Kunjungan Jemaat GKJ Cilacap Utara ke Situs Kyai Sadrach di GKJ Karangjasa


"Tahun 1870, rumah dan pendapa ini berdiri," Pak Purwanto Nugroho, cicit sulung dari putra sulung Kyai Yotham Martoredjo menjelaskan tempat yang tengah dipakai untuk sarasehan dengan Jemaat GKJ Cilacap Utara, Kelompok Kebon Manis. Hari itu, Selasa Wage, 20 November 2018 warga jemaat GKJ Cilacap Utara menyempatkan diri mampir ke situs Kyai Sadrach, yang disebut juga Rasul Tanah Jawa.

Ya, Kyai Rasul Radin Abas Sadrach Surapranata adalah pendiri Gereja yang sekarang disebut sebagai GKJ Karangjasa. Gereja yang didirikan pada 1871 tersebut sebelumnya lebih dikenal sebagai Golongane Wong Kristen Kang Mardika (GWKM). Nama yang menyiratkan kemandirian Kyai Sadrach Surapranoto dalam mendirikan jemaat yang mandiri, tanpa campur tangan penjajah Belanda. Jauh sebelum Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ) menyerukan kemandirian daya, dana, dan teologia, GWKM sudah menjadi Gereja yang mandiri.

Sayang, dalam perkembangan dan sepeninggal Kyai Sadrach (1924), GWKM mengalami kemunduran. Paling mencolok di bidang kepemimpinan. Kyai Yotham Martoredjo sebagai anak angkat yang dipercaya menggantikan Kyai Sadrach harus menghadapi tantangan tidak mudah. Perpecahan internal terjadi sepeninggal Sang Kyai.

Keputusan GWKM masuk menjadi anggota Gereja Kerasulan sehingga Kyai Sadrach mendapatkan jabatan Rasul, ternyata tidak serta merta membuat GWKM bisa memertahankan eksistensinya. Apalagi sejatinya hati Sang Kyai mengalami kegalauan ketika bergabung ke Gereja Kerasulan.S

Menurut Pak Purwanto yang mengisahkan sejarah Kyai Sadrach, ada manuskrip yang mencatat keinginan Sang Kyai kembali ke pangkuan Zending Belanda. Masih menurut Pak Pur, konon di mata Kyai Sadrach ajaran kekristenan versi Zending Belanda yang kemudian melahirkan GKJ adalah yang paling benar.

Sebuah keterangan yang masih layak diuji dengan data pembanding lain, tentu saja. Mengingat, Zending Gereformeerd saat itu sangat anti dengan kebudayaan Jawa. Sangat bertolak belakang dengan pengajaran Kyai Sadrach yang bernafaskan Kejawen sebagai pandangan dunia Jawa. 

Kalau orang makan nasi memakai lauk, maka nasi diibaratkan ajaran Kristen, sedangkan lauknya adalah Kejawen. Keduanya saling membutuhkan. Tidak heran ketika membangun gedung Gereja (1871) yang disebut masyarakat kala itu sebagai Mesjid Kristen, mustaka Gereja yang bersusun tiga itu terpasang Senjata Cakra dan Pasupati sebagai tanda salib. 

Nah, "Cakra dan Pasupati semestinya menjadi salibnya orang Kristen Jawa," pungkas Pak Purwanto.

Komentar