TAK ADA PENGORBANAN DALAM CINTA


Bukan berkorban namanya jika yang kita berikan adalah hal yang tak kita suka. Pernahkan kita mengatakan berkorban saat membuang sampah yang menjijikkan dan busuk aroma? Dapat disebut berkorbankah jika kita melakukannya tanpa disengaja? Misalnya ketika kita berkata dengan sedih, "Aku mengorbankan cincin berlianku yang hilang entah di mana." 

Setidaknya itu yang ada dalam pemikiran sederhana saya dalam berefleksi di suasana Idul Adha. Berkorban adalah saat ada sesuatu yang menjadi bagian hidup kita, entah harta benda, perasaan, tenaga, bahkan orang tersayang yang hilang atau berkurang yang telah dipikirkan secara logika. Menjadi korban bisa saja tanpa sengaja, namun tidak dengan berkorban yang mengindikasikan sebuah kata kerja. Baiklah saya mengambil rujukan arti pengorbanan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online yang demikian adanya:

ber·kor·ban v 1 menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya; menjadi korban; menderita (rugi dan sebagainya); 2 memberikan sesuatu sebagai korban: kami rela ~ demi kejayaan nusa dan bangsa;

me·ngor·ban·kan v 1 memberikan sesuatu sebagai pernyataan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya: dia bersedia ~ hartanya untuk perjuangan kemerdekaan bangsanya; 2 menjadikan sesuatu sebagai korban;

Dan apakah pengorbanan itu perlu balasan? Saya rasa kok tidak.. Jika memang demikian, bukan berkorban namanya.. Jika yang kita harapkan adalah ganjaran yang setimpal atau sama nilainya, maka bisa jadi itu adalah transaksi jual beli, atau tanpa ikhlas mengharap pamrih untuk diri sendiri, dengan demikian kata berkorban dengan sendirinya runtuh tiada arti lagi. 


Setidaknya, berkorban akan mempunyai arti jika dilakukan untuk kepentingan dan cita-cita yang lebih besar dan tinggi, seperti para ibunda yang demi cinta kepada anak-anak nya rela berkorban sepenuh jiwa raga membesarkannya, yang hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menerangi dunia (hayo, siapa yang bacanya sambil nyanyi? Hihihi..) Atau para pahlawan kemerdekaan yang berkorban jiwa raga untuk negeri ini.. Yang rela memberikan tanda kesetiaan dan bakti meskipun harus menanggung kepahitan tak terperi.. 

Saya sempat memikirkan apa yang ada dalam benak Ibrahim saat hendak mengorbankan anaknya. Apakah yang diharapkan Ibrahim ketika menerima mandat dari Allah agar mengorbankan si anak laki-laki? Kira-kira apa yang diinginkan sebagai ganti? 

Pertanyaan ini sempat menjadi diskusi singkat antara saya dan Argo tempo hari. Dia menjawab dari segi tafsir, mungkin saja itu terjadi. Ada udang di balik batu dalam hati. Misalnya jika menggunakan tafsir "reader response" dengan menanyakan bapak-bapak sekalian yang membaca dan menempatkan diri sebagai Ibrahim dalam kisah ini, apa yang menjadi harapannya kepada Tuhan saat anakmu mati, bahkan di tanganmu sendiri...


Namun dalam cerita, di tengah rasa kesedihan dan kalutnya seorang ayah yang penuh cinta kepada anak yang telah lama ia nanti dan dibesarkan sepenuh hati, sebentar lagi nyawanya akan meregang ditangannya sendiri, di balik motivasi Allah ingin menguji dengan ujian yang berat sekali ini, saya kok belum menemukan jawaban atas pertanyaan ini. Setidaknya jawaban tidak tersurat alam narasi kitab suci. 


Apa yang diharapkan oleh Ibrahim? Harta, perasaan bahagia dan sejahtera (anaknya mau dibunuh tapi bahagia itu psikopat namanya), rumah, punya anak lagi atau mendapat tambahan istri? Atau harga diri yang bertambah tinggi? Adakah harga setara untuk menggantikan sang putera? Jika ada, lalu apa? Coba, mungkin teman-teman yang sudah beranak akan lebih menghayati.. 


Ibrahim tidak lain hanya ingin melaksanakan kehendakNya untuk membuktikan seberapa besar yang namanya cinta, meski pedih dan pahit hati mendera. Sebagai manusia, naif mungkin iya, namun kesetiaan dan bakti cinta Sang Nabi melebihi segalanya.. Sungguh, saya tak habis pikir saja..

Menilik cerita ini kemudian saya berkaca lagi. Apa harapan kita saat berkorban, sedangkan di dalam cinta tidak ada namanya pengorbanan, kata para pujangga. Masihkah kita meminta imbalan sedang rasa syukur dan cinta kita melebihi itu semua? Termasuk dalam cinta kita pada Allah, masihkah kita bermotif transaksi jual-beli atau tukar-tambah? hehehe... 


_by: Dessy 

Komentar