Melarang Larung?



Kata mereka larung itu syirik. Maka dari itu mereka melarang larung, sedekah yang dilarung di pantai. Mereka khawatir syirik itu menjadi azab bencana bersama.

Tapi bukankah agama itu berawal dari sesaji? Sesaji merupakan rasa syukur dan pengharapan yang menyatu dalam sebentuk persembahan bagi Sang Pencipta. Teks Kitab Suci banyak berbicara mengenai sesaji. Kain dan Habil (Qabil), mewujudkan puja dan puji mereka dengan membakar sesaji. Nabi Nuh bersyukur atas keselamatan keluarganya melalui membakar binatang yang halal sebagai persembahan yang harum. Abraham atau Ibrahim pun menyembelih domba pengganti anaknya sebagai kurban syukur kepada Tuhan. Sesaji sangatlah dekat dengan kehidupan umat dalam teks Kitab Suci. Dengan sesaji, terciptalah hubungan yang intim antara manusia dengan penciptanya.

Sesaji pun berubah bentuk seiring jaman. Demi kepraktisan, mezbah kurban bakaran diganti dengan kantong persembahan ataupun kotak zakat. Bukan lagi hewan ternak atau tanaman yang dikurbankan tetapi uang yang dikumpulkan. Pada intinya sama : wujud syukur kepada Sang Pencipta. Meskipun demikian, masih ada juga umat yang mempertahankan sesaji berwujud benda ataupun hewan untuk dikurbankan.

Semua bentuk sesaji atau persembahan uang adalah sarana syukur dan membangun harapan. Sama seperti hal makan. Yang makan nasi, yang makan jagung, yang makan roti, yang makan pohung, yang makan indomi, tujuannya sama, yakni perut kenyang. Jadi biarlah saja mereka melarung sesaji untuk memuliakan Sang Pencipta. Kita harus mengingat tujuan beragama yang sebenarnya bukanlah menumbuhkan rasa benci, tetapi menciptakan kedamaian di bumi.

Komentar