babi liar dalam goa


 operasi penyelamatan menurut infografis harian KOMPAS

pesta piala dunia telah selesai. 
beberapa hari ia telah menggeser perhatian saya pada upaya penyelamatan kesebelasan anak-anak yang terjebak di dalam perut bumi di thailand.
setelah kesebelasan prancis memenangkan piala dunia, maka perhatian saya pun kembali ke kesebelasan anak-anak yang bernama "babi liar" itu.

sebagai orang yang tidak suka ruang gelap, pengab, dan menekan, saya bergidik membayangkan "babi liar" itu terjebak di dalamnya. mereka yang semula berekreasi biasa, di sebuah goa yang memang terbuka untuk wisatawan itu, makin lama makin masuk ke dalam karena munculnya air yang menutup jalan keluar. makin masuk dan terhenti di gundukan yang memungkinkan mereka terhindar dari genangan air laut yang menyusul mereka.
para anggota kesebelasan "babi liar " ini tidak bisa berenang. itu yang membuat mereka memandang genangan air sebagai masalah.
dua minggu dalam kegelapan, dalam keterbatasan ruang dan oksigen, mereka harus membiarkan diri, menunggu air menyusut... dan menunggu ada orang yang bisa menemukan mereka di goa yang panjangnya 4 km ke dalam perut bumi.
di dalam sana,
mereka diajar bermeditasi, oleh pelatih yang pernah menjadi bikku itu. oksigen dihemat, dan semangat hidup dirawat.

untunglah, goa itu adalah goa yang sudah dikenal orang sebelumnya. ada orang yang pernah menyusurinya. sehingga ketika kesebelasan "babi liar" tadi diketahui orang terjebak di dalamnya, maka usaha menemukan mereka jadi punya alasan.


lalu drama penyelamatannya pun dimulai. seorang penyelam marinir thailand tewas demi mereka. para penyelam dan ahli susur goa seluruh dunia pun berdatangan.
dan itu bisa kita baca dari berbagai laporan media.
semua laporan media mendatangkan efek bergidik pada saya. ini kasus hebat, tanpa bunga-bunga kata pun peristiwa ini sudah menggetarkan.

kadang membayangkan, bagaimana suatu peristiwa sengaja dibikin dramatik agar mendatangkan efek ekonomis, polisis, sosial. tapi kasus terjebaknya "babi liar" dalam goa dengan disertai gambar-gambar yang menjelaskan situasinya, sudah cukup mendatangkan dramatik itu.

ada peristiwa dramatik yang lugu, ada peristiwa dramatik yang dibikin. dan itu sedang berlangsung pada masa sebelum pemilihan calon-calon wakil rakyat dan calon presiden serta wakilnya.

media, yang menengahi kita dari fakta, punya peran besar dalam membentuk realita.

Komentar