KITAB SUCI ITU HANYA TULISAN

Pagi tadi, setelah bangun seperti biasa, saya bersila diam sekitar satu jam, lalu membaca warta yang  berisi: meskipun para murid mempunyai dan membaca, tentu juga merenungkan kitab suci, tetapi baru setelah SANG GURU menjelaskan, para murid mengerti makna atau maksud kitab suci itu.

Warta ini berarti bahwa kitab suci itu hanya tulisan, benda mati. Kitab suci itu bukan secara otomatis merupakan Sabda Allah. Kitab suci itu menjadi Sabda Allah ketika difungsikan oleh Allah, yaitu di satu pihak Allah berkenan memakai kitab suci itu sebagai alat untuk bersabda dan di pihak lain, orang yang membaca serta merenungkan kitab suci itu bersedia membuka hati untuk merasakan kehadiran Allah sehingga juga mendengarkan Allah yang sedang bersabda, meskipun tidak ada suara apa pun.

Dalam hal ini, yang lebih utama bukan kitab sucinya, tetapi Allah, yang dirasakan kehadiran nya oleh si pembaca kitab suci itu. Kalau yang diutamakan kitab sucinya, bisa salah. Kesalahan itu antara lain menganggap kitab suci itu mutlak. Loh, la apakah kitab suci itu tidak mutlak? Memang tidak. Sebab yang mutlak itu hanya satu yaitu Allah. Selain Allah tidak ada yang mutlak. Kitab suci itu juga tidak mutlak. Buktinya, pemaknaan atau peng-artian kitab suci bisa berubah. Dulu dimaknai atau diartikan begitu, dalam perkembangan jaman ternyata makna atau arti itu ditinggalkan lalu diganti dengan makna atau arti yang baru. Yang benar itu memang begitu. Yaitu bahwa Sabda yang disampaikan Allah itu selalu relevan, setiap saat baru, bukan beku, mati dan kaku.

Kalau orang memutlakkan kitab suci, itu berarti justru meng-ilah-kan kitab suci, atau menganggap dan memperlakukan kitab suci itu sebagai Allah. Sayangnya, seringkali tanpa disadari ada bahkan mungkin banyak orang yang bersikap dan bertindak demikian ini.

Ada sebuah kisah, seorang bapak menunjukkan bintang kepada anaknya. Bapak itu menggunakan jari telunjuk untuk menunjuk bintang itu. Anak itu mendongak dan memperhatikan telunjuk bapaknya. Lalu ia berkesimpulan bahwa bintang itu bulat dan memanjang persis seperti jari. Padahal jari telunjuk itu hanya alat untuk menunjuk bintang.  Sayang anak itu tidak memperhatikan bintang, tetapi memperhatikan telunjuk bapaknya, yang menunjuk ke bintang. Begitu pula orang yang menganggap kitab suci itu mutlak, akan berhenti di kitab suci, padahal kitab suci itu petunjuk kepada Allah. Semestinya yang diperhatikan Allah. Yang dirasakan kehadiran dan didengar sabdanya itu Allah.

Jadi, yang mesti dibangun adalah hubungan dengan Allah, sehingga sungguh-sungguh merasakan kehadiran Allah sebab hanya dengan demikian (tegasnya: memiliki hubungan dan merasakah kehadiran Allah) dapat mendengar sabda Allah. Tanpa begitu, kitab suci itu tidak mempunyai arti apa-apa kecuali hanya sekedar tulisan, yang mungkin dapat dihapalkan tetapi tidak membangun hidup dan kesadaran. Seperti para murid yang meskipun sudah membaca, mungkin malah berulang kali, tetapi belum memahami makna atau maksudnya. Hanya setelah dijelaskan oleh SANG GURU mereka memahami makna atau maksud kitab suci itu. Jadi, (sekali lagi), relasi dan merasakan (menyadari) kehadiran Sang Guru yang menentukan, bukan kitab sucinya.


Komentar