan baiknya. Itulah yang diyakini kebanyakan orang. Nah, ada doa apakah untuk nama diri seorang Radin? Termasuk ketika menemukan nama baru: Abas, Sadrach, hingga Surapranata?

Teka-teki ini akan terjawab dalam kisah perjalanannya. Mengembara bak sang kembara menyusuri tanah Jawa. Pengembaraan yang membuatnya berjumpa dengan takdir hidupnya. Meratakan jalan bagi banyak orang bertemu dengan Sang Guru Kehidupan. Sekalipun, jalan yang ditempuhnya tidak bisa dikata rata. Terjal dan berkelok lebih sering dijumpanya kala saat mengabdikan hidupnya itu tiba. Tak jarang pula harus mendaki lereng-lereng yang licin demi menemukan kemuliaan hidup pengabdiannya. 

***

"Ngélmu iku
Kelakoné kanthi laku
Lekasé klawan kas
Tegesé kas nyantosani
Setya budya pangekesé dur angkara"

Tembang Pocung yang selalu melantun ketika malam datang, ternyata mampu membuat gundah Radin di kala usia remaja. Dari ayah angkatnya, ia mengerti bahwa bagi orang yang mencari ilmu, semua itu harus dijalani dengan penjiwaan. Menjiwai sebagai usaha yang dikerjakan dengan penuh kesungguhan. Demikianlah kesentosaan didapatkan bagi orang yang dengan kebulatan tekad telah berusaha. Kesadaran ini menjadi senjata sakti yang dapat menyingkirkan angkara murka.

Keputusan penting akhirnya diambil Radin. Pergi dari kampung halaman, mengembara mencari pengalaman. Lazimnya para remaja di desanya setelah sunat. Tanda dari akil balignya. Pada prinsipnya, laki-laki dari Dukuhseti kala itu, setelah sunat harus wani lelungan, sapurug-purug nuruti obahing sikil. Njajah désa milang kori, meguru mencari ngélmu sanguning urip. Artinya, berani mengembara, mengikuti kehendak kaki melangkah. Keluar masuk desa, mencari guru ngélmu untuk belajar dan mendapatkan bekal menjalani hidup.

Arah barat menjadi tujuan Radin. Ini membedakan dengan pilihan kebanyakan remaja di desanya yang menentukan Jawa Timur sebagai tujuannya. Sampailah ia di Semarang. Di kota itulah ia bertemu dengan Sis Kanoman. Seorang guru ngélmu yang mengajarinya tentang kawruh Kejawen, Kitab Primbon, hingga olah kanuragan (seni bela diri). Sebuah pengetahuan yang kelak membantunya mencangkokkan kisah penyelamatan Allah ke dalam pengalaman kaumnya, sesama orang Jawa.

Belum puas dengan ngélmu Kejawen, Radin melanjutkan pengembaraan ke Jawa Timur. Jombang yang terkenal dengan pesantren ngelmu agama menjadi tujuan barunya. Belajarlah ia tentang pengetahuan mendalam agama Islam hingga Ponorogo. Sampai akhirnya nama Abas disematkan sebagai identitas diri, ciri seorang santri, ketika kembali ke Semarang, untuk tinggal di daerah Kauman. Abas artinya singa dalam bahasa Arab. Dengan nama Radin Abas, ia ingin menjadi singa yang selalu lapar pada ngelmu sejati. Rasa lapar yang terus menggelisahkan jiwanya hingga nanti bertemu guru ngelmu sejati.

Kyai Tunggul Wulung adalah guru ngelmu Kristen yang membuat Radin Abas mengerutkan dahi. Pasalnya, guru pertamanya Sis Kanoman, dibuat bertekuk lutut ketika beradu ngelmu. Rasa laparnya pada ngelmu sejati pun akhirnya mendapatkan kepuasan berkat bimbingan Kyai kharismatik ini. Apalagi dia dibawa gurunya kepada Mr. Anthing di Batavia untuk memperdalam ngelmu kekristenan. Pdt. E. W. King dan Mattheus Teffer kemudian guru pembimbingnya, sebelum kemudian ia menyerahkan diri sepenuh hati untuk menerima sakramen baptis suci.

