HUKUM

Hukum, terlebih hukum agama, itu dilahirkan demi kemuliaan hidup manusia. Agar manusia menyadari keistimewaannya dibandingkan makluk lain dalam hubungan dengan Sang Khalik, dilahirkanlah hukum tentang ibadah. Agar manusia menyadari keistimewaannya dibandingkan makluk lain dalam kaitan dengan seks dan reproduksi dilahirkanlah hukum pernikahan. Demikian dan seterusnya.

Sesuai dengan tujuan, hukum itu harus dilaksanakan, bahkan pelaksanaannya itu harus dengan tegas. Siapa pun pelanggar harus dikenai sanksi atau hukuman. Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap hukum. Meskipun seorang penguasa kalau ia melanggar hukum mesti dihukum. Meskipun seorang yang lemah dan layak dikasihani, kalau ia melanggar hukum mesti dihukum.

Di Bilangan 15 : 32 – 36 terdapat kisah, seseorang yang pada Sabat mengumpulkan kayu api. Orang itu ditangkap lalu dimasukkan ke penjara sebab belum ada hukum yang jelas tentang boleh atau tidak orang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. Ternyata TUHAN memerintahkan agar orang itu dibunuh dengan jalan dilempari batu hingga mati. Sungguh hukuman yang tidak setimpal dengan dosa atau kesalahan orang itu, yaitu HANYA mengumpulkan kayu api. Mungkin orang itu akan memasak makanan agar di hari itu ia dan keluarganya tidak kelaparan. Akan tetapi hukum diberlakukan dengan tegas. Orang itu dibunuh secara kejam yaitu dilempari batu hingga mati. Sungguh ngeri.

Ribuan tahun kemudian setelah peristiwa itu, ada seorang pria yang dikenali berasal dari Nasaret, namanya Yesus, mengaku sebagai anak Allah, mengobrak-abrik hukum Sabat. Ia dengan santai dan nekatnya melakukan pekerjaan di hari Sabat. Para pemimpin agama, guru agama, Pejabat Bait Suci, para Tetua bangsa, semua marah kepada Yesus, sebab tradisi sudah tidak melakukan pekerjaan apa pun di hari Sabtah itu dipelihara ribuan tahun. Mereka yakin tradisi itu diperintahkan oleh TUHAN sendiri. Kini tradisi itu dirusak, dan sambil merusak tradisi itu Yesus mengaku dirinya adalah tuhan atas hari sabat, bahwa hari itu dibuat untuk manusia dan bukan sebaliknya manusia untuk hari Sabat.

Hukum yang diyakini berasal dari TUHAN sendiri, sudah dirusak oleh seseorang yang mengaku sebagai anak Allah. Dulu nyawa melayang karena melanggar hukum hari Sabat, sekarang nyawa dipelihara dengan melanggar hukum hari Sabat.

Bagaimana ini? ini bagaimana?

Dulu itu formasi. Demi membentuk bangsa yang berwatak maka hukum dijalankan dengan tegas. Memang akibatnya ada yang menjadi korban. Nyawa pun melayang. Namun dengan demikian watak bangsa terbentuk. Patuh dengan setia kepada TUHAN. Ketika hukum sabat itu telah menjadi tradisi, kehilangan kekuatan yang menggetarkannya yaitu pembangunan watak, revolusi  dilakukan. Revolusi itu dijalankan demi terbentuknya watak, yaitu patuh dan setia kepada TUHAN, yang mewujud dalam penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.  Formasi untuk membentuk watak patuh dan setia kepada TUHAN, revolusi untuk membentuk watak patuh dan setia kepada  TUHAN. Yang membedakan adalah formasi membentuk watak ritual, patuh dan setia menjalankan ritus penyembahan kepada TUHAN, revolusi membentuk watak sosial, patuh dan setia menjalankan cinta kepada sesama sehingga sesama diperlakukan sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Ya, begitulah. Begitulah, ya.



Ki Atma

Komentar