Bapak Radius Prawiro dan Ibu Leony Radius Prawiro Supit dalam Kenangan Komunitas Kyai Sadrach - GKJ Karangjasa 


GKJ Karangjoso tak mungkin lupa dengan Keluarga Almarhum Bpk. Radius Prawiro. Hubungan historis yang manis memang terjalin secara magis (lebih). Ini tentu terkait dengan sosok Kyai Rasul Radin Abas Sadrach Surapranoto. Pendiri Golongane Wong Kristen Kang Mardika itu konon merupakan guru ngelmu Kristen bagi Eyang dari Bpk. Radius Prawiro almarhum.

Kesadaran historis itulah yang menuntun seorang Radius untuk merenovasi makam Sang Kyai (15 November 1924) hingga gedung Gereja yang didirikan Kyai Sadrach (1871) yang kini menjadi GKJ Karangjasa. Apalagi beliau juga membaca sebuah majalah dari Belanda yang menurunkan reportase khusus tentang sosok Kyai Sadrach. Reportase khusus tersebut dikirimkan secara personal kepada Bpk. Radius Prawiro dari Belanda. Kala itu beliau menjabat sebagai Menteri Ekuin dalam Kabinet Orde Baru (1988-1993).

Jadilah situs Gereja yang didirikan Kyai Sadrach pada 1871, seratus empat puluh tujuh tahun lalu, mendapatkan perhatian dari Bpk. Radius hingga layak menjadi tujuan menimba religiusitas Kyai Rasul Radin Abas Sadrach Surapranoto. Sebuah 'Gereja Tua' yang disebut masyarakat kala itu sebagai 'Mesjid Kristen'. Itulah 'Mesjid kang gumantung tanpa cantelan' yang berdiri di Karangjasa, yeyasanipun Kyai Sadrach Surapranoto. Gereja dengan mustika Senjata Cakra dan Pasupati bertahta di atas atap susun tiga.

Kini, Gereja Kyai Sadrach itu telah menjelma menjadi sebuah situs religius Kristen-Jawa. Kekristenan dan Kejawaan berada dalam satu tubuh Kyai Sadrach-Surapranoto, melembaga menjadi Gereja dengan pamor Cakra dan Pasopati terentang bagaikan salib Kristus yang penuh kuasa. Tanda manunggalnya Kejawaan dan Kekristenan bagaikan menyatunya Senjata Cakra milik Dewa Wishnu dan Senjata Pasupati milik Ardhanariswara. Dua senjata yang dalam menjalankan misi Bharatayudha berada dalam kuasa Sri Krisnha (avatara Wishnu) dan Arjuna (setelah menjadi Begawan Cipta Wening).

Terima kasih Bpk. Radius Prawiro (wafat: 26 Mei 2005), Ibu Leony Radius Prawiro Supit (wafat: 18 November 2018) dan putera-puteri Keluarga Besar Radius Prawiro, untuk kasih, perhatian, kepedulian dan visi bagi Komunitas Kyai Sadrach - GKJ Karangjasa. Komunitas yang layak menegaskan diri sebagai pewaris iman Sang Kyai yang berhasil mengharmoniskan Kekristenan dan Kejawaan menjadi sebuah kalangwan di dunia spiritualitas Kristen-Jawa.

Sebagai Komunitas Kyai Sadrach, ijinkan kami mengenang segala kebaikan itu. Terlebih dalam suasana berpulangnya Ibu Leony Radius Prawiro Supit Minggu, 18 November 2018. Mohon maaf, kami dari Karangjasa hanya bisa mengutus Pdt. Setiyadi dan Pnt. Sugeng Sugiharto untuk turut memberi penghormatan yang terakhir pada upacara pemakaman Rabu, 21 November 2018 di Taman Makam Pahlawan Kalibata. 

Sebagaimana Kyai Sadrach menemukan mutiara adi dalam Kitab Suci --"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,..."-- kiranya semua kenangan indah tentang Ibu Leony tetap hidup selama-lamanya. Iman, harapan dan cinta Ibu Leony kepada Gereja, kiranya menginspirasi banyak orang sebagaimana telah diteladankan oleh Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Para perempuan yang melayani komunitas Yesus dengan kekayaan mereka.

Selamat jalan Ibu Leony, doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini. Diberkatilah juga kiranya semua kenangan manis atas Almarhum Bapak Radius Prawiro. Sampai bertemu kembali Bapak dan Ibu, dalam rumah keabadian.***



»»kakintun kinanthi sembah bekti dumugèng megatruh««

Komentar