zakeus di jawa

diambil dari http://bit.ly/2G6Ln7O
kemaren saya kedatangan seorang tamu, namanya zakeus.
orang pekalongan yang berada di bandung karena menjalani studi S2. 
dia yang badannya kurus agak tinggi itu datang dengan bersepeda lipat dan ransel penuh buku di punggungnya.
dia memang penjual buku.
dan pengetahuannya luas. 
ketika ia melihat buku-buku di meja saya, dia bisa segera menemukan hubungan-hubungan satu buku dengan lainnya.
dengan sepeda lipat bekas yang dibelinya via online itu dia klinong-klinong keliling ke banyak toko buku bekas di jalan dewi sartika untuk kemudian dijual lagi di jaringan media sosial.
dengan begitu dia survive: mampu membeli buku kuliahnya dari menjual buku.

ketika saya tawari kopi kintamani kebanggan saya, ia membubuhinya dengan gula.
"ndesa tenan", batin saya, "kopi seenak itu dicemari oleh gula".
lha memang dia ndesa, penampilannya bersahaja, dan omongannya lugu. dari situ jelas bagi saya bahwa aslinya orang ini rendah hati.

beda dari zakeus yang di kitab suci diceritakan tidak tinggi tubuhnya, zakeus teman saya ini agak tinggi tubuhnya namun rendah hati. wawasannya luas, seperti luasnya pemandangan orang yang sedang naik pohon.
"hebat" demikian batin saya. orang ini melestarikan nama zakeus tidak secara visual, namun secara konsep.

ada kalanya kita mengadopsi suatu ide itu hanya dari segi visualnya. ide tentang zakeus di kitab suci yang pendek tubuhnya, ketika kita kenakan pada situasi kita di masa kini juga dicocokan pada orang yang tubuhnya ada miripnya secara visual dari zakeus di kitab suci. 
ketika kita mau menjadi jawa -misalnya juga- maka yang kita ambil adalah segi-seginya yang kelihatan: busana, ikat kepala, bahasa yang dhakik-dhakik, dst. bukan konsep-konsep atau hal yang ada di balik tampilan yang kelihatan oleh indera tadi.

mengonseptualisasi suatu penampilan artinya adalah melakukan abstraksi terhadapnya. yang dengan cara itu maka akan diperoleh kemungkinan-kemungkinan perwujudan visual yang lebih banyak. juga, kemampuan mengabstraksi membuat kita bisa menerima keragaman dari sebuah ide atau konsep yang satu.

ketika kita melihat bahwa orang jawa itu ada yang seperti sedulur sikep, orang ngapak, orang baduy, orang sunda wiwitan, orang tengger… selain orang-orang bangsawan surakarta dan yogyakarta, maka kita akan tahu bahwa satu istilah "jawa" sebagai ide atau konsep itu amat beragam penampilan visualnya.

menerima keragaman dan menyatukannya sebagai sebuah ide, itu lebih baik dilakukan, katimbang membikin keragaman itu menjadi satu secara visual. misalnya: membuat orang sikep berbahasa krama seperti orang sala. membuat orang ngapak bicara dengan bahasa bandhek, dan seterusnya. yang terakhir ini adalah suatu pemaksaan satu versi terhadap yang lain, seolah-olah ia bisa mewakili versi lainnya.

istilah ecclesia [yang secara hurufiah berarti campuran, kelak menurunkan istilah gereja] juga mengandung gagasan seperti itu. istilahnya satu, namun di dalamnya adalah campuran orang dari berbagai jenis, kultur, usia, asal-usul, gender, status ekonomi, status sosial dsb. yang semuanya diterima sebagai bagian dari anggota suatu badan.
menjadi anggota gereja, sama seperti menjadi jawa, adalah menjadi bagian dari kepelbagaian, keragaman yang harus diterima. 
terlebih menjadi anggota gereja kristen jawa, tentu sikap untuk menerima kepelbagian itu sudah seharusnya tertanam dalam jiwa warganya.
haning...?

Komentar

Posting Komentar