PENGHARAPAN

Kekuatan pengharapan itu memang hebat. Kemustahilan dapat diubah menjadi kenyataan karena kekuatan pengharapan. Siapa akan membantah premis ini. Pasti tidak ada.

Mbakyuku Susetyaningtyas adalah pembukti hal ini. Hampir semua saudara, anak, dll yang mengenal dia dan keluarganya, memberi kesaksian bahwa dia dan keluarganya termasuk orang yang "cilikan ati" artinya cenderung kurang kuat menahan beban hidup. Mudah pesimis, kurang memiliki daya tahan dan ke-optimis-an menghadapi persoalan. Akan tetapi sejak diketahui menderita kanker ganas di rahangnya, ia justru menunjukkan dan membuktikan sebagai orang yang memiliki pengharapan yang kuat, selalu riang, dan memiliki tekat sembuh yang sangat hebat. Memang pernah juga ia pagi-pagi sekali berteriak lewat sms "kula capek….kula lelah….tuluuuung" Teriakkannya itu karena ia terkena diare sehingga semalaman tidak tidur dan terus diganggu perut yang sakit. Namun secara keseluruhan ia sungguh-sungguh menanggung beban sakit dengan riang, selalu tersenyum, dan berpengharapan kuat. Setiap kali dikunjungi ia akan menghantar pulang orang yang mengunjunginya dengan ucapan terimakasih dan mengangkat kedua tangan tertekuk di samping pundak sambil berkata "saya makin semangat."  Saudara-saudaranya, demikian pula anak-anak, kemenakan, dll juga memberi kesaksian bahwa mbakyu Tyas memiliki semangat yang luar biasa. Semua heran dan sekaligus bangga.

Tentu saja peran suaminya, kakakku Soetijono sangat besar. Dia dampingi isterinya dengan kesabaran cintanya. Setiap pagi pkl. 04.00 sudah pergi ke rumah sakit untuk antri, agar pengobatan melalui penyinaran radio aktif untuk isterinya, mbakyuku itu, dapat giliran sepagi mungkin. Setelah meng-antri ia akan pulang-kembali ke tempat kost untuk tidur atau menyiapkan air hangat untuk mandi, menyiapkan makan dan kebutuhan lain untuk isterinya dan dirinya sendiri. Dukungan orang paling dekat, dalam kasus isteri dukungan suami, memang sangat besar perannya.

Mengubah hal yang mustahil menjadi kenyataan itu adalah mujizat, dan mujizat itu tidak harus berupa peristiwa yang terjadi tiba-tiba, mendadak dan tak terkira (Jawa: ujug-ujug, mak bendudug). Semangat yang membara, pengharapan yang kuat dan tekat yang menyala untuk sembuh dari sakit itu adalah mujizat juga.



Ki Atma

Komentar