surat kartini dan surat korintus



raden ajeng kartini adalah pahlawan,
namun ia dipahlawankan bukan karena pandai memasak, berkonde, trampil bersolek dan memantas diri. lebih dari pahlawan-pahlawan yang dicitrakan berbadan tegap, berotot dan kasar, ia dipahlawankan karena isi kepalanya yang menggugah orang untuk bertindak dengan kesadaran baru.
ia dipahlawankan pada masa ketika orang butuh mendefinisikan apa yang telah menginspirasi banyak orang bergerak dengan kesadaran identitas baru sebagai bangsa. para bapa negeri yang memahlawankan kartini itu seperti merasa berhadapan dengan mujizat, suatu keajaiban: bagaimana mungkin kita yang berbeda tempat, berbeda [suku] bangsa, berbeda bahasa, kemudian merasa senasib dan butuh sesuatu yang menyatukan itu?
kesadaran seperti ini hanya mungkin terjadi ketika orang menguasai media komunikasi yang melaluinya orang menangkap, menyaring, merenungkan dan kemudian nanti menyebarkan ide-ide atau buah pikirannya.
kartini memerankan peran penting itu.
ia besar dalam keluarga yang terbiasa membaca dan menulis: keluarga bupati pesisir jawa (jangan dibayangkan seperti bangsawan pedalaman yang pemalas dan pemadat). keluarga pesisir jawa lebih dulu terbuka dalam menyerap dan mengunyah budaya asing dan sadar akan datangnya jaman baru yang dibentuk oleh penguasaan media komunikasi tadi.
kartini dalam usia dini telah banyak membaca dan mengolah gagasannya dalam bentuk tulisan.
untunglah,
abad ke-19 itu merupakan abad ketika alat komunikasi dan transportasi sedang dimajukan. orang dimudahkan bergerak dari satu tempat ke tempat lain, demikian pula ide-ide baru datang dan beredar disemaikan oleh orang-orang.
surat-suratnya mendapatkan tempat tambatannya yang tepat [begitulah, sejarah kadang terdiri dari kebetulan-kebetulan]. surat-suratnya tersimpan oleh tokoh politik yang membawa etika kristiani di parlemen belanda, abendanon. surat-surat itu dihimpun lalu diberinya judul "menembus kegelapan menuju terang" suatu ide yang tidak jauh dari surat kedua rasul paulus kepada jemaat di korintus pasal empat ayat keenam.
kedua surat itu, dari kartini dan dari paulus, adalah sarana atau media penyebaran kesadaran baru. mereka berdua tahu betul bagaimana memanfaatkan sarana tadi dalam membangun suatu komunitas baru yang semula tidak saling kenal, tiba-tiba merasa satu. ada nilai bersama yang diperjuangkan, ada kesadaran bersama untuk menghargai keragaman.
kartini pantas dipahlawankan, dianggap sebagai orang yang berpahala, karena gairahnya dalam menuliskan isi kepalanya. bukan konde atau rias wajah di kepalanya.
selamat merayakan hari kartini!
--
anto

Komentar