BERTANYA dan JAWABAN


Baru dua hari Stephen Hawking meninggal sudah beredar kabar bahwa sebelum meninggal dia menyatakan bertobat. Tegasnya ia tidak lagi atheis, tapi percaya kepada Allah. Entah berita itu benar atau tidak. Mungkin saja berita itu tidak benar. Saya sendiri meragukan kebenaran berita itu. Agak sulit saya bayangkan kalau Stephen Hawking yang merupakan ilmuwan itu kemudian beragama. Ini bukan karena ilmu dan iman (agama) itu bertentangan, tetapi karena keduanya memiliki methodologi memang benar-benar berbeda sama sekali.
Ilmu itu lebih cenderung bertanya. Apa, mengapa, kapan, siapa, bagaimana dan pertanyaan-pertanyaan lain adalah  pertanyaan-pertanyaan yang mesti diajukan terhadap apa pun juga. Ilmu justru mulai dari pertanyaan. Pertanyaan pertama mesti menimbulkan pertanyaan berikutnya. Sehingga pertanyaan dan jawaban itu menjadi lingkaran spiral yang tidak putus. Bisa juga pertanyaan itu berhenti, yaitu ketika jawaban itu diuji berulang kali hasilnya (jawabannya) sama. Demikianlah ilmu berkembang karena pertanyaan yang tidak pernah berhenti.
Berbeda halnya dengan agama (iman), yang cenderung dengan memberi jawaban dan seolah enggan kalau ada pertanyaan. Tentang alam, misalnya, darimana asalnya? Jawabannya pasti, yaitu diciptakan dari Allah. Titik!!!. Tidak boleh bertanya lagi. Kalau bertanya lagi itu berarti tidak beriman. Itu berarti murtad, memberontak kepada Allah. Itu dosa.
Karena kecenderungan memberi jawaban itu maka di kalangan umat Kristiani semua hal, masalah, pertanyaan, problem, dsb dapat dijawab dengan satu jawaban, yaitu Yesus. Jesus is the answer. 
Lahh, wong pertanyaan, masalah, persoalan, problem nya saja belum ada, belum jelas, la kok sudah ada jawabannya.
Memang tidak semua orang di antara umat Kristiani yang berkecenderungan memiliki sikap demikian itu. Ada pula yang meyakini otak dan kemampuan bernalar itu adalah anugerah, maka juga layak digunakan. Inilah pertanggung jawaban atas anugerah itu. Tidak mau tiba-tiba saja memberi jawaban terhadap semua masalah, problem, persoalan, dsb dengan  satu jawaban: Yesus.  Melainkan justru bertanya, dan bertanya. Teologi, yang secara ringkas dapat disebut sebagai ilmu tentang Tuhan Allah, dikembangkan bukan untuk menjawab, tetapi justru bertanya. Pertanyaan: "benarkah Alkitab ini Sabda Allah?" misalnya, melahirkan pertanyaan baru, dan seterusnya hingga kini pertanyaan "benarkah Alkitab itu Sabda Allah?" belum ada jawaban selesai, tuntas.
Apakah itu berarti tidak ada kepastian? Itu berarti "kebenaran"  yaitu jawaban atas pertanyaan pertama itu diterima dan dipegangi tetapi tidak dikukuhi secara mutlak. 
"Kebenaran" bisa saja dikoreksi oleh "kebenaran" baru, sebab memang disadari bahwa yang mutlak itu hanya satu, yaitu Allah. 
Oleh sebab itu sikap dan tindakan yang layak dilakukan adalah rendah hati dan merendahkan diri di hadapan Allah, tidak menganggap tahu segalanya dan semuanya, tidak gegabah memberi jawaban, tetapi justru bersedia bertanya dan bertanya, sambil menerima dan memegangi "kebenaran" (yaitu jawaban atas pertanyaan) tetapi tidak mengukuhi secara membabi buta.

Komentar