TAKUT KEPADA TUHAN

Di acara ILC, pak Salim Said pernah menyatakan bahwa Indonesia ini tidak bisa maju sebab tidak ada yang ditakuti, bahkan Tuhan pun tidak ditakuti.
Semua warga negara Indonesia adalah orang beragama. Semua mengaku menyembah Tuhan. Salah satu indikasinya banyak tempat beribadah di seluruh pelosok tanah air ini. Siapa pun yang berbicara di muka umum, selalu memulai pembicaraannya dengan salam yang menyebut nama Tuhan, mengajak memuja dan memuji Tuhan serta bersyukur kepada Tuhan yang melimpahkan berkat.  Akan tetapi, perilaku kesehariannya banyak yang tidak mencerminkan ajaran agama. Kaum elite negeri ini justru menunjukkan perilaku biadab, yaitu merampok harta kekayaan negeri ini, dan ketika tertangkap lalu diproses hukum menampilkan diri seolah-olah seorang yang sangat taat beragama. Yang lebih parah lagi ada yang menyatakan bahwa korupsi tidak apa asalkan itu untuk kepentingan agama. Demikianlah di negeri ini Tuhan hanya disebut tetapi tidak perintah-Nya diabaikan, larangan-Nya dilanggar.  
Takut akan Tuhan adalah permulaan segala hikmat, demikian nasihat orang bijak. Dalam bahasa Jawa kata takut itu diungkapkan dengan sangat tepat, yaitu wedi-asih. Takut yang diliputi dan diwarnai cinta. Bukan takut dijatuhi hukuman, melainkan karena mencintai-Nya maka perintah-Nya diperhatikan dan dijalani, larangan-Nya dijauhi. Perilaku dan hidup yang demikian itu merupakan awal dari hikmat. Orang berhikmat itu menempatkan diri dan bertindak secara benar dan tepat (Jawa: bener lan pener).
Kesalahan terbanyak dan terbesar warga bangsa ini adalah menandai dan mengukur kesalehan dari tindakan menjalani ritual agama. Kalau yang beragama Islam rajin sholat dan setiap hari Jumat selalu sholat berjamaah, yang Kristen rajin beribadah pada hari minggu, demikian juga dengan orang-orang yang beragama lain. Memang semua itu perlu dan penting, tetapi lebih perlu dan penting adalah perwujudan nyata semua yang didapatkan dalam ibadah itu di perilaku sehari-hari dalam pergaulan dengan orang lain. Bukan hanya kesalehan ritual tetapi terlebih lagi adalah kesalehan sosial.
Bangsa lain yang tidak beragama (atheis), antara lain berbagai bangsa Eropa, karena tidak menyembah Tuhan, tidak mengukur kebaikan hidup dari kesalehan ritual. Mereka lebih mengukur kebaikan seseorang dari sikap dan perlakuan mereka terhadap orang lain. Bagi mereka aneh kalau ada orang tidak antri, sebab perilaku tidak antri itu jelas merugikan diri sendiri dan orang lain, yaitu mengakibatkan kesemrawutan. Itulah sebabnya mereka lebih memiliki kesalehan sosial dibandingkan bangsa Indonesia. Mereka lebih memiliki perilaku baik, budi pekerti luhur daripada bangsa Indonesia. Tidak ada cara lain agar bangsa Indonesia ini maju, setiap orang, setiap individu mesti menekankan penting dan perlunya menjalani kesalehan sosial, sangat memperhatikan penting dan perlunya berbuat baik kepada orang lain.


Ki Atma

Komentar