PERSPEKTIF

Perspektif

Ada orang sakit yang wajahnyaselalu keruh dan tidak pernah berhenti mengeluh. Ada orang sakit parah yang wajahnya selalu tersenyum dan tidak henti mengucapkan kata "syukur."
Ini soal perspektif, soal cara pandang. Orang yang sakit dan wajahnya keruh dan selalu mengeluh menganggap, memandang, menyikapi sakit itu sebagai derita yang rasanya sangat berat untuk ditanggung. Ia ingin segera sembuh sehingga badan terasa nyaman, tidak merasa menanggung beban di sini begini, di bagian itu begitu, di bagian sana demikian, dst. Sebaliknya, orang yang sakit yang di wajahnya selalu tersenyum dan terus saja mengucapkan kata "syukur" memandang, menganggap, menyikapi sakit sebagai hal yang lumrah atau biasa. Beban itu ditanggung tanpa mengeluh sebab meskipun terasa berat dia juga tahu bahkan sadar mengeluh tidak mengurangi beratnya beban derita itu. Sebaliknya dengan tersenyum dan bersyukur beban berat itu tetap terasa berat tetapi mampu ditanggung nya sebab tidak tertambahi beratnya perasaan negatif.
Sepasang suami-isteri yang telah berumur 75 tahun lebih, Bp. soetijono dan ibu Susetyaningtyas, mempunyai sebuah rumah di sebidang tanah, bu Tyas terkena kanker ganas di rahangnya, sehingga harus menjalani operasi membuang rahang, dan penyinaran untuk membunuh sel-sel kanker. Karena tidak memiliki rahang maka juga tidak bisa makan. Ia hanya bisa menelan cairan. Asupan setiap harinya adalah minum jus, susu khusus, dan bubur sumsum atau makanan yang mesti dilembutkan sedemikian sehingga menyerupai bubur sumsum atau minuman.
Meskipun mereka mempunyai anak yang cukup kaya dan pasti bisa menanggung biaya pengobatan yang sangat mahal itu, tetapi mereka berdua sudah berkeputusan untuk tidak merepotkan anak, sebab anak pasti juga menanggung kebutuhan mereka sendiri. Oleh sebab itu mereka memutuskan untuk menjual rumah dan pekarangan, satu-satunya harta yang mereka miliki.
Ketika dijenguk bu Tyas berucap: "saya ini sekarang menjadi wanita paling cantik di dunia" Ya, kemana pun ia pergi ia harus memakai payung, sebab wajahnya yang setiap hari disinar laser itu memang tidak boleh terkena sinar matahari. Ia juga merasa menjadi wanita paling cantik, karena cukup dimanja oleh suaminya. Sang suami yang menyiapkan apa pun untuk mandi, makan, dsb. perlakuan itu dirasa seperti cara dayang-dayang memanjakan seorang putri raja besar.
Ketika suatu ketika ia dalam kegelisahannya akhirnya menyampaikan isi hati dengan jujur kepada suaminya: "karena saya sakit, kita terpaksa harus menjual rumah kita yaa!?" dengan cepat pask Soetijono, sang suami, menjawab: "oh tidak terpaksa, tidak begitu. Kamu salah memandang itu. kita mesti bersyukur bahwa kita mempunyai rumah dan pekarangan, sehingga ketika kamu sakit dan membutuhkan biaya yang sangat mahal, kita masih bisa menjual rumah dan pekarangan kita. Kalau kita tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai pekarangan, padahal kamu sakit, waduh lalu bagaimana? Jadi, kita mesti bersyukur, terimakasih Tuhan, sudah memberkati kami rumah dan pekarangan. Sekarang kita jual, untuk membiayai pengobatanmu. Iya, kita mesti begitu. Jangan malah berpikiran negatif."
"begitu pak pendeta. Jadi, kita ini mesti selalu bersyukur. Kami bersyukur, meskipun sakit dan butuh biaya sangat besar tetapi tidak terlalu merepotkan anak. Kami juga bersyukur meskipun rumah dan pekarangan itu sudah dibeli tetapi kami tetap boleh menempati sampai akhir hayat. Pokoknya harus tetap selalu bersyukur. Hati mesti tetap damai, seperti yang diajarkan pak itu….."
Ya,lihat wajah mereka yang sumringah, diwarnai senyum,meskiupn sedang tinggal di kamar pondokan seluas 3 kali 3 m, dengan beban berat yang sedang ditanggung karena sakit kanker
(tercekat di dada tangis haru tertahan, sehingga dada terasa sesak, karena mendengar kesaksian tentang syukur dari hati damai itu dari orang yang sedang menanggung beban sangat berat).

 


Ki Atma

Komentar