TIGA PEMBEBAS



Dengan apakah Tuhan disapa? Kitab Suci menyajikan pilihan yang teramat jamak. Paling tidak, ada tiga sapaan yang paling populer di kalangan gereja: Bapa, Putra dan Roh. Telah banyak pula energi yang dicurahkan untuk mengkaji hakikat, hubungan, maupun persamaan dan perbedaan di antara ketiganya. Tentu saja obrolan kayak gitu penting dan perlu. Menjadi proses yang mengasyikkan di ruang-ruang akademik. Pun di mimbar-mimbar gereja dan forum-forum PA, percakapan seputar tiga sapaan itu amat sering. Meskipun, sejauh pengamatan saya yang nggak jauh-jauh amat ini, percakapan akan berujung pada rumusan dogma. Tentu saja itu perlu. 

Namun sejauh apa tiga sapaan itu menggetarkan? Biasanya, doktrin mewujud dalam rumusan-rumusan yang kaku pula dingin. Sedari awal pun penggunaan angka - entah satu entah tiga - pun sudah merupakan upaya yang tak memadai guna mendefinisikan Allah. Apalagi manusia punya pengalaman serta suasana batin yang begitu kaya mengenai Allah. Pengalaman yang tak cukup terwakili oleh rumusan yang biasanya rumit itu. Padahal, sapaan "Bapa", "Putra" maupun "Roh" memiliki narasi yang emosional, intens, dahsyat, dan menggairahkan. Lha masihkah getar-getar itu dapat kita pungut dan sedapat mungkin kita wariskan? 

Saya ndak tau apa yang ada di benak pembaca manakala menyapa Allah sebagai Bapa? Biasanya Allah Bapa dikaitkan dengan Allah yang mahakuasa, berkarya dengan hebatnya, Allah yang perkasa. Maka dalam doa, bayangan tentang Allah yang perkasa itulah yang ada di batin orang-orang, sambil berharap bahwa Allah Bapa menolong si pendoa dengan ragam keluh-kesahnya. Ya, kayak cerita-cerita ajaib sepanjang perjalanan Bangsa Israel di padang gurun itulah. Ya memang demikianlah impian banyak orang: mengalami pembebasan dari belenggu dan derita. 

Ada pula yang mengekspresikan "Bapa" sebagai ungkapan kedekatan umat dengan Allah. Atribut Allah bukan lagi Tuan, Gusti atau gelar lain yang terasa jauh, melainkan bapa. Bapak. Dekat. Akrab. Intim. Bebas. Tidak birokratis.  Namun tak semua orang nyaman dengan sebutan "Bapa". Banyak orang memiliki pengalaman kelam dengan bapaknya. Maka sosok "Bapa" adalah sosok yang tak ramah, bahkan intimidatif. Di samping itu, ada sekian kritik mengenai sebutan "Bapa" sebagai sebutan yang terlalu patriarkhal, yang berbau kekerasan, yang tak memadai dalam situasi penderitaan yang besar. 

Allah juga disapa Putra atau Anak. Konon gelar ini dikenakan pada Yesus, sebagai narasi "tandingan" atas gelar Anak Allah yang telah lebih dahulu dikenakan pada Kaisar Romawi. Terlepas dari gelar apapun yang dikenakan padanya, Yesus memang adalah sosok yang selama hidup dan berkarya dengan bebas, pun membebaskan orang-orang yang dijumpainya. Yesus beribadah dan berdoa dengan bebas. Yesus mengajar dengan bebas, tanpa terbelenggu oleh kitab suci, hukum Musa dan dogma. Yesus bergaul dengan bebas, lintas status sosial, lintas gender, lintas budaya. Yesus blusukan ke kampung-kampung yang memang butuh disapa. Yesus menularkan ajaran cinta, sekaligus mewujudkan cinta itu pada mereka yang sakit, yang tersingkir, yang kesepian, yang putus asa, yang patah hati, yang ditindas, yang miskin. Yesus adalah sang pembebas. 

Roh. Dari katanya saja sudah tercermin betapa bebas dan dinamisnya ia. Ruakh. Angin. Menariknya, sapaan pada Allah juga memakai kata "Roh" itu. Peristiwa yang menggetarkan itu terjadi ketika para murid Yesus menerima roh. Lalu dapat berbicara dalam beragam bahasa. Fenomena itu dimaknai beragam. Namun yang menarik adalah dinamika yang dialami para murid itu. Dari yang ketakutan dan sembunyi di ruangan terkunci, menuju sikap berani tampil dan berani berbicara. Mereka bebas dari belenggu ketakutan. Pun, dari identitas sempit, menuju identitas yang melintas batas. Bahasa yang beragam adalah media yang memungkinkan mereka berkomunikasi. Bukan dengan bahasa yang aneh-aneh, melainkan dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Roh yang membebaskan berinteraksi dan saling berdialog.

Pengalaman akan Allah itu menggetarkan sekaligus membebaskan. Entah atribut apa yang kita kenakan padanya, Allah bebas dijumpai dan disapa. Bahkan jika pengalaman itu hanya dapat diekspresikan dengan bahasa hening atau diam. Iman yang trinitaris adalah iman yang bebas sekaligus membebaskan. Spirit pembebasan itulah yang kini juga dibutuhkan oleh gereja, bahkan masyarakat Indonesia. Dan bukankah salah satu wujud cinta paling agung adalah kebebasan?

Komentar