KARTINI-AN

 

Di harian Pikiran Rakyat, 17 Maret 2017, dimuat berita bahwa tingkat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat ke 60 dari 61 negara yang dijadikan survey oleh Central Connecticut State University pada 2016, dengan judul penelitian "Most Literate Nation in the World."  Hasil itu kemudian dipublikasikan oleh Unesco.

Kenyataan yang terungkap lewat survey itu sejatinya sangat membuat pilu. Hati sangat sedih dan sakit seperti teriris sembilu. Di satu pihak, anak bangsa ini ada bahkan cukup banyak yang cerdas dan cemerlang pemikirannya. Akan tetapi, di pihak lain, minat baca masyarakat sangat rendah. Artinya, terlalu banyak anak bangsa ini yang tidak memiliki minat untuk membaca, dan dengan demikian kemampuan menulisnya juga jelek. Kabar tentang adanya jasa membuat skripsi dan adanya plagiasi untuk mendapatkan gelar sarjana bahkan untuk gelar doktor, adalah contoh kenyataan jeleknya kemampuan menulis.

Kata kunci penyebab semua itu adalah kurang atau bahkan tidak ada MINAT.

Betapa bedanya para anak bangsa sekarang ini, yang hidup di masa tidak terjajah bangsa lain (asing), dengan Kartini. Para anak bangsa sekarang ini sebenarnya sangat dimanjakan dengan berlimpahnya bahan bacaan. Buku, e-book, jurnal, laporan penelitian/survey, harian, majalah, buletin, dll. tersebar. Akan tetapi, para anak bangsa sekarang ini kurang bahkan tidak memiliki MINAT baca. Sedangkan Kartini, yang hidup di akhir abad 19, ketika bacaan masih langka, terlebih lagi Kartini itu dikurung di dalam kamar, "dipingit,"  namun ia mampu menuliskan berbagai pokok pikiran (topik). Tulisan Kartini juga dimuat di majalah wanita De Hollandsche Lelie. Yang paling terkenal buah tulisannya adalah kumpulan surat-menyurat yang kemudian diterbitkan sebagai buku "Habis Gelap terbitlah terang."  Kemampuan menulis itu dapat dipastikan karena Kartini memiliki MINAT baca. Salah satu buku yang digemarinya adalah "Max Havelar" karya Multatuli, yang nama aslinya adalah Eduard Douwes Dekker. Kartini yang dipingit tetapi tetap saja bisa "mencuri" untuk membaca dan menulis.

Kartini sudah terlanjur lebih diperkenalkan sebagai pejuang emansipasi wanita. Yang lebih menyedihkan sekarang ini Kartini lebih diperingati HANYA dengan berkebaya dan bersanggul. Yungalahhh. Meskipun Kartini memang berjuang keras untuk melawan feodalisme dan patriarchalis, namun sesungguhnya yang lebih menonjol dari diri ibu Kartini adalah kebebasannya berfikir.  Oleh sebab itu, sosok Kartini semestinya dijadikan inspirasi kebebasan berpikir yang mewujud dalam budaya membaca dan menulis. Memperingati Kartini, dengan demikian, semestinya bukan perihal berdandan dan berpakaian melainkan perihal menumbuh-kembangkan budaya membaca dan menulis sebagai latar belakang (cikal bakal) dan pemupuk kebebasan berpikir.

MINAT membaca dan menulis itu mesti dimulai sejak anak masih "merah." Bayi layak diperkenalkan dengan kertas. Memang kertas itu akan dirobek-robek, namun dengan demikian si bayi mulai mengenal dan nantinya, seiring dengan pertumbuhan usia dan kemampuannya, akan merasa akrab dengan kertas dan kertas bertulisan. Keakraban itu merupakan cikal bakal kegemaran (minat) membaca. Orang tua juga mesti selalu membacakan buku untuk anaknya, yang belum bisa membaca, sehingga menimbulkan kebiasaan membaca ketika anak itu sudah bisa membaca. Ya, keluarga, orang tua, memang memegang peran penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan minat baca anak.

Sudah saatnya hari Kartini bukan dirayakan dengan berdandan dan berpakaian, melainkan dengan membaca dan menulis. Sudah saatnya Kartini ditokohkan bukan hanya dalam hal emansipasi wanita, tetapi terlebih lagi dalam hal kebebasan berpikir, menjadi orang yang sungguh-sungguh merdeka.

 

 


Komentar