Dances With Wolves, Tergerusnya Budaya Lokal




Sudah belasan tahun film ini tersimpan dan baru kemarin menyempatkan diri menontonnya hingga rampung. Akhirnya... film berdurasi empat jam ini terselesaikan juga untuk ditonton.

Adalah John Dunbar, seorang tentara Amerika yang memilih dipindah tugaskan ke perbatasan Dakota, tempat yang terasing dan jauh dari pemukiman. Di sanalah Dunbar menemukan “keluarga” yang baru, yakni suku Sioux – salah satu suku Indian yang hidup secara nomaden di perbatasan Dakota. Perjumpaan Dunbar dengan suku Sioux digambarkan dengan cukup indah dan harmonis di dalam film ini. Sebagian besar alur film ini mengisahkan relasi antara Dunbar dengan keluarga barunya, hingga Dunbar akhirnya menikahi seorang perempuan kulit putih anggota suku tersebut.

Konflik yang sesungguhnya dari empat jam durasi film ini sebenarnya ada pada setengah jam menjelang berakhir. Dunbar ditangkap oleh tentara Amerika yang menduduki tempat itu di mana sebenarnya mereka adalah teman-temannya sendiri. Dunbar dicap sebagai pengkhianat karena telah bergabung dengan orang-orang Indian. Melihat Dunbar ditangkap dan disiksa, suku Sioux pun tidak tinggal diam. Mereka menyerbu sekumpulan tentara Amerika dan membebaskan Dunbar. Mengingat situasi yang berbahaya, Dunbar dan istrinya memutuskan untuk meninggalkan suku Sioux karena pastilah nanti tentara Amerika mencari dirinya dan menumpas orang-orang Indian. Kisahpun berakhir dengan perpisahan Dunbar dan istrinya dengan suku Sioux sebagai jalan keluar terbaik menghindari ancaman dari tentara Amerika.

Film ini begitu menyentuh. Tergerusnya budaya lokal dari dominasi budaya yang baru diwarnai arogansi, kekerasan, dan keserakahan. Orang-orang Indian dalam film ini dikisahkan semakin terpojok dan akhirnya dimusnahkan oleh para pendatang. Padahal budaya lokal itu budaya yang sangat melekat dan menghormati alam semesta. Orang-orang Indian adalah orang-orang yang benar-benar menyandarkan hidupnya kepada alam. Tetapi kedatangan orang-orang kulit putih begitu arogan. Mereka menganggap yang yang kuno itu harus dibasmi karena berbahaya! Mereka menggantinya dengan kehidupan industri yang sangat jahat terhadap alam.

Tak jauh dengan kehidupan kita, pabrik-pabrik yang berdiri akhirnya menggerus suku-suku asli pemilik tanah air ini. Suku-suku purba pun akhirnya terpinggirkan dan terlupakan. Agama-agama purba pun akhirnya tersingkirkan dan bahkan hampir tidak diakui. Lalu bagaimana selanjutnya? Kita perlu menghidupkan kembali semangat suku dan agama lokal dalam nafas kehidupan modern. Semangat mereka dalam menghargai alam semesta. Semangat mereka untuk hidup penuh welas asih. Semangat persaudaraan dan menyandarkan diri kepada alam semesta.


Komentar