Film Superhero dan Ibadah Inovatif

credit pic: abc.net.au

Film-film Ethan Hawke adalah beberapa film yang akan saya tonton beberapa kali, selalu dengan sesuatu baru tentangnya. Tidak semua, tapi sebagian besar filmnya menawarkan kebaruan yang tak disangka-sangka. Hawke mengungkap kesadaran luar biasa tentang film superhero yang ... yah it's fine, but not great, overpraised. Sebagai contoh adalah Logan, film yang dipuji-puji sebagai film superhero luar biasa. Hawke menawarkan sebuah perspektif baru dalam melihat film superhero. Dan ssya tersentak.
Gegaranya adalah begini, saya sangat senang menonton Avenger Infinity War. Saya menontonnya mungkin sampai 5 kali. Apa yang tersisa? Film itu sangat menghibur, mencetak penghasilan lebih dari 2 milyar dollar. Orang-orang mengatakannya keren. Dan tanpa sadar kita pun menyebutnya keren. Tanpa kita sadari, apa sebenarnya premis film tersebut? Selain bam bim bum dan kesenangan kita melihat para aktor aktris jutaan dollar, apalagi yang tersisa? Selebihnya penokohan, setting, akting, kebaruan ide, dll tak ada yang benar-benar memukau. Selain bahwa bam bim bumnya semakin grandeur dan grandeur. Kita hanya senang melihat reuni para bintang dalam cerita yang sejatinya di situ-situ saja.
Ini semacam kita melihat ibadah inovatif di gereja-gereja, yang sebenarnya tidak lebih dari kharismatik wannabe atau konser wannabe. Tidak ada yang salah dengan itu. Beberapa digarap dengan memukau dan serius. Tapi inovasi apa selain itu? Band? Musik? Kita sudah melihatnya di banyak kesempatan. Formulasinya pun di situ-situ saja. Lalu apa yang disebut inovatif?
Film-film superhero yang grandeur itu sama dengan ibadah inovatif itu.Meminjam bahasa Hawke, mereka menyasar usia belasan mempersiapkan mereka menjadi 40-an. Tapi tak menyiapkan 40-an menjadi 80-an. 
Karena itu tanpa disadari, pola berteologi yang berkembang pun tidak berbeda dari yang diajarkan di sekolah Minggu: Tuhan pertolonganku, aku sedih Dia penghiburku, aku kecewa Dia penguatku. Akhirnya ketimbang mencari upaya to live the life, orang lebih ditawari kenyamanan. Karena itu bahasanya: biar gak bosan, biar keren, dan sejenis itu. 
Tanpa melebih-lebihkan makna, hal-hal grandeur begitu menyempitkan makna mujizat, kehidupan, bahkan termasuk ibadah itu sendiri. Menunggu jejalan ketimbang berpartisipasi aktif menolong Tuhan - sejak Tuhan jangan-jangan sekadar menjadi penyerta yang kosmetik. Generasi yang lahir adalah generasi followers yang gagu kalau lihat idolanya, sambil berteriak 'Aw... Aw... ada artis!' Lalu politik penampilan - yang pokok adalah apa yang nampak- menjadi mengemuka.
Lah bagaimana dengan petani? Bagaimana dengan anak-anak muda yang kerja sebagai kuli angkut? Bagaimana dengan korban bencana asap dan gempa? Atau paling sederhana bagaimana dengan tetangga yang putus sekolah dan makan pun masih mengutang beras? Yang itu justru sesehari dan daripada diberi dan dihadapi dengan mimpu lebih mending ditemani dan sekiranya bisa diibadahi. Tapi dalam yang grandeur-grandeur tadi, saya rasa mereka hanya menjadi koin dua peser di dalam peti uang. Maka tidak perlukah kita menimbang lagi?
Maka saya bisa menduga begini, kenapa kok ibadah inovatif dalam artian yang grandeur-grandeur sama seperti film-filn superhero tadi tetap digandrungi? Okelah menghibur, tapi selebihnya jangan-jangan kita sudah putus asa dan tidak kreatif lagi menghadapi hidup yang semakin berat dan monoton. Kita kehabisan cara menyeriusi ibadah yang bikin ngantuk dan berambisi menjadi besar. Persiapan sekenanya, kalau jelek, ya wis bisanya saya gini mau gimana lagi lo... Jadi ketimbang kreatif membuat telur bisa berdiri, kita gelindingkan saja telurnya di wadah yang lebih besar dan gemerlap kemerlip.
|Gide

Komentar