M


namanya martin,
lengkapnya martin heidegger. jelas orang jerman. 
orang yang hari-harinya lebih banyak ngupleg di dalam rumah, sehingga jarang keluar kota tempat tinggalnya: freiburg.
namun demikian, pemikirannya mengelana kemana-mana. ke masa gerika kuna pra-sokrates, hingga ke masa modern yang sering menjadi sasaran kritik-kritiknya. dan dia menjadi salah satu nabi besar di masa modern, yang tanpa pemikirannya mungkin wajah dunia gak akan seperti sekarang ini.
sebagai orang yang terikat dengan lokasinya berada, pemikirannya mengenai ‘menetap’ atau ‘dwelling’ menjadi inspirasi bagi banyak arsitek. khususnya di tahun-tahun 70-an ketika apa yang disebut posmodern dalam arsitektur itu berkembang dan mengembangkan ide mengenai lokalitas, spirit lokal, dan sejenisnya. tidak heran bila dia agak chauvinistic atau cinta mati pada tanah airnya. hingga akhir hayatnya, dia adalah anggota NAZI adolf hitler.

berpikir sampai ke akar -nama lain untuk berpikir radikal- adalah istilah yang sering dipakai sebagai sinonimnya filsafat. karena bahasa jerman kurang terpengaruh oleh bahasa latin, berhubung lokasinya agak jauh dari ekspansi kekaisaran roma, maka bisa dipahami bila martin sering melakukan telaah etimologis suatu kata untuk menemukan konsep di belakang kata itu. dan itu mengajarkan pada kita bagaimana berpikir tidak bisa dipisahkan dari penguasaan bahasa. "bahasa adalah rumah bagi pemikiran" demikian dia pernah bilang.
sesungguhnya, martin ini meneruskan -dan mengembangkan ke arah yang baru- ajakan gurunya yang keturunan yahudi edmund huzerl [huzerl adalah nama keluarga yang merupakan plesetan dari israel]. cara berpikir mereka disebut sebagai fenomenologi. suatu sistem berpikir fislosofis yang bertolak dari ‘fenomen[a]’, yakni 'hal yang memperlihatkan diri' di dalam kesadaran kita.

dalam dunia teori arsitektur, pemikiran fenomenologi bermanfaat untuk memahami [dan bukan menerangkan atau menjelaskan] fenomena “tinggal”, “berdiam”, “membangun” yang selama ini menjadi kesibukan para arsitek. oleh pemikirannya para arsitek lalu menyadari bahwa perbuatannya dalam membangun itu adalah tindakan eksistensial sebab dengan merangkai bahan-bahan dengan cara tertentu, ia membuat arsitektur itu terbangun, eksis, hadir, terlahir dari kesenyapan eksistensialnya.

membangun, sebagai suatu tindakan aktif, sama seperti merangkai kata menjadi puisi dan novel, sama dengan menganyam sehingga terlahir soblok, kukusan, gedheg, tikar, sama dengan merajut sehingga terlahir kain dan seterusnya.
dengan tindakan-tindakan itu maka dunia tempat manusia tinggal dilahirkan. bukankah manusia hanya bisa tinggal di dunia bikinannya sendiri?

begitulah,
cara berpikir martin telah menyadarkan kita akan riwayat eksistensi kita.

Komentar