tidak ada yang asli, kami semua pendatang


semalam makan malam di warung mie jowo gunungkidul di jalan dipati ukur, kota kembang bandung.

mie jowo itu -dari namanya saja- sudah menampakkan dirinya sebagai produk penyesuaian dua kultur: kultur pendatang yang membawa mie dan dan kultur lokal tempatnya ia diterima: jawa/jowo. dari tradisi kuliner tiongkok yang menyesuaikan diri dengan tradisi jawa (jowo) konsumennya.

ketika disesuaikan pada kondisi lokal, maka ciri-ciri yang membangun kekhasan mie sebagai pendatang ditawar dan dikenai persyaratan agar bisa dinikmati oleh orang lokal [jowo]: jenis mienya, bumbu-bumbunya, caranya memasak, bentuk wadah dan alat-alat makannya, dan seterusnya sampek didapat suatu sajian mie yang tidak sama dari asalnya, namun juga jadi makanan baru yang berbeda dari makanan lokal lainnya. segeralah ia mendapatkan identitasnya yang baru, suatu rumusan identitas campuran yang selain membawa nama asalnya sekaligus juga nama alamatnya sekarang: mie jowo.

mie jowo yang paling tersohor adalah buatan orang-orang desa piyaman wonosari, gunungkidul. orang sedesa ini banyak yang merantau dan membawa serta ketrampilannya memasak mie jowo kekhasan desanya.

mie jawa, khususnya mie rebus atau godhog, enak hanya bila disajikan segar setelah baru saja dimasak. oleh sebab itu jarang ada orang membeli mie godhog untuk dibawa pulang. ia makan mie godhog di tempatnya dimasak.

saya di bandung adalah pendatang.

juga karyawan serta pemilik warung mie jowo tadi pun pendatang di kota kembang.

di warung ini terjadi perjumpaan orang-orang pendatang.
dan memang begitulah karakter sosiologis kota: terdiri dari campuran berbagai orang. kayak bakmi jowo wonosari yang saya makan di bandung. gak ada yang homogen seperti karakter sebuah desa.

memilih tinggal di kota itu harus menghadapi realita: keragaman.
kalok mau seragam, ya sana tinggal saja di tangsi tentara atau balik ke desa.

Komentar