MAKAN


 

Makan itu bisa dimaknai sekedar mengatasi rasa lapar. Makanan disuapkan ke mulut, dikunyah, lalu ditelan. Aktifitas mengatasi rasa lapar demikian ini bisa dilakukan sendirian atau bersama-sama.

Makan juga bisa dimaknai sebagai wujud hidup bersama. Konon, pernah ada seorang antropolog yang melakukan percobaan dengan anak-anak di Afrika. Ia menaruh keranjang berisi buah-buahan, lalu ia mengatakan kepada anak-anak itu bahwa barang siapa yang berlari mendahului yang lain dan mengambil keranjang itu, dialah yang berhak memiliki sekerangjang buah-buahan itu. Setelah ia memberi aba-aba untuk memulai perlombaan mendapatkan keranjang buah-buahan itu, anak-anak bukan berlari saling mendahului, melainkan bergandengan tangan dan berlari bersama. Mereka lalu makan buah-buahan itu bersama-sama. Ketika si antropolog bertanya mengapa mereka tidak saling mendahului untuk mendapatkan keranjang buah-buahan itu, mereka menjawab UBUNTU.  Secara sederhana ubuntu berarti saya ada karena kami.

Prinsip saya ada karena kami, itu sebenarnya juga dimiliki oleh suku-suku Nusantara, antara lain suku Jawa. Bagi orang Jawa, tetangga itu adalah saudara, meskipun tetangga itu tidak berasal dari keturunan yang sama, berbeda darah dan tulang. Istilah yang populer adalah "dudu sanak, dudu kadang (bukan sanak, bukan saudara)."  Sedangkan saudara seketurunan yang berada di tempat lain, terlebih yang tinggal di tempat jauh, itu telah menjadi orang lain. Buktinya, ketika seseorang sakit, saudara seketurunan tidak segera datang menolong, tetapi tetangga yang dekat rumah segera memberikan pertolongan bahkan pengurbanan. Karena saudara seketurunan itu telah menjadi orang lain maka ada tradisi untuk menjaga agar hubungan persaudaraan tidak putus, tetapi sedapat mungkin tetap terjaga. Acara pulang kampung untuk silaturahmi, dengan demikian menjadi sangat penting sekali. Inilah cara untuk "ngraketke balung pisah (menyambung erat tulang yang telah pisah)."

Berdasarkan prinsip saya dan tetangga itu satu, tidak bisa dipisahkan, maka tradisi kenduri dilakukan. Di hari-hari tertentu, seluruh tetangga diundang datang untuk makan bersama. Makan dengan demikian merupakan cara untuk berbagi makanan, yang sebenarnya adalah sumber hidup. Jadi, berbagi makanan itu bukan sekedar berbagi makanan, melainkan simbol dari berbagi hidup. Orang yang "dudu sanak, dudu kadang (bukan sanak, bukan saudara)" itu "nek mati melu kelangan (kalau sampai mati saya ikut merasa kehilangan)."  Di balik ungkapan ini terdapat semangat untuk saling membela, bahkan menumbuh-kembangkan hidup. Demikianlah, makan bersama bukan hanya makan dalam watku dan tempat yang bersamaan, tetapi  simbol membagikan hidup sendiri, sehingga semua hidup, dihidupi dan dihidupkan.

Bagi  mereka yang memiliki keyakinan ubuntu (Afrika), atau kebertetanggaan (Jawa) makanan adalah sarana untuk membangun persaudaraan, memelihara dan menumbuh-kembangkan hidup.


Komentar