ADA NARASI KEKERASAN DALAM AGAMA KITA


Bom kembali meledak. Kali ini di kota pahlawan, Surabaya.
Peristiwa menyedihkan itu melahirkan pahlawan. Lho, siapakah yang jadi pahlawan? Seperti biasana, klaim mengenai siapa yang jadi pahlawan berasal dari dua sisi yang berseberangan. Bagi pelaku yang meledakkan bom, ada keyakinan bahwa mereka adalah pahlawan. Syuhada. Di sisi lain, para korban, khususnya orang-orang yang dianggap berkorban nyawa demi keselamatan orang lain, pun disebut pahlawan. 

Untuk mengklaim siapa pahlawan, biasanya memang harus ada korban yang berguguran. Di media, pahlawan itu diletakkan di kutub yang mulia, berseberangan dengan mereka yang dinilai sebagai teroris. Entah siapa (saja) teroris itu, yang jelas mereka telah berhasil menebar ketakutan kepada khalayak. Apalagi media menyebar berita begitu cepat dan luas. Juga jempol-jempol yang latah sharing berita tanpa lebih dahulu disaring. Teror pun menjamur. Ngeri...

Salah satu muara perdebatan yang ramai di media sosial adalah sebuah pertanyaan: apakah terorisme itu terkait dengan agama? Banyak orang menegaskan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Sementara yang lain mengajak umat beragama untuk jujur saja mengakui bahwa dalam agama (apapun) ada narasi kekerasan yang berpotensi menginspirasi atau memicu kekerasan. Termasuk meledakkan bom. Narasi-narasi agama itu menjadi legitimasi atas tindakan yang kadang memang tak masuk akal. 

Masa sih, di dalam agama ada narasi kekerasan? Lha kalo kita melongok kembali tebaran ayat dalam kitab suci, bukankah memang ada sekian banyak narasi kekerasan. Entah itu perang, pembunuhan, persekongkolan, pengkhianatan, dsb. Belum lagi kalo kita melihat narasi di luar kitab suci, misalnya dalam doktrin-doktrin serta dalam tradisi lisan atau berbagai tulisan tentang agama itu sendiri. Ada banyak narasi kekerasan. Dan bukankah terbukti bahwa klaim serta legitimasi para pelaku kekerasan itu memang berasal dari narasi agama (apapun)?! Memang, narasi kekerasan dalam agama itu tidak secara langsung menyebabkan aksi terorisme. Namun, narasi kekerasan dalam agama itu berpotensi melahirkan kekerasan.

Maka, barangkali pilihan untuk rendah hati mengakui adanya narasi kekerasan dalam agama kita, adalah pilihan yang baik. Mengakui itu penting. Sesuatu baru akan dapat diatasi kalo lebih dulu diakui. Dengan diakui, sesuatu itu diterima dan dapat ditinjau kembali. Jika memang kita menyadari ada narasi-narasi kekerasan, yang bukan untuk ditelan mentah-mentah melainkan ditafsirkan ulang. Sukur-sukur narasi kekerasan itu dapat dinarasikan kembali dalam bentuk lain yang lebih ramah dan penuh damai. Semua itu dapat dilakukan jika agama beserta narasinya diletakkan pada tempat yang semestinya. 

Tentu, narasi kekerasan itu bukan hanya soal kisah-kisah perang dan penyebutan-penyebutan kasar, melainkan juga pada narasi-narasi yang berbau dominasi, eksklusivitas, kekakuan, kepatuhan, dsb. Bahkan sapaan orang beragama kepada Tuhan pun dapat bernada kekerasan. Bayangkan, betapa banyak sesungguhnya narasi kekerasan itu ada dalam agama kita. Mengapa narasi-narasi itu perlu diakui dan ditinjau kembali? Ya karena kalo dibiarkan saja serta dipahami harafiah saja, dapat disalahgunakan. Dan akibatnya kita tahu sendiri, bisa amat berbahaya. Bahkan taruhannya adalah nyawa. 

Namun ya kembali lagi... Untuk sampai pada pengakuan dan peninjauan ulang, dibutuhkan akal sehat dan keberanian menempatkan agama bukan sebagai menara gading yang tak tersentuh. Agama juga perlu dikritik. Lebih tepatnya, cara kita beragama. Kita perlu mengambil jarak dari narasi agama yang selama ini diyakini. Lalu memandangnya dari kejauhan agar nampak lebih jernih. Untuk itu, memang legitimasi agama itu sendiri yang dipertaruhkan. Dan banyak orang belum ikhlas untuk sampai ke sana. Jika demikian, ya akan ada sekian banyak orang yang mengaku (atau yakin bahwa dirinya) pahlawan, sementara nyawa-nyawa tak berdosa akan kembali melayang. 

Komentar

Posting Komentar