DOA

Ki Atma menjawab pertanyaan anda

Pertanyaan
Di RAT Koperasi "RUMANTI" saya (Ki Atma) menyatakan bahwa tidak ada doa Kristen, Islam, Hindu, dsb. Doa ya doa. Bagaimana penjelasannya?

Jawab
Doa itu ditujukan kepada siapa? Jawabnya  pasti Tuhan. Nah, Tuhan orang Kristen, itu sama atau tidak dengan Tuhan orang Islam? Hindu? Jawa, dsb? jawab saya: sama. Kalau tidak sama berarti ada lebih dari satu Tuhan, dan Tuhan itu tidak Mahakuasa. Tuhan itu sama, tetapi  ada orang beragama yang merasa bahwa hanya yang disembah nya itu Tuhan, sedadngkan yang disembah orang lain itu bukan Tuhan. Itu terserah mereka. Yang jelas dan pasti yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya itu hanya satu yaitu Tuhan.  Tuhan itu mau disebut apa ya tetap saja Tuhan. Disebut Yahweh (Adonai), Allah,  Sing Gawe urip, Hyang Widi, dsb ya tetap saja: Tuhan.
Doa yang ditujukan kepada Tuhan itu ya doa. Ada yang menambahi dengan Al fatihah, ada yang menambahi dengan "dalam nama Yesus" ada yang tidak menambahkan apa-apa (misalnya orang Jawa). Tambahan-tambahan itu tidak mengurangi atau menghilangkan atau mengubah hakikat doa, yaitu doa. Tuhan tidak akan hanya memperhatikan doa yang ditambahi al fatihah dan tidak memperhatikan yang tidak ditambahi, atau ditambahi dalam nama Yesus, dan sebaliknya hanya memperhatikan doa yang tidak ditambahi, atau ditambahi dalam nama Yesus, dan tidak memperhatikan yang ditambahi al fatihah. Doa itu ya doa. Doa juga bisa diungkapkan dengan bahasa Arab, Jawa, Indonesia, dsb. Doa tidak akan berubah hakikatnya hanya karena diungkapkan dengan bahasa tertentu, misalnya Arab, atau Jawa, dsb. Doa itu ya doa.
Karena doa itu ditujukan kepada Tuhan, maka tidak perlu mengajak orang beragama lain untuk mendukung doa dengan doa mereka masing-masing, tetapi mengajak untuk berdoa bersama-sama. Bahwa di akhir doa akan ditambahi "dalam nama Yesus" ya terserah, atau al fatihah ya terserah. Sekali lagi tambahan itu itu tidak mengurangi, atau menambah, juga tidak mengubah, tidak menghapus hakikat doa.  

Tambahan
Di Indonesia yang kita cintai ini agama itu justru sering dijadikan alat pemisah, pengkotakan, bahkan alat perusak.  Ini arus kuat yang terjadi. Tidak banyak orang yang sadar kelemahan, bahkan kejahatan dari arus kuat ini. Oleh sebab itu wajar banyak orang yang mengikut saja bahkan dengan bangga ikut dalam arus kuat ini. Hanya sedikit orang yang SADAR, dan berani melawan arus kuat ini. Sebenarnya kalau arus kuat ini dibiarkan saja, akan merusak dan menghancurkan Indonesia. Namun, sekali lagi sedikit saja orang yang SADAR, dan berani dengan gagah berjuang untuk keutuhan dan kelestarian Indonesia, seraya menjalani cara hidup yang sungguh-sungguh benar, meskipun itu melawan arus kuat. Contoh:
Saudara Muslim mengucapkan salam assalam mualaikum. Salam itu, yang hakikat atau intinya baik, mulia, luhur, telah menjadi alat pemisah bahkan pembeda jelas antara orang Muslim dengan yang bukan muslim, padahal sama-sama warga bangsa Indonesia. Aduh biyung, yang Kristen lalu mengucapkan salam shalom. Yang Kristen juga setuju untuk membedakan Kristen dari yang lain. Mari pikirkan mendalam dahoeloe leloehoer menghapus kebanggaan suku (Jong Java, jong Sumatra, dsb) menjadi hanya satu pemoeda Indonesia. La kok sekarang malah orang membedakan orang Islam, Kristen, dsb. Apakah kalau bersalam "shalom" lalu ada kebaikan yang bertambah? mbelll!!! Apakah kalau hanya bersalam "selamat pagi, atau malam" kebaikan nya berkurang? mbelll!!! Kebaikan itu ditentukan oleh tindakan konkret, nyata, menolong, membantu bahkan membela orang lain. Almarhum Gus Dur itu sungguh orang baik, yang membela orang Kong Hu Chu sehingga diakui sebagai beragama, yaitu beragama Kong Hu Chu. Gus Dur pula yang membela saudara etnis China sehingga sekarang orang bebas menggunakan bahasa China (misalnya mandarin), juga menjalankan seni budaya China, seperti liang liong, barongsai, bahkan hari imlek, tahun baru China, dijadikan hari libur nasional.
Ajakan saya, mbok mari kita membangun Indonesia. Meruntuhkan, merobohkan tembok-tembok pemisah, pengkotakan, pembeda lalu menumbuh-kembangkan ke-satu-an sebagai bangsa meskipun berbeda-beda. Jangan tonjolkan bedanya, tapi tonjolkan ke-satu-an kita, tanpa menghapus keperbedaan. Di banyak kesempatan saya menegaskan bahwa yang dibutuhkan bangsa Indonesia itu bukan toleransi, tetapi perwujudan dari kemanusiaan yang adil dan beradab. Toleransi itu membiarkan orang lain, tidak menggangunya. Kita butuh lebih dari itu. Kita butuh perwujudan nyata dari kemanusiaan yang adil dan beradab. Saya bukan hanya membiarkan orang lain, tidak mengganggunya, tetapi saya memperhatikan mereka dan meskipun tidak diminta saya menawarkan diri untuk membantu, menolong, membela mereka, sebab saya sadar bahwa mereka itu sama persis dengan saya. Ini sila ke-2 dari Panca Sila to
Kecenderungan menonjolkan perbedaan itu akan menghancurkan Indonesia yang kita warisi dari pengurbanan jiwa, raga, harta para leluhur, pejuang kemerdekaan Indonesia. La sekarang ini orang cenderung menonjolkan perbedaan itu. Kubur saja juga dibedakan. Yang Kristen ber(di)kubur bersama yang bukan Islam (Hindu, budha, dll) sedangkan yang Islam tersendiri. La kok yang Kristen ya manut, ikut, malah bangga bisa memiliki kubur sendiri tidak bersama dengan yang muslim. Alasannya yang muslim tidak mau to? Justru kecenderungan demikian itu yang harus dikikis dan syukur dihapuskan. Itulah perjuangan yang masih harus dilakukan, bukan malah menyerah. Pasti alasannya: la itu sulit kok? Kalau bukan sulit itu bukan perjuangan to? Mengusir penjajah saja kita bisa, karena memang ada niat dan tekat bulat, pantang menyerah.  Memang jalan masih sangat panjang, perjuangan mesti harus terus dilakukan. Semoga mereka yang berani melawan arus kuat tidak melemah, tetapi tetap tegar dan tegas, dan akhirnya Indonesia sungguh Jaya.


Komentar