taman surga


judul tulisan ini lebay, berlebihan.
sebab, gagasan mengenai surga itu sebenarnya diturunkan dari gagasan mengenai taman. judul itu bertumpuk-tumpukan. banyak tradisi keagamaan di dunia ini membayangkan kehidupan yang paripurna itu berlangsung di tempat yang indah dan abadi.
sejarawan arsitektur juga mengawali pembicaraannya tentang 'dunia manusiawi' yakni dunia yang pas atau cocok ditinggali oleh manusia, dengan taman. taman adalah alam yang sudah dikoordinasikan oleh kebutuhan manusia: pohon tertentu dikelompokkan bersama dengan pohon sejenis, dalam jarak tertentu, dalam ketinggian tertentu... pohon dan tanaman itu tidak dibiarkan dalam keliaran alamiahnya. pohon-pohon itu sudah dikendalikan oleh kekuasaan manusia. mereka [tanaman tadi] diberi nama, diberi pembeda antara satu dengan lainnya.
begitulah taman, ia merupakan arsitektur perdana, bila arsitektur dipahami sebagai suatu dunia rekaan, atau alam kedua bagi manusia. suatu alam yang sudah diatur oleh manusia.
sudah nasib,
bahwa manusia memang hanya bisa hidup di dunia rekaan atau alam kedua ini. manusia tidak bisa hidup dengan selamat di alam bebas yang alamiah. ia tidak dicukupi oleh perangkat biologis untuk bertahan di 'alam pertama', seperti anak bebek bisa langsung berenang, atau munyuk kecil bisa langsung meloncat ke dahan pohon. manusia hanya bisa tinggal di dunia rekaannya sendiri, dan itu mula-mula disebut sebagai taman.
taman, dalam bahasa farsi adalah faradis.
istilah yang kelak menurunkan kata paradise, firdaus, dan diterjemahkan sebagai surga.
di purwodadi yang panas, saya tahu ada sebuah gereja yang punya niat untuk menghadirkan gagasan itu tadi: meletakkan tempat ibadah di tengah-tengah banyak pepohonan yang sengaja ditanam untuk peneduh, penghasil buah, juga penghasil bunga yang harum dan berwarna-warni. gereja sebagai sebuah komunitas hendak diletakkan kembali seperti gagasan mula-mula penciptaan dunia: di tengah-tengah firdaus, taman. orang berjumpa dalam kedamaian dengan sesama dan sang pencipta di taman: dunia manusia sekaligus tempat kehadiran ilahi.
taman, adalah tempat tinggal manusia, sekaligus tempat kehadiran ilahi. bila dunia ini dicita-citakan menjadi tempat tinggal manusia dan tempat kehadiran ilahi, maka itu seperti menggeret masuk ide tentang surga tadi ke tengah-tengah dunia manusia. menarik ide yang di awang-awang menjadi nyata dalam realita.
dan itu juga yang dicita-citakan oleh orang jawa ketika merumuskan 'amemayu ayuning bawana' : memperindah dunia yang sudah indah.
dunia tempat tinggal manusia itu sudah indah dari sononya, dan manusia dipanggil untuk berpartisipasi dalam memperindahnya. menjadikannya tempat yang pas untuk ditinggali dalam kedamaian dengan sesama dan yang ilahi.
taman, atau firdaus, itu di sini. di dunia yang ditinggali manusia ini.
dunia perlu diupayakan mati-matian untuk selalu menjadi tempat tinggal yang cocok untuk manusia. karena bila tidak, ia akan menjadi liar, tidak ada tatanan, chaos, bosah-baseh.
kita tahu, betapa berbagai usaha telah dilakukan oleh organisasi-organisasi dunia dalam menyadarkan bahwa 'kita hanya punya satu bumi' yang harus dirawat dan dibuat makin manusiawi. tidak dieksploitasi.
firdaus itu di dalam dunia. merawat firdaus itu sama seperti menghadirkan surga, menjadikan alam ini sebagai surga.
dan manusia adalah penghuni serta sekaligus pembuatnya. sungguh mulia manusia, ciptaanNYA.


[tulisan ini bukan mengenai firdaus, pendeta GKJ bandung, yang sore tadi meninggal dunia. meski namanya memantik untuk menulis ini....ah, teman baik telah pergi]

Komentar