BAHASA CINTA

Di sebuah akun fb, pemilik akun mengunggah foto seseorang yang mengandari sepeda motor dan di bagian belakang, tempat yang biasanya untuk memasang plat nomor, tergantung tulisan "Teroris jancok nggarai dodolan sepi cook…."

Agaknya akibat tragedi bom di Surabaya itu para pedagang kecil mengalami kerugian sebab sepi pembeli. Kalau mall sepi pengunjung, mungkin tidak terlalu terasa, tetapi bagi pedagang kecil yang keuntungan hari itu untuk makan besok pagi, sepinya pembeli sangat terasa sekali. Padahal keuntungan yang didapat itu sangat diharapkan oleh isteri dan anak-anaknya. Ungkapan kesal itu, dengan demikian sangat wajar.

Di akun fb yang lain, pemilik akun itu menuliskan "Dia (Wenny, ibu dua anak yang menjadi korban peledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela), ingin meneladani Bunda Maria yang anak satu-satunya di siksa dan disalibkan untuk menebus dosa kita manusia."  Pasti yang dimaksudkan oleh pemilik akun itu dengan sebutan "anak satu-satunya" adalah Yesus, putra Bunda Maria. Penyebutan "anak satu-satunya" itu hanyalah salah tulis saja, tentunya. Yesus memang anak Maria, tetapi bukan satu-satunya, sebab setelah Yesus dilahirkan,   Maria melahirkan beberapa anak (di Alkitab tidak disebut siapa saja).

Di beberapa harian memang diwartakan bahwa ibu Wenny memaafkan pelaku bom bunuh diri yang telah merenggut nyawa kedua anaknya dan ia ingin meneladani sifat welas asih Bunda Maria. Demikianlah ketegaran hati ibu Wenny itu adalah pantulan keyakinannya tentang sifat welas asih Bunda Maria.

Pedagang yang mengungkapkan kejengkelan dengan menyebut teroris jancok, dan ibu Wenny yang memaafkan teroris yang membunuh kedua anaknya, adalah orang-orang yang sangat mencintai anak-anaknya. Ungkapan mereka memang berbeda. Tidak perlu dinilai mana yang lebih baik. Penilaian itu selalu cenderung hitam-putih, padahal kenyataan hidup itu tidak selalu hitam-putih. Bisa juga abu-abu, antara hitam dan putih. Keduanya layak untuk diamati tanpa penilaian.

Ungkapan kejengkelan pedagang itu adalah pertanda ia tidak rela anak dan isterinya menderita karena tidak ada uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Inilah bentuk cinta yang membela dan melindungi. Tidak jarang dapat ditemukan ada orang yang berani mempertaruhkan nyawa untuk melindungi dan membela keluarganya. Bukan hanya mengungkapkan kejengkelan, tetapi juga berani beradu nyawa demi cintanya kepada anak dan isteri itu.

Ungkapan ibu Wenny bahwa ia memaafkan teroris karena ia ingin memiliki sifat welas asih sebagaimana Bunda Maria, adalah pertanda ia bersedia melupakan dosa-kesalahan orang lain. Inilah bentuk cinta yang memaafkan dan mengiklaskan. Duka dan lara pasti masih dirasakan, tetapi ia bergerak maju meninggalkan duka dan lara itu menuju ke penyembuhan hati dan jiwa, yaitu dengan cinta yang memaafkan dan mengiklaskan itu.


Komentar