RASA BERSALAH KOLEKTIF


Salah satu kisah kekerasan paling brutal dalam sejarah Indonesia adalah peristiwa '65. Narasi besar yang selama ini dikonsumsi oleh masyarakat disajikan dalam film yg dulu wajib ditonton rame-rame, maupun buku-buku wajib pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Semuanya adalah produk penguasa. Dan kita tahu, upaya propaganda menggunakan media-media ini terus diupayakan. Belakangan, narasi-narasi kecil yang sekian lama (di)bungkam, semakin berani menyeruak. Beberapa film yang membidik peristiwa itu dari sisi lain bahkan mendapat penghargaan internasional. Meski di negeri ini film-film itu dilarang tayang. Selain itu, berbagai karya ilmiah maupun buku-buku populer telah memperlihatkan sudut-sudut lain yang membuat kita makin tersadar, betapa rumitnya sejarah tragedi '65. Tak memadai jika kesalahan semata didakwakan pada beberapa tokoh atau sebuah partai beserta para pengikutnya. 

Pembunuhan terhadap para jenderal itu memang kejam. Namun siapa dalang di baliknya, masihlah misteri bagi sebagian orang. Meski bagi sebagian yang lain, sudah sangat jelas terbaca. Yang sering orang luputkan adalah perhatian pada para korban yang jumlahnya ribuan. Ya, ribuan. Mereka yang disiksa, dibantai, dibunuh dengan keji. Mereka yang keluarganya diperlakukan sewenang-wenang. Mereka yang dibuang di beberapa pulau terpencil. Mereka yang dipaksa memilih agama yang sesungguhnya bukan pilihan mereka - kalo tidak memilih, nyawa taruhannya. Mereka yang hingga kini masih terpenjara trauma. Mereka yang hingga kini masih berjuang menagih keadilan. Jika bukan keadilan, setidaknya mereka berharap ada sedikit kerendahan hati dari entah siapa bagian dari bangsa ini, untuk mengakui keterlibatan, sukur-sukur mau minta maaf. Setahuku hanya ada segelintir tokoh yang berani mengakui dan mau meminta maaf. Lebih banyak tokoh yg malah menakut-nakuti rakyat dengan cerita mengenai "hantu" yang akan bangkit lagi.

Selama ini, masyarakat sekadar mengenang peristiwa pahit itu dengan mengibarkan bendera setengah tiang. Itu baik, tentu saja. Namun, mungkinkah perkabungan itu dialamatkan bukan hanya untuk mengenang tentara yang menjadi korban, melainkan juga ribuan orang tak bersalah yang diperlakukan secara kejam. 

Di antara serakan narasi yang saling berbenturan ini, bagaimana cara kita berdamai dengan kekerasan masa lalu? Meributkan siapa yang jadi pelaku dan yang jadi korban tak kunjung usai. Mungkin tak akan pernah usai. Pun terus menguras energi. Mungkin baik jika diakui saja, bahwa semua pihak terlibat dalam kekerasan itu. Namun, mengakui dosa dan bertobat memang bukan perkara mudah di negeri ini. 

Lantas adakah pilihan lain?
Aku teringat seorang remaja perempuan Jerman bernama Dorothee Nipperdey. Kelak ia menikah dengan seorang pelukis miskin bernama Dietrich Soelle, lalu nama Soelle itulah yang tersemat di belakang Dorothee. Dorothee Soelle menjadi remaja dengan kegelisahan eksistensial, pasca kekejaman yang pernah terjadi di negaranya. Perang Dunia II dan khususnya pembantaian Nazi-Jerman atas ras Yahudi dan kaum minoritas lainnya. Khususnya lagi pembantaian massal di camp yang dibangun di Auschwitz. Soelle remaja mengenang kekerasan masif itu secara getir. Dari tulisannya aku tahu istilah collective guilt. Perasaan bersalah yang bersifat kolektif. 

Soelle dan banyak orang Jerman kala itu merasa bersalah, meskipun mereka bukan pelaku kekerasan secara langsung. Rasa bersalah itu muncul karena mereka adalah bagian dari bangsa Jerman dan bagian dari gereja di Jerman yang mendukung kebijakan Nazi. Rasa bersalah kolektif itulah yang menggelisahkan banyak anak muda. Lalu mereka mencoba menemukan jawaban. Banyak yang menjadi ateis, namun tak sedikit yang menghayati Allah secara baru. Soelle termasuk yang kedua. Di tengah maraknya wacana mengenai "kematian" Allah pasca-Auschwitz, Soelle berusaha menemukan pijakan teologis tanpa Allah yang perkasa. Singkat cerita, sampailah ia pada penghayatan akan Allah yang turut menderita. 

Soelle tidak mengarahkan perhatian dan energinya untuk sekadar menyasar siapa yang paling bersalah. Soal itu, dalam konteks Jerman kala itu, entah seberapa terang dan seberapa berkabut. Soelle memilih untuk melawan spirit kekerasan itu sendiri. Maka ia mengkritik sosok Allah yang ditampilkan maskulin, dominan, perkasa, dsb yang berpotensi "kekerasan." Soelle mengarahkan perhatian pada keberpihakannya pada para korban kekerasan itu. 

Kembali ke Indonesia, barangkali narasi mengenai Soelle ini dapat menjadi alternatif permenungan kita. Ajakan untuk merasa bersalah secara kolektif. Lalu mengkritik narasi-narasi kekerasan, entah diproduksi oleh siapapun. Termasuk narasi agama yang akhir-akhir ini aroma kekerasannya kian menyengat. Keberpihakan pada korban dan kemanusiaan akan membuat kita menjalani hidup lebih rendah hati. Pun peka atas kekerasan di sekitar kita. 

Jihad kita sesungguhnya adalah melawan trauma serta hasrat memproduksi kekerasan terus-menerus. 

Pekalongan, 1 Okt' 2018
hari kesaktian pancasila(?)
hari ngopi internasional!

Komentar