gandhi & kegelisahannya (review buku Gandhi on Christianity)




Buku ini berisi tentang pandangan Gandhi tentang Kristen serta respon balik Kristen terhadap Gandhi. Tanpa basa-basi, buku ini mengawali dengan kesan negatif Gandhi terhadap agama Kristen. Gandhi mulai menaruh benci terhadap agama Kristen ketika menyaksikan ada misionaris mengeluarkan kata-kata kotor menghina agama Hindu dan dewanya. Rasa tidak sukanya bertambah ketika mendengar ada orang Hindu yang dikabarkan “bertobat”, dibaptis dan memasuki agama Kristen dengan memiliki gaya hidup ke Eropa-eropaan. Ia tidak terlihat sebagai orang India lagi ketika telah makan daging dan minum anggur serta mengganti pakaian rakyatnya dengan kostum Eropa lengkap dengan topi serta sepatu. Dan ditambah lagi meninggalkan bahasa daerah, bahasa ibu dan mengganti dengan bahasa Inggris. Inilah yang membuat Gandhi gelisah. Kenapa berpindah agama harus diartikan juga dengan berubah identitas seluruhnya termasuk budaya?

Perjumpaan dengan ajaran Kristen yang lebih mendalam terjadi saat Gandhi belajar di Inggris dan berjumpa dengan seorang Kristen yang dianggapnya baik. Sebagai seorang Kristen dia vegetarian dan tidak minum anggur. Ia terkejut mendengar cerita-cerita Gandhi tentang misionaris yang memalukan di India. Ia pun memberikan Alkitab kepada Gandhi. Gandhi mulai membaca Alkitab. Dengan jujur Gandhi mengatakan bahwa Perjanjian Lama itu membuatnya pusing! Ia lebih tertarik kisah-kisah Yesus serta pengajaran-Nya yang sangat humanis. Gandhi semakin diperkaya akan pengajaran Kristen ketika bekerja di Afrika. Hanya saja, ia mulai risau dengan pemahaman-pemahaman kharismatis tentang pertobatan... keselamatan... Dalam sebuah percakapan dengan seorang Kristen yang fanatik, Gandhi terlihat marah ketika diminta untuk bertobat dari dosa-dosanya, yakni ke-Hinduan dan ke-Indiaannya. 

Pandangan Gandhi terhadap Yesus pun dipaparkan melalui pidato-pidatonya. Beberapa bagian yang menarik adalah Gandhi melihat sosok Yesus sebagai seorang ahli ekonomi! Hal ini didasari setelah ia membaca bagian Injil yang menuliskan syarat mengikut Yesus adalah menjual seluruh barang miliknya dan membagi-bagikan uang hasil penjualan kepada mereka yang membutuhkan. Inilah hukum ekonomi yang tidak melulu mencari keuntungan untuk diri sendiri, tapi memperhatikan mereka yang membutuhkan. Gandhi tidak peduli tentang sejarah Yesus. Baginya Yesus bukanlah tubuh-Nya tapi Firman-Nya. Pengajaran-Nya! Bagian Alkitab yang menjadi favorit Gandhi adalah khotbah di bukit. Betapa kebahagiaan itu bukan untuk mereka yang kelebihan tetapi justru yang kekurangan! Inilah yang sangat menginspirasi hidup Gandhi.

Sayangnya misionaris pada waktu itu tidak ngristeni! Mereka memandang dibaptis dan masuk gereja adalah satu-satunya jalan keselamatan. Di luar itu sesat! Kegelisahan Gandhi memuncak ketika para misionaris menerapkan konversi agama yang diartikan secara sempit : kristenisasi. Pokoknya misinya di India ya untuk menarik orang-orang Hindu, menelanjanginya dari pakaian budaya lokal dan memberikan pakaian yang baru : Kristen. Bagi Gandhi, konversi agama tidak harus seperti itu. Konversi adalah hidup yang lebih berdedikasi kepada negara, berserah penuh kepada Tuhan, dan memurnikan dirinya – tanpa berpindah agama. Ketika masing-masing umat melakukan konversi menurut ajarannya sendiri, Gandhi meyakini arahnya sama yaitu kepada satu Tuhan yang disembah dan berdampak kasih yang membangun.

Begitu kerasnya Gandhi mengritik misionaris waktu itu yang dianggap gagal menyebarkan Injil. Kritik Gandhi melalui buku ini menurut saya pun juga ditujukan kepada Kristen pada saat ini. Misi gereja bukanlah memaksa orang-orang untuk masuk ke dalam gedung gereja. Tetapi sebaliknya, memaksa gereja keluar dari gedungnya dan menyebar damai sejahtera di pasar, pesisir, pabrik, sekolahan, hingga sampai ujung bumi.





Judul Buku : Gandhi on Christianity
Editor         : Robert Ellsberg
Penerbit      : LKIS Yogyakarta
Tahun         : 2004

Komentar