KEKERASAN YANG MASUK AKAL


pic by: berlin sianipar

Banyak orang menilai aksi bom bunuh diri sebagai tindakan yang tidak masuk akal. Kok ya mau-maunya bunuh diri?! Untuk peristiwa terkini, yaitu rangkaian bom di Surabaya, bahkan pelakunya konon adalah sekeluarga. Melibatkan pula anak-anak. Gila... Kok bisa ya?! Bagi banyak orang, itu semua nggak masuk akal. Namun bagi Eric Fromm, semua itu masuk akal!

Eric Fromm adalah seorang psikoanalis. Ia menganalisis psikologi/ kejiwaan manusia. Maka, ia melihat fenomena kekerasan sebagai produk dari kondisi kejiwaan manusia. Sebelum Fromm, telah banyak pakar lain meneliti kekerasan yang dilakukan manusia. Sebut saja dua yang paling kondang: Sigmund Freud dan Konrad Lorenz. Keduanya sampai pada sebuah simpul bahwa perilaku agresif manusia adalah insting (bawaan) yang terprogram secara filogenetik. Sudah ada dari sononya. Insting kekerasan itu ibarat bom waktu, yang akan "meledak" ketika saatnya tiba, yaitu ketika ada pelampiasan. Apa bener gitu?

Eric Fromm mempertanyakan simpulan di atas. Fromm melihat bahwa dalam diri manusia memang ada agresi. Namun, ada dua agresi yg tak dapat disamakan. Ada agresi "lunak" yang sifatnya defensif (hanya muncul kalo manusia merasa terancam, sebagai upaya bertahan). Namun ada juga agresi "jahat" yang sifatnya ofensif. Menariknya, agresi lunak itu dimiliki oleh hampir semua binatang. Sedangkan agresi jahat hanya dimiliki oleh manusia. Nah loe... 

Ceritanya tuh gini, gaes...
Fromm bedakan antara insting dan karakter. Pertama, insting. Semua orang punya insting, berupa dorongan dasar karena adanya kebutuhan untuk bertahan hidup. Konon, tiap makhluk yang memiliki otak reptil - termasuk mamalia (manusia termasuk golongan mamalia!) - itu punya kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Untuk itu ada dorongan instingtif yang sering disingkat 4F: feeding ato soal makan, f**king ato kebutuhan seksual dan berketurunan, fighting ato menyerang/ berburu, dan fleeing ato kabur kalo diserang. Nah, agresi lunak masuk kategori fighting itu. Menyerang, namun dalam rangka bertahan hidup. Maka hewan itu kalo membunuh mangsanya ya secukupnya aja. Enggak disiksa lebih dulu. Nggak pake dimutilasi. hehehe... [tentu istilah "siksa" ini juga problematis karena sulit dikenakan pada binatang]. 

Kedua, karakter. Karakter tu muncul untuk memenuhi kebutuhan eksistensial. Nah di sinilah bedanya. Menurut Fromm, agresi jahat itu muncul karena aspek karakter ini. Karena kondisi tertentu, manusia ingin memenuhi kebutuhan eksistensialnya, bukan sekadar bertahan hidup. Kebutuhan eksistensial itu meliputi aspek psikologis, yg dipengaruhi keadaan sosial, ekonomi, budaya, gender, dan spiritual ato agama! Kebutuhan eksistensial yang tak terpenuhi akan berpotensi melahirkan agresi jahat tadi. Termasuk kekerasan masif nan kejam serta tanpa ampun. 

Segala perilaku yang kayaknya ngga masuk akal (termasuk bunuh diri dan bunuh diri rame-rame keluarga, juga membunuh orang lain dengan kejam) pun menjadi sesuatu yang masuk akal, selama ada narasi yang menjadikannya masuk akal. Nah, narasi itulah yang diperoleh dari indoktrinasi maupun cuci otak. Karena bangunan logikanya disediakan, maka akan mewujud dalam tindakan. Ada sistem makna yang menjadikan tindakan kekerasan itu dapat diterima, bahkan dianggap mulia. 

Sebenarnya, otak manusia memiliki potensi untuk mengendalikan kekerasan. Tak hanya otak reptil, manusia memiliki bagian otak bernama sistem limbik (di dalamnya ada amygdala yang mengendalikan emosi atau perasaan) dan neokorteks (yang bertugas memproses pertimbangan, pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan logika). Selama keduanya cukup kuat, agresi jahat tadi masih dapat ditahan lah. Kalo secara emosi sudah ikut dipengaruhi dengan kebencian, perasaan jadi korban dll, ya makin kuat agresi jahat itu tadi. Apalagi kalo logika dan pertimbangan yang dibangun juga mendukung kekerasan. Wah, gawat... Kita tahu bahwa para pelaku bom bunuh diri itu didominasi oleh hasrat, emosi dan nalar "tertentu" sehingga kematian dimaknai demikian mulia (baca: menggiurkan). 

Jadi, kekerasan dan kekejian manusia itu memang masuk akal. Tinemu nalar.
Lalu kita bisa apa? Rasanya, nalar-nalar yang sifatnya merusak itulah yang perlu dibongkar. Semua nalar yang sifatnya menyingkirkan orang/ pihak lain sebagai yang lebih rendah dari kita, sebenarnya merupakan nalar kekerasan. Lha kalok gitu, di agama dan di komunitas agama kita masing-masing (termasuk di grup percakapan online), bertebaran nalar kekerasan dong?! Selama ada nalar penyingkiran, ya iya. Berani membongkarnya? hehehe... 


Komentar