memanggil kembali anoman



seperti biasa, semalam saya mendengarkan pagelaran wayang ki hadi sugito secara online. mengapa online, tidak lain karena ki dalang itu sudah lama mendahului kita ke keabadian.

meski sudah meninggalkan kita, namun beliau memberi tinggalan khasanah jenis pedalangan rakyat yang hidup, segar, lucu dan kreatif. kemampuannya membangun karakter wayang lewat suara sungguh tanpa tanding. hanya dengan mendengar pagelaran ki hadi sugito itu kita bisa membayangkan karakter masing-masing wayang yang sekotak banyaknya itu. 
demikianlah, karakter-karakter wayang itu diciptakan, dibangun dan diabadikan lewat suara ki dalang, demikian pula ki "dalang suara" hadi sugito itu juga abadi di dalam media rekaman.

lakon yang saya dengarkan tadi malam -petruk dadi ratu- itu menghadirkan kembali anoman, munyuk putih, yang sebenarnya diciptakan dalam kisah yang berbeda dari lakon yang dibawakan semalam. anoman diciptakan dalam epos ramayana, sedangkan petruk dadi ratu adalah lakon carangan yang diciptakan di jawa berdasarkan epos mahabharata.

anoman dipanggil kembali oleh kresna karena pengganggu ketenteraman yang berupa 'watu gajah' itu ternyata adalah rahwana, tokoh kejahatan di dalam epos ramayana yang pernah dikalahkan oleh anoman.
tokoh jahat ini pun tidak pernah mati, ia selalu 'dihidupkan' oleh ki dalang dalam wajah baru. walau pun juga selalu kalah oleh anoman, munyuk putih, yang kembali mengalahkan rahwana.

menghadirkan kembali tokoh-tokoh masa lalu itu sudah biasa dikerjakan orang. yang dengan teknik seperti itu maka kisah yang disampaikan jadi "tebal", penuh dengan lapisan-lapisan kisah yang entah dari mana dan entah dari jaman kapan. konstruksi kisah memang seringkali tidak memedulikan asal-usulnya, yang dipentingkan adalah relevansinya bagi audiens: penonton dan pendengar. ia -kisah atau narasi- adalah fiktif, namun ia selalu dibutuhkan orang untuk mengajar, memberi pedoman, mencari inspirasi.
kisah tidak boleh disembah-sembah, karena ia adalah pedoman, bukan tujuan. kisah adalah bikinan leluhur kita yang ditujukan bagi kita yang masih mengelana, mencari pedoman dalam perjalanan pulang ke keabadian.

Komentar