pangeran kecil

foto diambil dari https://en.wikipedia.org/
"All grown-ups were children first... But few of them remember it..."
Antoine de Saint-Exupery

Hari ini adalah Hari Anak Nasional. Entah mengapa ingatan saya lalu melayang pada salah satu buku favorit setebal sekitar 120 halaman saja. Buku itu dengan gambar ilustrasi sederhana namun sangat indah sarat makna. Saking terpesona dan berkesannya, sempat terpikir menjadikan salah satu gambar ilustrasi dalam bentuk tatto di badan saya. Cuma nyali saja yang belum ada.. Hahaha...

Buku ini berisikan cerita anak-anak yang agak absurd di luar nalar, penuh imajinasi. Meski demikian, banyak wejangan pun sindiran manis buat kita yang mengaku dewasa. Kita diajak untuk memakai kacamata anak-anak untuk melihat dunia.

Adalah "Aku" seorang pilot yang terdampar di gurun jauh dari mana-mana.
Dalam sibuknya memperbaiki pesawat, datanglah seorang anak berambut kuning entah dari mana. Anak itu memintanya menggambar biri-biri.
Hah? Absurd bukan?
Anak ini aneh atau apa? Ini masalah hidup dan mati lho, masih meminta menggambar biri-biri? Bingung dengan cara berpikir anak itu, awalnya tokoh "Aku" menolaknya. Namun ia berubah pikiran ketika ia sendiri teringat masa kecilnya.

***
Novel ini pada akhirnya mengajak orang dewasa untuk tidak ada salahnya mengambil sudut pandang anak-anak yang riang gembira, penuh kepolosan, imajinasi yang begitu luasnya, tulus, apa adanya. Menurut saya hari anak nasional pun perlu menjadi ajang bagi para orang tua/orang dewasa untuk belajar memahami anak dalam dunia, usia, perkembangan, bakat dan keunikan anak-anak yang beragam.

Novel ini ditulis oleh seorang penerbang Perancis bernama Antoine de Saint-Exupery (1943) untuk sahabatnya. Isinya mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang dewasa, bukan orang yang menjadi dewasa. "All grown-ups were children first... But few of them remember it..." pesannya.
Lho apa bedanya menjadi orang dewasa dan orang yang menjadi dewaa?

Dahulu kala, Aku pernah menggambar seekor gajah yang dimakan oleh seekor ular boa sehingga perutnya menggelembung besar sangat nyata. Ketika gambar itu ditunjukkannya kepada orang dewasa, mereka mengira itu adalah gambar topi sederhana. Dengan keras ia berusaha menjelaskan kepada orang dewasa bahkan dengan menggambar bagian dalam ular itu, namun orang dewasa menyuruhnya menghentikan gambar-gambar konyolnya.

Orang dewasa sering tak mengerti dunia kanak. Dan sebagai seorang anak, ia lelah menjelaskan kepada mereka yang tak pernah mau mengerti. Akhirnya Aku mengubur dalam-dalam itu mimpi dan imajinasi. Ia pun beralih menjadi seorang ilmu bumi. Nah, mari berkaca kembali.. Berapa anak ya, yang impian dan cita-citanya terhenti karena terbunuh oleh orang tua yang tak mengerti atau tak menghendaki? Yang imajinasinya terkubur atau mengabur karena tak tersampaikan dan diremehkan? Sialnya, sistem pendidikan di negri ini sering jadi biang kerok pembunuh imajinasi. Entah dengan standarisasi atau sistem peringkat yang justru mengebiri.

***
Selanjutnya, hal lain yang menarik adalah saat Pangeran Kecil berkunjung ke beberapa planet yang aneh bin ajaib.
Planet yang dihuni seorang raja yang merasa semua ada di bawah kendali kekuasaannya. Planet yang berisi seorang yang sombong dan ingin dipuji pula dikagumi. Planet lain berisi tukang lampu yang saking taatnya pada aturan, ia tak punya waktu menikmati hidupnya. Ada pula yang berisi pemabuk yang sengaja mabuk untuk menutupi rasa malunya karena dia seorang pemabuk (nah lo!). Dan ada planet yang berisi seorang pengusaha yang sibuk menghitung, sampai tak menghiraukan kedatangan pangeran kecil. Ada pula ahli geografi yang tak pergi ke mana-mana untuk menjelajah dunia (paradox ya...).
Dan planet yang terakhir yang ia kunjungi adalah planet bumi.

Dan bumi adalah planet TERBURUK di antara semua. Mengapa? Karena di bumi ada raja, pengusaha, tukang lampu, pemabuk, orang sombong, ahli geografi dan jumlahnya tak hanya satu, tapi 2 MILYAR ORANG DEWASA! See!
Lihat kan siapa yang aneh di sini? Orang dewasa! Mereka yang ingin menjadi raja dan berkuasa, ingin dipuji, melakukan kesalahan, menyesali lalu mengulang lagi, yang sibuk mengumpulkan materi, yang sangat ketat dengan aturan hingga tak melihat indahnya dunia ini.

Jadi ingat seorang guru yang pernah bersabda bahwa anak-anaklah yang empunya kerajaan surga.

Dessy

Komentar

  1. buku ini ssh lama beredar, tapi anak-anak indonesia masih saja kurang dipahami dunianya.

    BalasHapus

Posting Komentar