KERJA

Kerja, kerja, kerja. Itulah semboyan yang terus menerus didengungkan oleh Jokowi. Kabinet yang dibentuknya harus terus bekerja, bekerja dan bekerja.

Kerja adalah bergerak atau beraktivitas untuk menghasilkan. Sebaliknya adalah tidak bergerak atau beraktivitas yang menghasilkan. Mungkin memang bergerak atau beraktivitas tetapi tidak menghasilkan apa pun. Sebutan populer sebagai kebalikan dari kerja yang menghasilkan itu adalah luntang-lantung. Ke sana dan ke mari tetapi tidak ada akibat dari gerak atau aktivitas yang dilakukan. Gerak atau aktivitas yang dilakukan itu kerja atau bukan ditentukan atau bisa diukur dari hasil atau buah atau akibat yang ditimbulkan.  

Kerja itu juga merupakan aktualisasi diri. Kerja itu tanda sifat bahkan jati diri seseorang. Orang yang tidak mau kerja, orang yang malas, adalah orang yang jiwanya kerdil. Ingin hidup enak dan senang tetapi enggan menanggung beban (Jawa: kangelan) apalagi berkurban. Orang yang bekerja ogah-ogahan, adalah tanda bahwa orang itu berjiwa lemah. Menghadapi kesulitan ia cenderung menyerah. Wegah mencari jalan mengatasi kesulitan. Orang yang rajin dan tekun bekerja adalah pemilik jiwa  gagah-perkasa dan tangguh. Bukan hanya memikirkan diri dan keuntungan sendiri tetapi berbagi berkat dengan orang lain. Kesulitan bukan hambatan tetapi tantangan untuk dikalahkan. Orang yang bekerja atas perintah atau petunjuk orang lain itu berjiwa budak. Orang yang bekerja atas inisiatif sendiri adalah orang yang merdeka, mandiri dan kreatif.

Sesungguhnya setiap orang itu hakikat dirinya seperti garam dan terang. Garam itu bermakna, berarti, berfaedah, bermanfaat hanya ketika mengasini. Terang itu adalah sesungguhnya terang hanya ketika ia memberikan terang. Setiap orang itu adalah sungguh-sungguh orang ketika ia aktif melakukan kegiatan yang berpengaruh bagi orang lain, yaitu membawa kebaikan. Maka, semestinya semboyan kerja, kerja, kerja itu bukan hanya milik kabinet Jokowi, tetapi semboyan setiap orang.

Kerja, kerja, kerja adalah niat dan semangat untuk tidak menjadi NATO, Not action talk only, alias pencitraan dengan banyak omong tetapi tidak ada tindakan yang dilakukan. Dalam bahasa Jawa disebut Jarkoni, isa ujar ora isa nglakoni (pandai berbicara tanpa perbuatan).

Kerja, kerja, kerja adalah niat dan semangat untuk berbuat bukan hanya sekedar melihat lalu mencacat. Untuk berkurban dan bukan malah mencari keuntungan. Untuk memberi dan bukan justru mengambili, atau mencuri apalagi menggarongi.

Di kalangan umat Kristiani dan Hindu ada ajaran yang layak menjadi inspirasi untuk melakukan kerja, kerja, kerja yang memberkati. Di kedua agama itu ada keyakinan iman bahwa Sang Sesembahan Yang Mahamulia justru meninggalkan kemuliaan sorgawi dan turun ke dunia untuk bekerja, yaitu menyelamatkan dunia, membawa rahmat dan berkat sehingga dunia ini pulih menjadi dunia yang sungguh amat baik. Di kalangan umat Kristiani ada keyakinan iman tentang Yesus yang adalah Allah sendiri, berkenan menjelma menjadi manusia demi menyelematkan manusia dan dunia ini. Di kalangan umat Hindu ada keyakinan tentang Sang Wisnu,  yang berkenan melakukan awatara, menjelma menjadi makluk demi menyelamatkan dunia ketika terancam kehancuran.  Karya Yesus, demikian juga Sang Wisnu, layak menjadi inspirasi untuk kerja, kerja, kerja demi membagikan rahmat dan berkat ilahi sehingga dunia ini cantik (ayu, rahayu), indah berseri.  



Ki Atma

Komentar