PUISI DAN KENYAMANAN BERAGAMA

courtesy: lorenalupu.com

Belakangan ini media sosial dan grup percakapan daring ramai menyebar kabar mengenai puisi-puisi yang jadi kontroversi. Apa pasal? Beberapa puisi dianggap menista agama. Sakjane aku tu terheran-heran dan tak habis pikir, bagaimana mungkin sebuah puisi dapat menista agama? Karena sampai detik ini otak saya nggak sampai memahami hal tersebut, baiklah saya sebut saja bahwa puisi-puisi itu mengganggu kemapanan dan kenyamanan beragama sebagian pemeluknya. Mengapa kok ini kuanggap soal kemapanan dan kenyamanan beragama?

Aku membaca banyak puisi. Juga menulis beberapa, namun masih malu-malu dipublikasi. Dari sekian puisi yang telah kubaca, cukup banyak pula membaca puisi yang nyrempet-nyrempet soal agama. Agama manapun. Beberapa bikin aku bertanya-tanya, beberapa bikin aku curiga, beberapa bikin aku terganggu, namun lama-lama justru bikin aku merenung lebih dalam, dengan cara yang berbeda. Lha kok bisa?

Ternyata, jika kita merenung dengan cukup sabar serta ngga keburu marah dan gerah, kita akan menyadari satu hal: bahwa cara kita beragama sejak kecil itu sudah dibangun dalam struktur yang baku. Tak jarang corak beragama kita jadi kaku dan keras seperti batu. Cara beragama kita ditentukan oleh doktrin atau ajaran yang ditata satu demi satu seperti batu bata yang ditata satu demi satu membentuk sebuah tembok. Dari tembok-tembok itulah tersusun bangunan berupa dogma. Demikianlah salah satu corak beragama kita: dogmatis. Ada ajaran yang serba jelas dan serba pasti. Mana yang hitam, mana yang putih. Mana yang baik, mana yang jahat. Mana yang sorga, mana yang neraka. Semua mesti jelas. Semua butuh sesuatu yang pasti.

Jadilah agama berisi rumus-rumus baku yang cenderung dijadikan panduan praktis dalam pemahaman dan praktik hidup keseharian. Nampaknya memang manusia butuh kepastian. Dengan kepastian ada kemapanan dan kenyamanan. Rumah dogma agama itu sudah berdiri kokoh. Sampai kapan?

Lama-lama kita dewasa dan mendapati pengalaman hidup yang ambigu dan abu-abu. Kita berjumpa dengan berbagai paradoks dan kontradiksi yang tak selalu dapat diselesaikan dalam rumus baku. Ketika itulah kenyamanan kita terganggu. Untuk mengatasinya, segala yang tak pasti coba kita atasi dengan kita sangkal atau lekas kita singkirkan. Tak cukup kita renungkan pelan-pelan dengan tabah.

Namun apa benar bahwa dalam hidup ini, segala urusan dapat diselesaikan dengan dogma, fatwa atau formula? Bukankah dalam hidup ini kita mengenal cinta, sesuatu yang di dalamnya kita berjumpa dengan ambiguitas dan absurditas. Ruang abu-abu yang kaya ekspresi. Sesuatu yang tak serta-merta dapat terhenti dalam sebuah definisi. Sesuatu yang justru hidup dan menggairahkan dalam imajinasi. Justru itulah cinta begitu indah dan memesona.

Puisi adalah salah satu ekspresi yang menampilkan imajinasi tanpa batas itu. Bahasa, rima, bunyi, suku kata, menjadi sebentuk ekspresi. Ia bukanlah bidang-bidang batu bata atau dinding yang dapat ditakar dengan satu neraca. Ia menjelma makhluk yang multitafsir. Akan menjadi kering jika bahasa-bahasa puisi dimengerti sebatas harafiah dan tekstual. 

Aku membaca banyak puisi, termasuk yang nyrempet-nyrempet soal agama. Lama-lama aku sadar, justru dengan puisi-puisi itu, agama makin dijernihkan, dipertajam dan diperkaya. Bukan dinista. Aku sadar, selama ini caraku beragama terlalu kaku dan baku, miskin imajinasi. Maka aku pun mudah tersinggung sana-sini. Semua itu sekadar akibat dari kemapanan dan kenyamananku saja yang terganggu. Setelah aku sadar, puisi justru membantuku dengan ikhlas menertawakan agama. Lebih tepatnya menertawakan caraku beragama.

Juga, aku sadar bahwa selama ini aku menutup mata pada warisan kitab suci dan ajaran agama yang sesungguhnya amat puitis dan simbolis. Hanya saja, selama ini terlanjur kupahami secara kaku. Jangan-jangan memang ini soal cara kita beragama. Bahkan, puisi tanpa memakai lema yang agamis pun, sesungguhnya adalah puisi yang religius, kan. Di dalamnya sering tersimpan makna-makna teologis yang mendalam. Bahwa seni merupakan cara Tuhan mewujud dan menyapa kita pula. 

Mungkin perlu juga kita mencermati kembali pengertian puisi menurut KBBI:
puisi/pu·i·si/ n 1 ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak;

Semoga dengan puisi, cara kita beragama tidak miskin imajinasi.  

Komentar