"Sebagai nama baptis, aku memilih Sadrach. Tokoh dalam Kitab Daniel yang berani menghadapi api amarah Raja Nebukadnezar. Aku tahu bahwa tokoh Sadrach dalam Kitab Suci itu terpilih sebagai orang terbaik dalam kaumnya. Ia diakui oleh penguasa kerajaan Babel sebagai pribadi yang tetap kukuh mempertahankan identitas dirinya. Ya, Sadrach adalah nama yang akan selalu mengingatkan aku pada jati diriku sebagai orang Kristen Jawa," demikian suara batin Radin begitu yakin dengan nama pilihannya. Sebuah pilihan nama yang tidak asal. Tanda bahwa Radin adalah seorang cerdas. Terlatih berpikir mendalam demi mendapatkan sebuah makna.

Dengan nama baru Sadrach, Radin Abas makin menunjukkan potensi dirinya. Tugas baru sebagai pembantu penginjil di Batavia dengan cara menyebarkan brosur dan buku dinilai tidak menantang. Cara penginjilan Kyai Tunggul Wulung lebih menarik hatinya. Berdebat, beradu ngelmu dengan para guru untuk melihat ngelmu siapa yang lebih tinggi dan layak untuk dicecap dan diikuti. 

Pengetahuan Sadrach tentang Kejawen, Islam dan Kristen, kemampuan menulis dalam empat aksara: Arab, Jawa, Pegon, dan Latin, menjadi modal besar baginya untuk menjadi guru ngelmu. Belum lagi pengalaman dan laku hidupnya mengelilingi Pulau Jawa dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan.

Setelah membantu Ny. Phillips di Tuksanga, Purworejo, sebagai penginjil selama setahun, Sadrach melangkahkan kaki ke Sruwoh. Ketetapan hatinya telah bulat. Mendirikan Golongane Wong Kristen Kang Mardika, tanpa memutus ikatan dengan komunitas Kristen Jawa asuhan Ny. Phillips. Sadrach ingin menjadi dirinya sendiri dalam menyebarkan Injil. Bagaimanapun, pertama-tama Sadrach adalah orang Jawa. Baptisan yang diterimanya tidak menghilangkan kejawaannya, tetapi meneguhkannya sebagai orang Kristen Jawa. Maka, cara Jawa tetap dipilihnya untuk mencari para pencari ngelmu sejati. Ngelmu tempat panglipur sejati (penghibur sejati) dan sejatining panglipur (kesejatian penghibur) bersemayam.

Kyai Ibrahim di Sruwoh pun akhirnya harus mengakui bahwa sejatining panglipur yang dijabarkan Sadrach benar-benar memuaskan jiwanya. Ia mengaku kalah dan pasrah jiwa raga kepada sang guru ngelmu baru yang layak mendapatkan gelar kehormatan: kyai. Kyai Sadrach. Laki-laki sakti dari Dukuhseti.

Dari Sruwoh, Kyai Sadrach menuju Karangjasa dan bertemu Kyai Kasanmentaram berkat petunjuk Kyai Ibrahim. Lagi, adu ngelmu pun terjadi. Hingga Kyai Kasan mendapatkan panglipur sejati dari wedharan ngelmu Kyai Sadrach. Bersama istrinya, Kyai Kasan lalu menyerahkan hidup matinya kepada Kyai Sadrach Surapranata.

Nama Surapranata berarti berani mengatur, berani menata kehidupan Golongane Wong Kristen kang Mardika di Karangjasa. Nama, yang dalam perjalanan hidup Kyai Sadrach Surapranata selanjutnya disalah-mengerti oleh Zending Belanda.  

***
"Sadrach sikapnya congkak! Dia dipanggil Bapa oleh murid-muridnya. Dia juga meminta orang mencium tangan dan kakinya karena seorang kyai. Dia bahkan memakai nama Surapranata untuk mengukuhkan kalau dia tidak mau diatur Zending," seru Pdt. Bieger memberi tuduhan kepada Kyai Sadrach di hadapan Pemerintah.

Namun, orang sakti dari Dukuhseti yang sekarang sudah bergelar kyai ini tak bisa ditakut-takuti. Bieger justru harus gemeter karena malu atas tuduhan dalam selipan iri hatinya pada Sang Kyai.



Komentar