KESALEHAN


Kesalehan itu lawannya dosa atau kesalahan. Orang yang saleh itu tidak dosa atau salah, sebaliknya orang yang dosa atau salah itu tidak saleh.
Ada orang yang ingin hidup sangat saleh, terhindar dari dosa atau salah, lalu hidup di biara atau pertapaan. Seluruh waktu dalam hidupnya diisi hanya dengan menenggelamkan diri dalam keheningan. Terus menerus menghentikan pikiran sebab pikiran itu yang menjadi awal mula dari dosa atau salah. Ia melakukan aktivitas, bekerja, tetapi pikirannya terarah kepada satu hal saja yaitu keheningan. Ia awasi pikiran itu. Kalau mulai bergerak segera dikembalikan ke arah keheningan. Kalau pun ia mencangkul, menyabit, membuat kursi, mengukir, dsb tetapi pikirannya tetap diarahkan ke keheningan. Ia menggumamkan kata suci tertentu untuk menuntun pikirannya ke arah keheningan itu. Karena tidak ada penggodaan maka ia tidak mudah tergoda kecuali oleh pikirannya sendiri.
Ada pemimpin agama yang jatuh ke dalam dosa berjinah, bahkan ada juga yang membunuh selingkuhannya untuk menutupi dosa atau kesalahannya. Meskipun mereka itu pemimpin agama, yang pada umumnya dianggap sebagai orang yang saleh, tetapi mereka berbuat dosa atau salah, sebab berada bahkan mungkin dekat dengan penggodaan.  Kalau seorang lelaki berada di pertapaan, yang di pertapaan itu tidak ada perempuan sama sekali tentu tidak akan dia tergoda berbuat dosa atau kesalahan dengan perempuan. Sebaliknya orang yang berada di dekat perempuan tentu bisa bahkan mudah tergoda untuk berbuat dosa atau kesalahan yang berkenaan dengan perempuan, atau bahkan berbuat dosa atau kesalahan dengan perempuan itu sendiri.
Orang yang sungguh-sungguh saleh itu meskipun berada di dekat penggoda tetapi tidak berbuat dosa atau kesalahan. Orang saleh itu belum tentu pemimpin agama, tetapi bisa terjadi orang biasa saja. Yaitu, orang yang berdagang tetapi tidak menipu dan tidak mengampil keuntungan berlebihan, cukup sebagai pengganti ongkos angkut, ongkos produksi, dsb, bahkan bersedia membantu dengan uangnya atau nasihatnya agar orang lain juga bisa maju dalam berdagang. Yaitu orang yang bergelut di bidang politik tetapi jujur, terbuka, rendah hati, bekerjasama dengan siapa pun sebab yang menjadi tujuan kiprahnya adalah kesejahteraan bangsa dan negara, bukan diri dan kelompoknya. Yaitu orang yang aktif dalam kegiatan budaya dan seni tanpa mengeksploitasi kenikmatan ragawi, khususnya seks, dan duniawi, khususnya dana dan kekayaan. Yaitu orang yang menjadi agamawan dengan mewujudkan sifat-sifat ilahi dalam hidup konkret setiap hari.
Orang yang saleh itu memang tidak mau berbuat dosa atau salah. Orang saleh itu bahkan bisa menjadi suluh, tanpa harus berkata apa pun. Kehadirannya  telah menjadi penerang bagi orang yang sedang berada dalam kegelapan. Sehingga yang salah menyadari kesalahannya lalu bertobat. Yang sedih menyadari harga mulia hidupnya sehingga dengan sengaja meninggalkan kesedihan dan berubah menjadi orang yang bergembira. Yang sedang memikul beban merasa dikuatkan sehingga tidak putus asa dan bersemangat mengalahkan beban derita.
Orang saleh, kalau berada bersama dengan orang saleh akan saling menguatkan, memurnikan dan memampukan sehingga semakin bertumbuh dalam kesalehan, mudah menyadari kesalahan, dan meskipun tidak menjadi tujuan tetapi makin mampu menjadi suluh.


Ki Atma

Komentar