ketakutan dan harapan


ada seorang jendral yang dalam suatu forum mengabarkan semacam peringatan bahwa negara indonesia akan bubar di tahun 2030. peringatan ini dipungutnya dari sebuah novel yang memang menyinggung-nyinggung perkara bubarnya negara indonesia.
peringatan itu dibawakan dengan berapi-api, penuh semangat, untuk membangun kepercayaan pendengarnya bahwa kemungkinan buruk seperti itu benar bisa dipercaya terjadi.
dapat kita duga, bila mereka sudah percaya, tinggal diyakinkan bahwa ada seseorang yang kuat yang bisa dipercaya untuk mencegahnya. sebab, kita semua tahu bahwa orang tidak bisa lama bertahan dalam ketidakpastian. ketidakpastian mendatangkan kecemasan, bahkan ketakutan.

tapi ada cara lain dalam menyikapi ketidakmenentuan masa depan, yakni dengan membangun harapan pada diri sendiri. dengan harapan [dan kepercayaan] seperti itu bisa menimbulkan sikap disiplin diri, kesiapan diri, ketabahan, kesabaran, sehingga ujung-ujungnya justru suatu sikap yang positif menghadapi dunia yang memang dari sononya sudah sulit ini.

yesus yang sudah sadar tidak bisa menghindari "cawan kesengsaraan" bakal mengakhiri hidup dengan memasuki yerusalem. ia telah membuat persiapan sebelumnya: ia telah memesan keledai tunggangan yang tinggal diambil oleh muridnya, ia dikisahkan oleh penginjil sebagai pemenuhan nubuat zakaria yang dielu-elukan sebagai raja yerusalem. 

bagi orang-orang yerusalem yang menyambutnya dengan lambaian daun palma, ia adalah representasi pengharapan mereka akan keselamatan: "selamatkan kami sekarang" atau dalam bahasa aslinya "hosanna".

tapi, yesus meratapi kekeliruan pandangan mereka tentang harapan itu. 
ada yang harus diubah, yakni mengubah orientasi harapan: bukan berharap pada orang lain, namun menjadikan diri siap siaga mewujudkan keinginannya sendiri.
dan untuk itu yesus memberikan teladan di hari-hari selanjutnya: sengsara dan wafat dalam memenuhi tugas perutusannya.

kita seringkali "menyuruh" tuhan untuk mewujudkan keinginan kita. permintaan ini dan itu memenuhi doa-doa kita. kita berlaku itu karena tuhan kita anggap maha segalanya: kuat, kaya, peng-pengan….
tapi, mengapa tidak meneladan yesus memohon kekuatan, ketabahan, kesabaran diri agar bisa melaksanakan tugas perutusan tuhan bagi kita sendiri?
sekarang, ketika menulis ini, saya juga cemas dan kadang takut dengan masa depan hidup saya sendiri. lalu bagaimana saya menenangkan kecemasan ini? dengan bekerja sedikit demi sedikit, menyelesaikan tugas semampu badan sendiri.
jadi, saya setuju dengan pendapat salah satu tokoh bangsa kita bahwa ada yang harus diubah secara mendasar, secara revolusioner dari bangsa indonesia ini: yakni mentalnya.

Komentar

Posting Komentar