CINTA YANG MEMBINASAKAN

 

Sore yang indah, Batara Guru sedang bersama dengan isterinya, Dewi Uma, mengendarai kendaraan kesayangan, Lembu Andini, yang terbang di atas samudera. Mereka berdua sedang menghibur hati (Jawa: ngenggar-enggar penggalih). Tiba-tiba kain Dewi Uma tersambar angin sehingga tersingkaplah betis sang dewi yang sangat cantik jelita itu. Batara Guru yang melihat itu pun bangkit nafsu birahinya. Lalu ia mengajak dewi Uma bermain cinta. Akan tetapi, dewi Uma tidak bersedia. Berulang kali didesak, dewi Uma tetap menolak. Birahi Batara Guru bukan berkurang karena ditolak,  tetapi semakin menggejolak. Karena tak tertahankan air benih Batara Guru menetes dan jatuh ke samudera. Meskipun hanya benih, tetapi karena air benih itu berasal dari raja para dewa, maka makluk baru terlahirlah. Air samudera menggelegak bergolak terjatuhi air kama itu, dan dari dalam air itu pun muncul raksasa. Itulah Batara Kala. Raksasa yang rakus dan tidak pernah bisa kenyang. Ia memakan apa saja. Agar tidak memusnahkan dunia maka ia dibatasi hanya boleh memakan makluk yang "sukerta" yaitu yang kotor dan tidak lazim, dan "aradan" yaitu yang melakukan kelalaian.

Batara Guru tentu sangat mencintai dewi Uma, isterinya. Berahi, air benih adalah sarana kelengkapan cinta itu. Akan tetapi, ternyata cinta itu melahirkan raksasa yang rakus dan tidak pernah puas. Cinta yang "salah kedaden" (salah dalam penciptaan) ternyata mengakibatkan bencana atas jagad raya.  

Dua gadis kecil kakak beradil, anak pasangan Bp. Dita dan Ibu Puji: Fadhila Sari dan Famela Rizkita, dapat dipastikan adalah gadis kecil yang kalau disuruh memilih secara wajar lebih suka bermain boneka daripada bom yang membunuhnya. Bahkan dikisahkan Rizkita yang duduk di kelas 2 SD itu, antusias ketika di kelas diajak membahas toleransi beragama. Lalu, untuk apa (ter)dilahirkan kalau di umur yang masih sedemikian ranum harus mati bunuh diri seraya membunuh orang-orang lain?

Dua lelaki kecil kakak beradik, putra pasangan Bp. Heri dan ibu Wenny yang tabah itu: Nathan dan Evan, dapat dipastikan lelaki kecil yang memiliki cita-cita. Akan tetapi, harapan nya harus pupus, cita-citanya harus sirna bersamaan dengan raganya yang terkena akibat bom bunuh diri.

Di tengah bergemanya warta hilangnya hidup beberapa anak kecil di Surabaya, menyeruak kabar 34 uskup Chile mengundurkan diri karena dugaan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Warta yang menambah kepedihan hati atas pelecehan seksual terhadap anak-anak yang marak terjadi di berbagai belahan dunia. Semua itu menambahkan perihnya hati karena terjadinya perdagangan anak-anak di mana-mana.

Kemarin, seorang pendeta muda berkisah. Ketika ia sedang makan di sebuah warung, datang seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil. Melihat ada orang yang makan di warung itu, si anak bertanya kepada ibunya "mengapa di bulan puasa begini, orang itu makan?" dan ibunya menjawab "ya, begitulah kalau orang kafir, tidak berpuasa." Pendea muda itu terperangah, tetapi hanya bisa diam, sebab tidak ada kesempatan baginya untuk menjelaskan. Kata-kata ibu itu tidak ibahnya kama Batara Guru yang karena cintanya kepada dewi Uma tidak terlampiaskan, malah jatuh ke laut dan menjadi Batara Kala, raksasa rakus dan tidak pernah bisa kenyang itu.

Cinta ternyata bisa membinasakan. Ketika cinta itu tidak terkendalikan. Ketika cinta itu  berupa kehendak untuk memiliki, bahkan untuk menguasai. Ketika cinta itu memaksa.

 

Dewi Uma tertunduk lesu di pinggir sebuah kali yang hampir kering karena musih kemarau panjang. Kain nya sudah basah oleh air mata. Namun, air mata itu terus menetes deras, dan kain dewi Uma mulai berwarna merah, ternyata air matanya telah menjadi air mata darah.






(gambar diambil dari mbah google)

Komentar