MEMANEN HUJAN

credit picture: bu Dian
Melihat tayangan 360° di sebuah stasiun televisi swasta malam ini mengingatkanku pada seorang tokoh inspiratif yang juga pernah menerima Ma'arif Institute Award. Siang itu, beberapa minggu lalu, dalam Pentas Akhir Tahun Ajaran bertema "Water Is Future" menjadi perayaan dan penampilan karya anak-anak dalam pentas seni yang menawan tentang betapa vitalnya air bagi kehidupan. Tak hanya itu, kami berkesempatan berbincang-bincang dan berguru ilmu dari Romo Vincentius Kirjito (Mbah Kir) dari Komunitas Kandang Udan yang sangat ramah, nyentrik pun sederhana, sesederhana baju lurik yang ia kenakan. 

Beliau dikenal bukan hanya sebagai seorang rohaniawan, namun juga peduli pada kehidupan sekitar dengan kearifan lokal, menggugah masyarakat untuk cinta lingkungan dengan memberi kesadaran akan pentingnya air hujan sebagai air yang layak dan sehat dikonsumsi sebagai berkah Tuhan. Beliau mengajak kita supaya mau beramai-ramai memanen hujan. Ya, memanen hujan.

Banyak desa yang tidak banyak memiliki kandungan air tanah, maka mereka menadah air hujan sebagai salah satu sumber air yang mereka butuhkan untuk keperluan sehari-hari dari pada membeli air bersih dengan harga yang cukup tinggi. Namun bagi kita yang sudah terbiasa dengan mudah memutar keran, memanen hujan apa gunanya? Memangnya air hujan layak diminum manusia? Kan kotor dan tidak sehat?

Nah, salah satu hal yang beliau ajarkan adalah bahwa kita perlu mengubah paradigma bahwa air hujan adalah air yang kotor. Oh, sama sekali tidak! Beliau membuat penelitian dan menampilkan percobaan langsung di depan anak-anak dan orang tua yang datang dengan membandingkan TDS air tanah, air sungai, air mineral yang mereka bawa dan air hujan. Oiya, TDS (Total Dissolved Solids) atau "Padatan Terlarut" mengacu pada setiap mineral, garam, logam yang terlarut dalam air, mencakup apa pun yang ada dalam air selain molekul air murni (H2O) dan limbah padat. Jadi TDS ini tidak kasat mata. Semakin banyak TDS dalam air, maka semakin tidak layak air tersebut dikonsumsi manusia. Dan air yang memiliki TDS 0 bisa dibeli di apotek dengan membayar sejumlah harga. Tapi ternyata, air hujan (yang langsung turun dari langit, bukan yang udah mampir ke genteng lo ya..) terbukti sangat rendah TDS-nya. Cukup dengan dibersihkan dengan alat penyaring air minum saja, maka sudah dapat dikonsumsi. Voila! 

Entahlah, berapa lama lagi kita bisa menikmati air bersih yang melimpah jumlahnya... Ngeri membayangkan masa depan tanpa air yang sifatnya tak tergantikan. Maka hargailah air sebagai berkat-Nya yang tak terkira. Salah satunya seperti yang Romo Kir ajarkan, dengan memanen dan memanfaatkan air hujan...

Setelah mengetahui tentang hal ini, apakah kita masih berpikir bahwa kandungan hujan itu 1% air dan 99% kenangan? Eaaa...

_Dessy K. Utami


Komentar

Posting Komentar